Malam Tahun Baru
Di antara hitam dan putih
Yang kulihat
Di antara besar dan kecil
Yang menghimpit
Dan dalam setiap perjalananku malam ini
Tergambar bayangmu
Di antara gelap dan terang
Yang merubah dunia
Purwokerto, 01 Januari 2005.
Kado Kematian
kematianku adalah......
bukan sekedar kematian
bukan hanya terbangnya jiwa
bukan pula tertidurnya raga
tapi kematianku adalah......
hilangnya nafas
yang kau tiup penuh cinta
terhentinya jantung
yang kau tusuk harapan semu
hancurnya hati
yang kau remuk dengan rindu
juga musnahnya asa
yang kau beri tanpa rasa
dan kematianku adalah.....
sebuah kado istimewa
dariku
untukmu
di hari bahagiamu
Purwokerto, 10 Januari 2005
Bahagiamu
Di hari pernikahan seorang perempuan Ayu.
Di hari bahagia ini
Kupersembahkan untukmu
Sepotong hati yang rapuh
Setetes darah yang beku
Dan sebaris kata terakhir
“Semoga kau bahagia disisinya”
- maafkan sayang.....
bilaku tak hadir, di hari bahagiamu
karena bukan aku yang bersanding
disisimu.... -
Purwokerto, 22 Januari 2005.
Kembali
dalam gerimis
kujelajahi jalan berkelok
tanpa arah
tanpa rasa
hanya angin menemani dingin
tusuk hati yang beku
hingga aku sadar
aku harus kembali
ke tempat asalku
Purwokerto – Sampang, 28 Januari 2005.
Aku Sudah Gila
aku terperangkap
dalam kehidupan gila
yang penuh keindahan
yang penuh gelak tawa
meski hatiku luka
meski jiwaku kecewa
tapi aku…
tak lagi merasakannya
tak lagi meratapinya
karena aku sadar
aku sudah gila
tanpa rasa
tanpa cinta
tanpa jiwa
Purwokerto, 05 Pebruari 2005.
Dunia Gila
kita hidup di dunia gila
dunia yang panas
liar
kejam
tak bermoral
benar-benar gila
gila
gila
dan gila
tanpa cinta
tanpa kasih sayang
tanpa belas kasihan
namun ada keindahan
tersembunyi
di balik tirai kegilaan
yang gelap
Purwokerto, 07 Pebruari 2005.
Cahaya Keraguan
Teruntuk : Mey – Mey.
Kau pancarkan cahaya keraguan
Dari bola matamu yang bening
Merajam jiwaku sepi
Pada hening taman bunga
Saat melati kau taburkan
Di makam tak bernisan
Satu-persatu bungaku berguguran
Tersentuh kumbang tanpa tembang
Jatuh
Berserakan
Di antara puing-puing hati
Pada senja kehidupan
Berhias gerimis
Dari kelopak mata
Yang sempit
Kau pancarkan cahaya keraguan
Dari bola matamu yang bening
Beri aku keyakinan
Tuk melangkah dalam hening
Purwokerto, 09 Pebruari 2005.
Gerimis
dalam dinginnya malam-malamku
yang panjang
dan menakutkan
aku kehilangan mimpi
dalam setiap pengembaraanku
diantara kerasnya pagar kehidupan
pisahkan kau aku
pisahkan aku kau
hingga tak ada seberkas cahaya
tuk bisikan cinta
pada telinga batin
lepas rindu membatu
sebelum jiwaku membeku
dan gerimis sore ini
tak lagi hadirkan pelangi
untukku daki sampai ke puncak
sidratil muntaha
Purwokerto, 13 Pebruari 2005.
Saat Valentine Tiba
Hari ini.....
Ingin kuucap beribu kata cinta untukmu
Ingin kuungkap berjuta rasa sayang padamu
Tapi......
Aku bisu
Karena tak bisa berkata padamu
Aku buta
Karena tak lagi kulihat dirimu
Aku tuli
Karena tak lagi kudengar lembut suaramu
Dan aku pun mati
Tanpa pernah bersamamu
Purwokerto, 14 Pebruari 2005.
Ketika Jiwaku Merintih
dalam sakit aku berharap
sang malaikat maut datang
mencumbuku dalam dingin
membawaku terbang
menuju sidratil muntaha
dan mengajakku berkeliling
dalam taman firdaus
agar aku tak lagi menderita
(semoga dapat kutemukan
kedamaian abadi
meski kau tak lagi
bersamaku)
Purwokerto, 14 Pebruari 2005.
Saat Cinta Terlahir
Bangunkan aku sayang
Dari mimpi kehidupan
Sadarkan aku sayang
Dari khayalan tentangmu
Hancurkan aku sayang
Dari kebekuan jiwa tanpamu
Biarkan aku mengalir
Membasahi kelopak hatimu yang mekar
Menyejukkan jiwamu yang terbakar
Menghangatkan dirimu yang dingin
Dengan cinta yang terakhir
Yang tercipta hanya untukmu
Purwokerto, 17 Pebruari 2005
Temani Aku
Aku mulai merasakan
Dadaku semakin bergetar
Aliran darahku semakin membara
Dan jiwaku semakin gemetar
Ketika engkau hadir
Menghias setiap mimpi
Melahirkan sejuta khayal
Hingga aku harus berharap
Pada bintang yang bertebaran
Pada burung yang berterbangan
Pada bunga yang bermekaran
Agar engkau hadir
Disini
Disiku
Dengan cinta
Dengan kasih sayang
Tenangkan dadaku yang bergetar
Sejukkan darahku yang membara
Damaikan jiwaku yang gemetar
Aku mulai merasakan
Bahagia kan datang
Bila kau sudi menemani
Setiap langkah perjalananku
Sampai akhir kehidupan
Purwokerto, 17 Pebruari 2005.
Puisi Cinta
: Melanie
Kuselipkan sepotong cinta
Dalam puisi yang kucipta
Terlahir dari jiwa
Mengalir ke lubuk hati
Kikis bimbang yang merajam
Dalam temaram cahya keraguan
Terpancar dari mata yang sayu
Sebaris kata kuungkap
Segenggam rasa coba kurangkap
Bukan sekedar pelipur lara
Bukan pula kepalsuan
Tapi sebuah ketulusan
Dari nurani terdalam
Bungaku......
Jadikan aku tangkaimu
Biarkan aku menyejukkanmu
Dengan embun yang menetes
Dari daun yang bergoyang
Seirama angin yang menari
Ketika mentari menyinari
Penuh kehangatan
Penuh cinta
Penuh kasih
Kuselipkan sepotong cinta
Dalam puisi yang kucipta
Agar kau aku
Bersatu......
Purwokerto, 18 Pebruari 2005.
Kembali Untukmu
Memecah gerimis
Menembus kesunyian
Mengejar sang gadis
Menuai harapan
Jogja-Purwokerto, 20 Pebruari 2005.
Semburat Merah Jambu
Semburat merah jambu
Terpancar dari wajah rembulan
Tatkala sang surya tertunduk
Dalam relung masa silam
Aku mencoba meniti
Setapak perjalanan panjang
Sebelum tiba saat menanti
Di padang perhitungan
Semburat merah jambu
Terpancar dari wajah rembulan
Sejenak menerangi
Kelam yang mencekam
Kutasari, 20 Pebruari 2005.
Kala Gerimis Tiba
Kembali gerimis menghentikan langkahku
Memaksaku kembali pada masa lalu kelabu
Hingga aku tak lagi mampu
Berharap pada matahari
Yang tertutup mendung
Kurangkum sepiku
Pada serpih-serpih jiwa
Yang membelenggu
Dengan perih dan luka
Adakah sang mentari kan bersinar
Diantara keharuman bunga-bunga
Yang mulai mekar
Pada taman duka
Menghias sekelumit jiwa
Dalam luka
Purwokerto, 24 Pebruari 2005.
Selamat Ulang Tahun
Buat : De Setya
Tengah malam ini
Ingin kuucap sepatah kata untukmu
“Met Ulang Tahun”
Semoga kau bahagia
Selamanya
Purwokerto, 24 Pebruari 2005.
Hujan Sore Hari
Hujan yang terjatuh dari langit
Sore ini....
Menemani langkahku
Dalam bimbang
Tanpa teman
Hanya sebatang rokok terakhir
Yang kubakar nyala hati
Tapi....
Jiwaku hanya bara
Hampir padam
Diterpa gerimis yang menari
Pada setiap sepiku
Hujan yang terjatuh dari langit
Sore ini....
Memaksaku kembali
Pada rumah yang kutinggalkan
Sampang, 27 Pebruari 2005.
Rindu
Aku rindu......
Tapi aku tak mampu
Menyebut namamu
Meski hanya satu
Purwokerto, 02 Maret 2005.
Aku Tak Mengerti
Aku tak mengerti
Dan tak pernah mengerti
Mengapa.....
Kau selalu hadir
Dalam setiap mimpiku
Kau selalu membayangi
Setiap langkah perjalananku
Sedang kau tercipta
Bukan untukku.....
Buntu – Semarang – Magelang,
5-6 Maret 2005.
Saat Gerimis Menangis
Tak ada lagi yang bisa terucap
Saat gerimis menangis
Pilu.........
.............
Purwokerto, 07 Maret 2005.
Pada Sepertiga Malam
saat sunyi mengiris hatiku
saat sepi mengikis jiwaku
aku berharap
pada mendung yang meneteskan hujan
pada malam yang menjemput senja
agar kau hadir
menemani 1/3 malam terakhirku
dan aku akan bahagia
selamanya
Purwokerto, 15 Maret 2005.
Tersesat
Di jalan ini
Aku melangkah mengikuti angin
Tanpa arah
Melayang hingga ke ufuk
Menari bersama mega
Berwarna jingga
Hingga tersesat
Pada sepenggal kisah
Tentang cinta
Yang membeku
Purwokerto, 20 Maret 2005.
Suara Hati
I.
Dalam setiap kelam malam yang mencekam
Ingin kuteriakan namamu “tuhan kecilku”
Meski hanya angin yang mendengar
Meski hanya bintang yang jadi saksi
Aku tak perduli...
II.
Aku ingin terbang...
Menggapai bintang dilangit
Tinggalkan bumi sunyi sepi sendiri
Dan tak akan kembali
Meski cintamu
Memanggil...
III.
Cinta itu....
Seperti jalan kehidupan
Dia tak pernah perduli akan pengorbanan
Bahkan kematian
Jika aku tidak percaya keabadian cinta
Untuk apa kunyatakan cinta?!!
Purwokerto, 2005.
Dian Dalam Gelap
api yang dulu pernah
kau padamkan
kini bangkit
membakar
sumbu hati nurani
menjadi
dian
setia
terangi gelapku
karena baranya
tetap panas
bersemayam
dalam jiwa
Purwokerto, 15 April 2005.
Airmata, Sawah dan Ladang
seorang kawan
membawa kita berkeliling
lewati pematang dan tepian sungai
yang tak lagi jernih
dikotori dosa dan kemunafikkan
sedang kita
sama termangu
terdiam
bertarung
melawan hati nurani
yang dulu pernah
tergores
kenangan bisu
antara kau aku
pecahkan harapan biru
mengharu
kalbu
seorang kawan
membawa kita berkeliling
tapi, tiba-tiba
airmata mengaliri
sawah dan ladang
yang tak jua tumbuhkan
harapan
Kebumen, 16 April 2005.
Pencarian Jiwa
kucoba lagi tuk melangkah
menyusuri senja pantai ini
mencari pelabuhan
tuk tambatkan seutas tali
titian jiwa
meski angin kaburkan langkah
meski badai terbangkan harapan
tapi aku kan terus mencari
coba nyalakan api yang pernah padam
pada sepenggal hati yang terberai
harapan biru di kampus biru
hingga dian tak lagi mampu
terangi gelapku
sunyi
sepi
sendiri
dan perjalananku kali ini
adalah sebuah pencarian
tak berakhir
Bocor, Kebumen, 16 April 2005.
Di Pantai Sunyi
di pantai sunyi ini
coba kurenungkan kembali hidup
yang terbelenggu
harapan biru
yang luruh diterpa angan
dan aku hanya terdiam
terus terdiam
tapi, semakin aku diam
semakin keras gelombang itu menerjang dinding bathin
seperti badai yang menghantam
dan terus menghantam
karang hati nurani
yang dingin
mengelam
membeku
meski kucoba nyalakan kembali
pijar bara yang membiru
pada sepertiga malam terakhir
tapi
tak jua hangatkan jiwaku
yang mulai kaku
dan membatu
Petanahan, 17 April 2005.
Wahai Cinta
Kucoba padamkan apimu
Wahai cinta
Karena kau hanya membakar jiwaku
Meluluhkan perasaanku
Dan yang kuingin adalah air
Dari bumi yang sejuk
Meski aku harus tenggelam
Menyatu dalam bumi
Purwokerto, 03 Mei 2005.
Balada Tekek
(bagian pertama)
I.
seekor tekek
terkapar ditengah malam
terbakar nyala senthir
yang jadi rebutan
para binatang
di rumah arjuna
II.
sang tekek terjatuh
dalam gelap tanpa senthir
karena terpeleset
tembok usang penuh lumut
bernama cinta angkara murka
III.
ada juga seekor tekek
jatuh ke dalam kolam arwana
tapi dia malah tertawa
saat tekek yang lain
menangis tersedu-sedu
IV.
para tekek berkumpul
adakan rapat dengar pendapat
soal tekek
yang makan tekek
jadi kanibal pada sesama
tapi rapat pun bubar
saat senthir mati
kehabisan airmata
V.
adalagi kisah tekek
yang jadi impian seorang putri
penguasa candi maya
dan sang tekek terlupa
bahwa dia tetap tekek
penghuni rumah
sang arjuna
bukan pemilik
kebun pepaya
VI.
pada satu malam
seekor tekek bercerita
tentang perjalanan cintanya
yang kandas terbentur beton
dinding purba bernama weton
dan sang tekek pun
patah hati
VII.
satu tekek berlari sampai ke slawi
di subuh hari
mencari senthir pembawa wahyu
meski tubuhnya lemah
berbelang-belang bekas kerokan
tapi, demi rindu
ia tak perduli
VIII.
dan nyala senthir ditembok
rumah arjuna mulai redup
tersiram airmata dan darah
seekor tekek yang tak berdaya
ditusuk kawannya dari belakang
dengan belati bernama cinta
sebuah pengkhianatan?!
ataukah pengorbanan?!
dengan mengorbankan sesamanya?!
atas nama cinta?!!
para tekek pun bersedih
seekor kawannya mati
ditusuk kawannya dari belakang
tapi, ada seekor yang tertawa
dialah sang PENGKHIANAT!!!
Purwokerto, 04 Mei 2005.
Balada Tekek
(bagian kedua)
I.
ada satu kisah
tentang kehidupan para tekek
di rumah arjuna
penuh canda
penuh tawa
semua tersenyum
ada suka
ada duka
hanya cinta
hanya rindu
tanpa dendam
tanpa benci
tapi, kisah itu kini ternoda
oleh satu kata
bernama pengkhianatan
II.
kini sang tekek sendirian
berjalan merangkaki dinding gelap kehidupan
karena nyala senthir yang jadi panutan
telah padam
tersiram airmatanya
hingga ia pun terjatuh
pada lubang gelap kehidupan
tanpa seberkas cahya
`tuk menuntun langkahnya
III.
hujan kembali menyiram bumi
tapi yang jatuh....
bukan sekedar tetes air dari langit
tapi airmata yang mengalir
bercampur darah dari serpihan hati
yang dikoyak belati bernama cinta
hingga alam menjadi merah
membara
penuh api
bernama dendam
IV.
tiada angin yang dapat
menyampaikan jeritan hati
seekor tekek yang terluka
ditusuk kawannya sendiri
kala senthir kembali menyala
terangi jiwanya yang gelap
pada sepertiga langkah kaki
yang belum mencapai
kebahagiaan
V.
seekor tekek muncul dari balik pintu
memohon maaf
atas pengkhianatannya
pada kawannya
tapi terlambat
airmata terlanjur mengalir
darah terlanjur menetes
dan dendam terlanjur terbakar
sedang kawannya
kini terkapar
menanti ajal
VI.
dalam kematian
seekor tekek bertanya pada tuhannya
“tuhan, mengapa aku kau cipta demikian sendiri dan menyedihkan?!”
“mengapa aku harus menjalani seribu siksaan cinta seperti chi pat kay?!”
“mengapa kawanku tega mengkhianatiku demi sebuah senthir?!”
“mengapa kau juga tega membiarkan umatmu menderita?!”
dan sang tuhan pun terdiam
karena dia salah menggoreskan tinta
pada kisah perjalanan hidup
seekor tekek yang telah mati
bunuh diri
Purwokerto, 05 Mei 2005.
Cinta Adalah
cinta adalah
bintang gemerlap
berwarna-warni penuh gejolak
menghias keindahan malam
terangi kegelapan semesta raya
tapi,
betapa jauhnya
hingga aku tak pernah mampu
menggapainya
Purwokerto, 10 Mei 2005.
Rumah Sang Arjuna
(balada tekek extended)
rumah yang dulu penuh cerita dan gelak tawa
kini sepi dan gelap tanpa senthir
karena api yang pernah menyalakannya
padam
diterpa badai pengkhianatan
seekor tekek penghuninya
menerjang atas nama cinta
menghancurkan mimpi dan harapan
hingga tak ada lagi cerita
yang bisa dikisahkan
oleh para tekek penghuninya
semua beku
terdiam
dalam kebisuan malam
bergelut dengan kesunyian masing-masing
tanpa jemu
tanpa ragu
mencoba memungut serpih-serpih jiwa
yang hancur
lebur
jadikan hidup yang tak berarti
semakin tak berarti
karena tak ada lagi nyala senthir
tuk menuntun langkah yang terseok
menapaki jalanan hidup yang gelap
sisakan api dendam yang tersisa
membakar rumah sang arjuna
merubahnya menjadi neraka
persahabatan
Purwokerto, 15 Mei 2005.
Sebatang Rokok
sebatang rokok yang kuhisap
adalah ketenangan dalam damai
bersama secangkir kopi pahit
bersanding koran pagi
dan berita televisi
tapi,
kini
sebatang rokok yang kuhisap
adalah keresahan
adalah kegelisahan
dengan apinya yang semakin redup
di hempas badai kehidupan
hingga djarum-nya yang super
tak lagi menjahit serpih-serpih luka jiwaku
tapi menusuk-nusuk sukma
menggores kenangan pilu
tentang seorang perempuan
berkerudung biru
di kampus biru
Purwokerto, 17 Mei 2005.
Tak Sepadan
ingin....
kuberikan maafku untukmu
sobat....
tapi bumi manusiaku
terlanjur luka dan berdarah....
di hempas kontradiksi dan diferensiasi realitas jaman
yang semakin kalut dan kalang kabut
yang tak pernah memberiku kesempatan
untuk memilih dan menolak
menolak dan memilih
tapi,
kini aku sadar
telah tiba saatnya
untuk memilih dan menentukan
siapa kawan
siapa lawan
sebab,
kata maaf
tak akan pernah sepadan
dengan airmata dan darah
yang pernah tercurah
membasahi bumi manusiaku
yang kering....
Purwokerto, 18 Mei 2005.
Malam Ini
: Adhe
keluar dan tatap langit malam ini
lihat rembulan tersenyum
di sana akan kau temukan sketsa wajahmu
bersinar penuh harapan
terangi gelap jiwa
yang gelisah
pada sepertiga malam terakhir
menanti kau hadir
temani sunyiku
keluar dan tatap langit malam ini
lihat bintang gemerlap
di sana akan kau temukan goresan namamu
terhampar penuhi cakrawala
ku ukir penuh rasa
dengan tetes tinta terakhir
dalam sepiku
keluar dan tatap langit malam ini
semoga kau rasa
yang kurasa
malam ini
Purwokerto, 21 Mei 2005.
Seorang Kawan dan Cinta Sejatinya
seorang kawan
menelponku malam ini
dia bertanya dalam ragu
“mengapa cinta sejati selalu bertepuk sebelah tangan?!”
aku terdiam
tak mengerti arti ucapannya
belum sempat kujawab
dia menterorku
“benarkah cinta sejati itu ada?!”
aku semakin terdiam
dalam kalut ditengah kabut
yang mulai memeluk
aku bisu
kucoba renungkan
arti sepenggal kisah tentang cinta
yang pernah kulalui
kutekan sederet angka
terdengar suara seorang kawan
“sudahkah kau temukan jawabnya?!”
kujawab singkat
“belum, tapi aku mulai mengerti,
cinta sejati adalah pengorbanan,
tak berharap tuk bersatu,
hanya kematian yang bisa menyatukan,
dan mengabadikannya”
kawanku terdiam
perlahan kudengar isaknya
dia teringat kekasihnya yang telah pergi
`tuk selamanya
seorang kawan
menelponku malam ini
dia berkata penuh asa
“aku akan menyusul kekasihku,
semoga kutemukan cinta sejati,
disana......”
aku termangu
menenggelamkan diri dalam kenangan
tentang seorang kawan
yang menelponku
malam ini
Purwokerto, 26 Mei 2005.
Lepas
ada yang lepas
sebelum sempat kukupas
sepotong sajak terampas
sembilu cinta datang menghempas
kucoba berdiri
tertatih
melawan perih
meski kasih
tak lagi memilih
Rumahku, 31 Mei 2005.
Bayangmu
: Melanie
bayangmu kembali melebur
dalam hujan yang tercurah
malam ini
membuatku semakin kedinginan
pada sepi tanpamu
wahai kekasih
kureguk sekali lagi
secangkir vodka yang tersisa
agar kurasakan hangatnya
melawan bayangmu
tapi,
wajahmu lebih memabukkanku
wahai kekasih
seperti asap cimeng yang kuhisap
mengepulkan cinta dari jiwa
menyepikan jiwa dari cinta
dan bayangmu kembali melebur
dalam setiap kemabukkanku
tentangmu
Kalipagu, 25 – 26 Juni 2005
Tanyaku
: Perempuanku
dalam ragu
bimbang lahirkan tanya
“apakah aku mencintaimu?”
“benarkah aku menyayangimu?”
sedang aku tak pernah tahu
dimana dirimu
saat ini
Purwokerto, 10 Juli 2005.
Melanie
aku melihat
seberkas cahaya
menyilaukan jiwaku
dalam binar matamu
aku mencium
keharuman terpancar
memabukkan kalbuku
dalam desah nafasmu
aku terpukau
pada setiap baris kata
yang kau ucap
penuh ragu
aku tersesat
dalam rimba kata
tentangmu
pijarkan bara
yang padam
saat kau ayun langkah
tinggalkan
kenangan bisu
tentang cinta
yang tak pernah
terucap untukmu
Purwokerto, 20 Juli 2005.
Di Makammu Kami Menangis
: Sumarsih.
Baru tiga hari yang lalu
Kujenguk kau di rumah sakit
Dan senyummu masih mekar
Membakar semangatmu untuk bangkit
Melawan sakit yang mendera
Kau ceritakan dukamu
Kau tebarkan harapanmu
Tentang esok
Sembari diselingi kisah
Masa lalu yang indah
Tak terlupa
Tapi pagi ini
Mendung memayungi bumi
Saat terdengar kabar
Kau telah tiada
Tinggalkan kami yang termangu
Memaksa kami `tuk mengenang kembali
Berjuta kisah
Di kampus biru
Tentangmu
Bersamamu
Dalam suka
Dalam duka
Goreskan tinta emas
Pada selembar kisah
Hidup kami
Yang menyayangimu
Yang mencintaimu
Dan malam ini
Kuharap kau masih tersenyum
Saat purnama bersinar
Menerangi taman kamboja
Tempat kau tertidur
Menggapai mimpi
Di bawah nisan
Yang bertuliskan
Namamu
Baru tiga hari yang lalu
Kujenguk kau di rumah sakit
Dan sore ini
Dimakammu kami menangis
(Selamat Jalan Kawan......
Semoga Kau Temukan Bahagiamu
Disana..........)
Cilacap, 21 Juli 2005.
Selamat Pagi Kawan
selamat pagi kawan...
sudah hampir dua setengah tahun
kita tak pernah bertemu
ada banyak kisah yang terjadi
yang ingin kuceritakan padamu
tapi sayang,
bukan sebuah kebahagiaan
hanya duka kawan...
dan aku mohon
maafkan jikaku telah melukai
perasaanmu
Purwokerto, 29 Juli 2005.
Semakin
semakin lama kita tak bertemu
semakin jauh kau meninggalkanku
maka,
semakin aku sadar, aku membutuhkanmu
semakin dalam kerinduanku padamu
tapi,
apakah kau juga merasakannya?!
aku yakin tidak!!
karena jilbabmu telah menutupi
mata dan telinga
bathinmu
Purwokerto, 29 Juli 2005.
Tak Akan Kutulis Puisi Untukmu
(Melanie bagian ke-2)
dan tak akan kutuliskan lagi
puisi untukmu
meski ingin kuterbangkan asa dan rasa
lewat kepak sayap sajak yang senyap
berharap kau kan menangkapnya
untuk kau piara dalam sangkar bening nuranimu
sementara disini
aku masih menggapai-gapai
meneriakkan namamu
meneriakkan namamu
meneriakkan namamu
kekasih
di pantai cintamu yang putih
dan aku masih tetap
tak mampu
menyentuh sedikit asa dan rasamu
sedang yang lain
telah jauh memasuki pedalaman hatimu
mendaki bukit-bukit cintamu
menuruni lembah-lembah jiwamu
dan sang angin
masih setia membelai-belai
ilalang lembut yang menjadi hiasannya
bersama kehangatan mentari
yang mulai meninggi
dan tak akan kutuliskan lagi
puisi untukmu
karena bungaku
telah gugur dirampas waktu
Purwokerto, 25 Agustus 2005.
Mencari Jejak Cinta Yang Hilang
Pada suatu ketika
Saat kelam mencekam malam
Dan giris gerimis menangis pilu
Setetes airmata terjatuh
Membasahi seraut wajah penuh luka
Goresan panah asmara yang pernah membara
Mengikis selembar kulit cinta terakhir
Terlahir dari endapan duka masa lalu
Seiring perjalanan abadi sang waktu
Yang tak akan kembali
Hentikan sebuah harapan biru
Pada perempuan bermata ragu
Memaksa sandarkan asa dan rasa
Di jalanan nasib berarah takdir
Tuk mencari jejak cinta yang hilang
Seiring lantunan sajak-sajak gundah
Yang tak lagi berkumandang
Terampas keserakahan, nafsu dan kemunafikkan
Terhempas gelombang badai kehidupan
Terhapus racun yang tercipta
Tinggalkan sebait kenangan pilu
Tentang perempuan bermata ragu
Dan setapak demi setapak
Kulangkahkan kaki penuh ragu
Memulai sebuah perjalanan baru
Mencari jejak cinta yang hilang
Tapi,
Darimana aku harus memulai
Kemana arah harus kutuju
Sedang asa dan rasaku
Mulai membeku dan membatu
Tak tersentuh panas api asmaramu
Yang kuharap sepenuh jiwa
Tuk hangatkan asa dan rasaku
Yang membeku dan membatu
Dan perjalanan panjangku ini
Tak pasti berakhir
Karena tak kutemukan
Senandung kasih asmaramu
Yang hilang,
Dan aku akan tetap
Mencari jejak cinta yang hilang
Purwokerto, 13 – 19 September 2005.
Cinta
Dan…
Tak ada lagi kata yang terucap
Untukmu…
Tak ada lagi asa yang kuharap
Darimu…
Tak ada lagi rasa yang kuberi
Padamu…
Selain satu yang pasti
Cinta…
Purwokerto, 25 Oktober 2005.
Selamat Pagi Kawan 2
Selamat pagi,
Kawan.....
Semalam aku begitu dekat
Dengan-Mu
Tapi pagi ini aku
Kecewa....
Karena kau hadir hanya
Mimpi....
Namun, setidaknya
Engkau masih ada
Di jiwaku......
Purwokerto, 11 Desember 2005.
Hujan
Hujan....
Masih saja terus menetes dari langit-langit jiwaku yang gersang dan gelap
Segelap masa yang pernah kulewati tanpamu
Dalam kelam
Dalam remuk redam
Tolong aku,
Kawan...
Purwokerto, 19 Desember 2005.
Pengorbanan
(SMS untuk Adhe)
Kawan...
Setelah aku melewati sebuah perenungan yang panjang dan sangat melelahkan
Akhirnya kutemukan jawaban atas pertanyaan hidupku
Sebuah jawaban yang ingin kukabarkan padamu
Tapi sayang....
160 huruf tak pernah mampu mengatakannya
Dan hari ini Kawan....
Aku merasa bahagia sekali
Sebuah kata yang bisa menjawab ribuan pertanyaan hidupku telah kutemukan
Sebuah kata yang bersembunyi di balik tirai hidupku
Dan bersemayam di bawah setiap jejak langkah kakiku
Yang kulewatkan tanpamu, Kawan...
Dan semoga,
Kebahagian ini tak pernah berakhir
Meski sang surya
Tak lagi bersinar
Banyumas, 20 – 22 Desember 2005.