Harapan
Bintang bisa saja jatuh
Bulan bisa saja tenggelam
Dan………
Sang waktu bisa saja terlambat
Namun harapan
Takkan pernah hilang
Lenyap
Musnah
Hingga nafas terakhir
Pondok Bambu, 26 Mei 2002.
Yang Teragung
Yang teragung………
Gantikanlah yang hilang
Tumbuhkanlah yang tlah patah
Meskipun………
Tidak sama dengan dirinya
Pasrahkan aku dengan takdirmu
Sebab yang kau tentukan
Pasti yang terbaik untukku
Kaulah yang maha mengetahui
Yang terindah untukku
Pondok Bambu, 26 Mei 2002.
Bayangmu
Saat angin berhembus
Saat purnama bersinar
Terlintas bayangmu
Hentikan langkahku
Putuskan nafasku
Saat kabut berlalu
Saat mentari tersenyum
Bayangmu tlah pergi
Tinggalkan diriku
Yang termangu dalam kesunyian
Bersama sejuta kenangan
Tentang dirimu
Pondok Bambu, 26-27 Mei 2002.
Fuck The World
(Aku Tak Peduli)
Aku tak peduli
Indahnya cahya bintang dan temaramnya purnama
Aku tak perduli
Syahdunya nyanyian gerimis malam hari
Aku tak peduli
Kicauan burung dikala fajar
Aku akan tetap tak peduli
Apa yang kulihat, kudengar, kurasa
Walaupun………
Ada madu dilidahku
Ada duri di tanganku
Ada dewi dimataku
Dan aku semakin tak perduli
Akan panasnya dunia
Yang penuh dengan perang dan isak tangis
Yang penuh dengan dendam dan kemunafikkan
Dimanakah cinta??
Dimanakah kasih sayang??
Sehingga mereka tega mengorbankan orang lain??
Fuck The World !!!
(Dan sampai saat inipun,
aku masih tetap tak peduli)
Pondok Bambu, 28 Mei 2002.
Mawarku
Teruntuk : Ayu.
Mawarku…………
Tumbuh dalam taman impian
Mekar diantara angan dan kenyataan
Mengakar jauh dilubuk hati
Mawarku…………
Walau durimu menusuk kalbu
Takkan pernah aku gantikan
Keindahan dan pesonamu
Meski aku tergoda
Putihnya melati dan indahnya sakura
Semuanya tak berarti
Mawarku…………
Ketika dewi malapetaka
Menabur badai dalam tamanku
Menghancurkan segala keindahan
Kau tetap bertahan
Memberiku arti kehidupan
Mawarku…………
Walau aku berada dalam taman kamboja
Aku kan tetap tersenyum
Karna kau slalu hadir
Menghias pusaraku
Selamanya………
Pondok Bambu, 30 Mei 2002.
Pengorbanan
Bila malam hadirkan bayangmu
Bila tidur impikan dirimu
Tersenyumlah
Tertawalah
Pada dunia yang hadirkan kedamaian
Pada alam yamg tumbuhkan keindahan
Pada hati yang lahirkan cinta dan kasih sayang
Bila mentari membakar hatimu
Bila angin kaburkan langkahmu
Bertahanlah
Berjuanglah
Ikutilah kata hatimu
Jangan terbuai oleh khayalan
Jangan terbelenggu oleh kenyataan
Karena dalam hidup
Kita butuh pengorbanan
Pondok Bambu, 30 Mei 2002.
Kehancuran
Ketika cinta menjadi benci
Ketika rindu menjadi dendam
Ketika kasih sayang menjadi angkara murka
Maka…………
Hancurlah dunia
Hancurlah alam semesta
Tiada yang dapat menghentikannya
Tiada yang dapat menahannya
Hanya kau………
Dengan cintamu
Dengan kasih sayangmu
Wujudkan kedamaian
Dalam diri yang kering
Dalam jiwa yang rapuh
Terbakar api
Yang kau nyalakan
Di waktu pagi
Randegan, 11 Juni 2002.
Lelah
Ketika fajar tiba
Ketika burung bernyanyi
Aku terjaga dari mimpi
Dan menangis
Saat malam datang
Saat kabut mulai turun
Saat itulah kau datang
Membawa sejuta mimpi dan kenangan
Ayu……
Aku ingin tidur dalam kedamaian
Aku ingin istirahat dengan senyuman
Aku ingin mimpikan kau selamanya
Tanpa pernah terjaga
Oleh pagi dan mentari
Yang panas dan menyakitkan
Randegan, 05 Agustus 2002.
Yang Terbaik
Dalam duka
Kau menghiburku
Dalam suka
Kau tinggalkan aku
Dalam putus asa
Kau beri aku semangat
Dalam bahagia
Kau pergi entah kemana
Andai aku bisa memilih
Yang terbaik
Untukku dan untukmu
Maka aku harus berpikir dan merenung
Mana yang terbaik
Untukku dan untukmu
Hidup sengsara atau mati penasaran
Randegan, 05 Agustus 2002.
Bumiku
Di darat kutemukan darah
Di lembah kutemukan rintihan
Di hutan kutemukan jeritan
Di puncak kutemukan teriakan-teriakan
Di laut kutemukan gemuruhnya anak manusia
Itulah hidup
Di bumi yang tua dan kering
Yang penuh desingan peluru
Mengiring tajamnya sembilu
Membeku darah
Menggigil hawa
Menusuk urat nadi
Doa berserut
Porak poranda
Purwokerto, 20 September 2002.
Pada Setiap Pagi
In memoriam “RUDEX 97”
Pada setiap pagi
Dalam bis yang membawaku melanglang
Kutatap seraut wajah berseri
Dengan sinar mata di balik kacamata
Serta senyum yang tak pernah lepas
Dari bibir yang ranum
Pada setiap pagi
Kutunggu dirimu
Gadis manis berkacamata
Dimanakah engkau pagi ini
Aku rindu senyumanmu
Aku rindu tatapanmu
Gadis manis dalam bis
Kutunggu dirimu
Pada setiap pagi
Dukuh Waluh, 14 Oktober 2002.
Bom
Disini bom
Disana bom
Dimana-mana bom
Meledak!!!
Booooooooooooooommmmmmmmmm
Hancur
Lebur
Luluh
Lantak
Rusak
Binasa
Musnah
Karna bom
Selalu bom
Hanya bom
Bom dan bom
Randegan, 22 Oktober 2002.
Dalam Kegelapan Kamar
Dalam kegelapan kamar
Kutatap langit
Kutatap bintang
Kutatap rembulan
Dari celah genteng yang retak
Mengapa aku selalu resah??
Mengapa aku selalu gelisah??
Karna tanya yang tak terjawab
Yang slalu hadir
Saat sendiri
Kamarku, 22 Oktober 2002.
Dimanakah Dian??
Dalam kelam
Pada setiap malam
Kusendiri dan terpaku
Tersenyum, tertawa
Melamun lalu menangis
Apa yang harus aku lakukan??
Tidur dan hanya bisa bermimpi??
Tidak!!!
Tidak dan tidak akan pernah lagi
Aku terbuai oleh impian
Terhanyut oleh khayalan
Aku harus bangkit!!!
Berusaha dan terus berjuang
Namun………….
Dimanakah Dian??
Tanpanya……….
Dimana harus kunyalakan
Api kehidupan
Yang tinggal bara
Dalam sengsara
Istanaku, 01 November 2002.
Penderitaan
Buat : Tetanggaku
Seorang lelaki duduk terpaku
Dengan tatapan sendu
Pada mata yang sayu
Seperti rembulan layu
Berdoa, berdoa dan terus berdoa
Karna hanya bisa berdoa
Sampai nafas tinggalkan dada
Berharap pergi dari kursi roda
Seorang lelaki duduk di beranda
Hanya mengharap satu keranda
Tuk mengantar sampai ke sorga
Agar tak repotkan keluarga
Randegan, dalam gerimis.
01 November 2002.
Mengapa??
Kududuk sendiri pada batu yang sepi
Berteman angin dan gemericik air
Melamun, merenung, dan terus berpikir
Kapan dan bagaimana dunia ini berakhir
Mengapa….???
Tuhan ciptakan keindahan ini
Alam raya dan seisi bumi
Bila semua kan hancur lebur
Bila semua kan jadi debu
Karna kiamat yang keramat
Atau oleh dendam kesumat
Kali Pangkon, Sumbang.
04 November 2002.
Melati Putih
Buat : De Setya
Dalam lebatnya kebon bawang
Kutemukan sekuntum melati
Mekar merekah dalam imaji
Berdiri tegak tebarkan pesona
Di antara pilar-pilar Tuhan
Terselip tumpukan tebu
Di atas rel dalam lori-lori
Melatiku…….
Ijinkan aku `tuk memetikmu
Agar diri tak lagi resah
Karena cinta yang gelisah
Melatiku……..
Kau kan slalu abadi
Tersimpan rapi dalam hati
Sampai nafas terhenti
Hingga waktu buatku mati
Jatibarang, Brebes.
6-7 November 2002.
Jiwaku Hilang
Jiwaku hilang
Di padang ilalang yang gersang
Menatap burung termenung murung
Dalam sangkar kekar yang terbakar
Oleh dendam yang mengakar
Aku pasrahkan resahku pada gelisah
Mengharap nasib `kan berubah
Seperti pohon mati rindukan buah
Mungkinkah ??
Entah………..
Tanah kelahiran,
20 November 2002.
Kata Itu Telah Hilang
Buat : Kang Achid
(Abdul Wachid BS.)
Saat kuterhanyut
Arus sungai airmata
Kau beri aku makna derita
Tapi……….
Kau tenggelamkan aku
Dalam lautan kata
Tanpa tepi untukku mengerti
Kucari satu kata di laut itu
Tak pernah kutemukan
Satu kata yang penuh makna
Yang dulu pernah kau janjikan
Sampai diri terkubur sepi
Di bawah nisan tanpa kata
Rumahku, 24 November 2002.
Putus Asa
Dalam kelam malam yang mencekam
Kereguk alkohol berbotol-botol
Buat diriku semakin tolol
Karna rindu yang menyesak
Jiwaku semakin berkarat
Karna cinta yang kau gurat
Serta takdir yang tersurat
Jauhkan aku dari doa ayat-ayat
Lupa diri saat sekarat
Dimanakah pelita itu
Yang terangi langkahku
Dalam kegelapan hidup
Dengan cahya cinta
Seorang kekasih
Randegan, 24 November 2002.
Tawa Untuk Kecewa
Bila hati yang kemarau dibasahi airmata
Bila jiwa yang parau tak mampu berkata
Maka tertawalah
Lupakan sgala kecewa
Meski hidup harus meratap
Karna mata tak lagi menatap
Desaku, 24 November 2002.
Maafmu
Angin pun berlarian
Di antara pilar-pilar gerimis
Saat kau ucapkan maafmu
Untukku
Hidupku seperti mendung bergayut airmata
Berat tapi tak pernah hujan
Kurenungkan kembali
Arti maaf darimu
Ketika kesendirian
Melengkapi deritaku
Sampang, 08 Desember 2002.
Gerimis
Gerimis pagi ini
mematikan langkah kehidupanku
karna kabut slalu menutupi
semua arah jalan hidupku
Dalam gerimis, 27 Desember 2002
Perangku Sendiri
Aku tak bisa lari dari perang
yang berkecamuk dalam diriku
antara angan dan kenyataan
siapa yang kan menang?
Aku bersembunyi di balik selimut
mencoba mimpikan kedamaian
di antara desingan peluru-peluru kehidupan
yang ditembakkan dari masa lalu
dan menghancurkan masa depan
Rumahku, 27 Desember 2002.
Sukmaku
Sorot matamu yang tajam
membunuhku di kelam malam
senyum manismu yang merekah
gugurkan bunga di taman kamboja
aku terjatuh
dalam jurang tanpa batas
yang terbangkan sukmaku
melayang jauh tinggalkan angan
hingga petang menjemput malam
- Dimanakah sukmaku?
tanya tubuhku –
Akankah sukma kan kembali kepada jasad?
setelah lama mencari damai
di antara perang dan berkecamuknya dunia
karna cinta tak lagi berarti
Kamarku, dalam sendiri
27 Desember 2002.
Pelita Hidup
Ketika sorot matamu
Mendobrak pintu hatiku yang beku
Aku termangu
- kaukah malaikat itu? -
Aku terbangun
Dari mimpi bertahun-tahun
Dalam tidur yang tak lelap
Pada hidup yang gelap
- datang dan bahagiakan aku -
Kutemukan kembali arti hidup
Kudapatkan lagi jalan terang
Bila kau beri aku makna
Jadikan engkau pelita hidup
- kaukah pelita hidupku??
yang terangi setiap langkahku –
Purwokerto, akhir 2002.