Wajah Kekasih
Aku tergetar
terkapar
ketika kulihat wajahmu
kekasih….
pada wajah perempuanku
Dan…
aku tertunduk
bersujud
ketika kulihat kembali
wajahmu kekasih
pada wajah perempuanku
seraya mengucap
“Laa Illa Ha Ilallah…..”
Banyumas, 2004.
Hadirmu
Engkau hadir saat kutermangu
Menatap getir kehidupan
Dengan senyuman
Kau bawa aku kembali
Pada harapan
Akan keindahan
Meski aku tlah lama
“berhenti berharap”
Randegan, 01 Januari 2004.
Sendiri
Aku terkapar
pada malam tanpa arah
ketika kau tampar
hatiku dengan resah
yang terpancar
dari wajah tanpa dosa
hadirkan gelisah
saat aku kembali
Sendiri…
Purwokerto, 04 Januari 2004.
Harapan Biru
Teruntuk Yyn`k.
rindu yang kusimpan
akankah menjadi kenyataan
terwujud dalam keabadian
indahkan hari-hariku
hapuskan airmata yang tersimpan
lembut hatimu
ingin kupeluk dalam keraguan
agar aku kembali tersenyum
putihnya cinta
untukmu kuserahkan
sepenuh hati
percikan air kedamaian
agar kau aku bersatu
nyanyikan kisah lama
impian yang terpendam
nikmati bahagia
gugurkan segala luka
resapkan duka
untuk satu harapan
menuju keabadian
Purwokerto, 06 Januari 2004.
Sebait Kisah Duka
ada sebait kisah
nyanyian asmara
antara dua hati
nantikan keabadian
dalam kesunyian
agar tak lagi terpisah
kepingan cinta itu
obati segala resah
setiap hati
tanpa senyum terpancar
Purwokerto, 06 Januari 2004.
Kugantung Harapanku
dari balik jemuran yang tergantung
aku menatap sesosok keindahan
terpancar dari senyuman
abadikan sebuah kisah
yang lama terpendam
adakah keindahan itu
akan terwujud
dalam satu ikatan
yang tak mungkin terwujud
kembali kugantungkan harapan
pada mendung
curahkan airmata
membuat aku tenggelam
dalam gelap malam
tanpa bintang
Purwokerto, 06 Januari 2004.
Kerinduan
saat kulepaskan jiwaku
kutinggalkan tubuh penuh luka
meski kau tak pernah mengerti
arti sebuah kesucian
dari hati yang beku
aku sendiri
bersama derita abadi
karna kau tak lagi
disini
aku masih sendiri
mecoba keringkan luka
yang semakin melebar
penuh nanah
bernama cinta
kasih……
aku impikan selalu
kedamaian bersamamu
pada saat
terakhirku…..
Purwokerto, 06 Januari 2004.
Harapanku
yakinkanlah aku
untuk menggapai kebahagiaan
lepaskan semua kepedihan
ikrarkan janji setia
kucoba lagi
untuk selalu
rindukan engkau
namun…
aku tak lagi mampu
enyahkan bayangan masa lalu
nikmati kesendirian
impikan kedamaian
Purwokerto, 15 Januari 2004.
Pencarian
Hujan….
Masihkah kau curahkan
Harapan untukku
Setelah aku tenggelam
Dalam gurun kesendirian
Yang tak mampu aku taklukan
Hingga angin mengaburkan
Awan harapan
Yang aku semai
Angin…
Kemanakah aku harus melangkah
Dengan kaki yang luka
Alirkan airmata tinta
Tuk tuliskan harapan
Pada hamparan langit jingga
Yang berlari
Menjemput malam
Kutuliskan sekali lagi
Hingga aku pergi
Dan tak kembali
Tinggalkan tubuh
Yang rubuh
Kehilangan ruh
Purwokerto, 15 Januari 2004.
Darimu Untukmu
Bersama Ela Normayanti
entah mengapa
langkahku kini terhenti
antara dua pilihan
namun…
orang-orang tak lagi mengerti
rintihan hati yang perih
mungkinkah aku…
akan temukan kembali harapan
yang terkubur waktu
antara hidup dan mati
nyanyikan luka
tepiskan duka
impikan adinda
Al Kurma, 16 Januari 2004.
Impian
Ada segenggam harapan
yang tak pernah terwujud
dalam setiap pengembaraanku
menyusuri jalan kehidupan
hingga aku tak lagi mampu
bercerita tentang engkau
kepada bulan
kepada bintang
yang setia menerangi
jalan gelap kehidupan
hingga ujung waktu
Mungkinkah impian
akan terwujud dalam nyata
bila engkau
tak lagi ada disini
bersamaku….
karena waktu tlah pisahkan
kau aku `tuk selamanya
hingga mentari tak lagi
menerangi alam raya
Purwokerto, 16 Januari 2004.
Kusambut Mentari
nuansa pagi ini
indah berseri
tebarkan wangi
akan keindahan
hidup begitu indah
akankah kita kotori
rapuhkan harapan
impikan bahagia
yang pasti
akan membawa kita
nikmati kebahagiaan
tuk menuju masa depan
impian yang terpendam
Purwokerto, 29 Januari 2004.
Martabak Hati
dalam sepotong martabak
kuselipkan seiris hati
yang terkoyak masa lalu
hingga aku tak mampu
untuk berlalu
adakah seorang putri
akan hadir
mengisi kesunyianku
hingga aku kembali
tertawa bahagia
tanpa sesal masa lalu
yang telah patahkan
langkah perjalanan hidup
Purwokerto, 29 Januari 2004.
Sepotong Roti Bakar
kubawakan untukmu
sepotong roti
yang dibakar nyala hati
agar engkau mengerti
ketulusan jiwa
yang merintih
aku masih mencoba
`tuk langkahkan kaki
yang dibakar masa lalu
hingga aku terkapar
pada malam tanpa bintang
kubawakan untukmu
sepotong roti bakar
agar aku tak lagi
sendiri….
Purwokerto, 29 Januari 2004.
Cerita Untuk L
aku berpijak pada jejak tanpa sajak
kaburkan langkah pada bayang
untuk sebentuk harapan
cukup sudah aku terpuruk
indahkan luka tanpa duka
nyanyikan kesunyian
tanpa airmata
agar kembali tersenyum
kasih.......
adakah setetes harapan
untukku terus melangkah?
enyahkan sebait tangis
lepaskan keresahan
abadikan ketulusan
Purwokerto, 30 Januari 2004.
Perjalanan
Bersama Silo Hambudi Sukmono
I.
kujelajahi pagi
penuh keyakinan
demi bidadari
di bumi mataram
II.
kutinggalkan Jogja
penuh keresahan
…………………
…………………
Purwokerto-Jogja, 16 Pebruari 2004.
Yang Tak Pernah Terucap
ada sebaris kata yang tak pernah terucap
untukmu kekasih
meski beratus malamku lewati dalam sepi
meski beribu liter airmataku curahkan
meski berjuta sel darahku tumpahkan
aku tetap tak mampu
aku tetap tak bisa
aku tetap diam
membisu
diam
membisu
dalam kesunyian malam-malamku
dalam kesendirian langkahku
dalam kehampaan hidupku
yang berputar
melayang
berputar
melayang
berputar terus
dan melayang
hingga aku
kehilangan arah
kehilangan pegangan
kehilangan harapan
yang ku rajut dengan nadi
yang ku sulam dengan hati
yang ku jahit dengan pasti
hingga aku hanya bisa
diam
membisu
diam
membisu
tanpa kata
tanpa cinta
tanpa nyawa
ada sebaris kata yang tak pernah terucap
untukmu kekasih
semoga engkau sudi menerima
airmata dan darah
persembahan terakhir
dariku
untukmu
Purwokerto, 04 Juni 2004.
Kisah Bunga
Teruntuk : Lala
perempuan datang
ungkapkan sebaris kisah
tentang hidup
rapuhkan jiwa
indahkan nyanyian cinta
begitu indahkah…
angin yang menari bersama
nyanyian kidung asmara
indahkan hari
nyatakan impian
gugurkan duka yang tercipta
dan mungkinkah…
impian yang terpendam
akan terwujud
nyata dalam hidup?!
lelah…
aku melangkah
endapkan luka dalam duka
lepas resah dalam gelisah
agar tawa kembali tercipta
masa slalu berlalu
anginpun terus menggerus
yakinkan `tuk terus melangkah
antar aku ke gerbang bahagia
perempuan datang
ungkapkan sebaris kisah
senandungkan luka dalam duka
pupuskan derita dalam nyata
imajikan sebait kenangan
tepiskan rindu yang membatu
antara kau aku
satukan hasrat terpendam
angankan hidup tanpa luka
redakan duka dalam tawa
indahkan hari bersama
Purwokerto, 19 Oktober 2004.
Insomnia
Aku tak bisa tidur…
Selalu tak bisa tidur
Udara penuh dendam terpendam
Berpeluk resah mencumbu gelisah
Aku tanpamu…
Nikmati hari
Gelisah….
Sendiri….
Asa
Terputus...
Begitu perih…
Asa yang kau pupus
Jauhkan jiwa pada tawa
Impian suci yang tersisih
Naluri hati terputih
Getarkan nurani dalam sepi
Antara hidup dan mati
Nantikan kau entah sampai kapan
Aku tak bisa tidur
Sebelum kau kembali
Untukku…
Purwokerto, 20 Oktober 2004.
Sepi
I
andai sepi ini
berlalu......
takkan ada lagi airmata
disini......
II
s`lalu kupanggil
namaMu......
pada setiap
resahku......
III
dalam tanya......
aku berbisik
“inikah karma,
dari dosaku?!”
IV
kucoba pahami
dalam sunyi.......
Purwokerto, 02 – 03 November 2004.
Pesanku
kala tubuhku terbujur kaku
terperangkap dalam beku
sampaikan pesanku
pada perempuan ayu
yang tinggalkan aku
pada tuhan kecil
yang melukaiku
pada alam
yang merawatku
pada mentari
yang menghangatkanku
pada malam
yang menemaniku
pada sunyi
yang memelukku
bahwa aku….
“telah hidup, mencintainya, lalu mati…”
Purwokerto, 04 November 2004.
Rumah Bunga
pada rumah bunga
mekar tiga kuntum melati
berhias embun pagi
yang menetes dari hati
pada rumah bunga
beribu kisah tercipta
tentang hidup
tentang cinta
antara kau aku
antara aku kau
pada keheningan rumah bunga
tercipta tawa renyah bidadari
meski duka mengendap
meski luka menganga
meski sepi merajam
dalam hembusan angin malam
memelukku dengan tangan – tangan lembutnya
membelaiku dengan cakar – cakar halusnya
merayuku dengan bisikan – bisikan dinginnya
dan di sini……
di penantian terakhirku
aku rindu…...
pada keharuman bunga – bunga
yang menghias taman Al Kurma
dan semoga sang dewi
menjaga keharumannya
untukku……
sehabis sahur, 09 Nopember 2004.
Belati Cinta
Kau tusukkan berkali-kali padaku
Sebilah belati bernama cinta
Luluhkan hati yang membatu
Pada jiwa yang hampir sirna
Dan aku masih tak mampu
Bangkit dan berlari
Mengejar dirimu
Yang tenggelam di ufuk waktu
Lelahkan hati yang terus menanti
Adhe……
Mengapa bayangmu terus memburuku?!
Bukankah kau sudah tahu
Bahwa aku sudah tak mampu lagi berdiri
Bahwa aku sudah tak mampu lagi berlari
Aku hanya bisa pasrah
Sebelum tiba saatnya
Menyerah……
Kau tusukkan kembali padaku
Belati cinta yang karat
Dalam gengaman airmata
Yang tak jua mengering
Sekali lagi……
Berkali-kali……
Kau terus menusuk
Pada tulang rusuk
Tembus mengoyak hati
Dan aku mati
Dalam hidup……
Banyumas, 20 November 2004.
Pasrah
Di saat hati semakin lelah
Di saat diri semakin lemah
Mengapa mereka tak lagi ramah?!
Haruskah aku menyerah?!
Sampai tahu bahwa aku t`lah kalah?!
Oh Tuhan….
Tolonglah…..
Aku pasrah…..
Banyumas, Akhir 2004.
Entah
Mengenang : Irna Narulina
Aku terbangun dari tidurku
Hatiku resah.....
Jiwaku gelisah.....
Aku rindu......
Mengapa?
Kenapa?
Harus kau yang kurindu
Mungkinkah?!
Entah........
Purwokerto, Desember 2004.
Kala Gerimis Menangis
Kala gerimis menangis
Seiring nada menjerit lirih
Dari gitar tua tak berdawai
Memainkan syair melankolis
Dari jiwa yang perih
Adakah mimpi itu kan jadi nyata
Bila kau tak lagi ada
Tinggalkan sebait kenangan
Pilu......
Dalam sukma yang melayang
Kasih.....
Semoga kau dengar
Nyanyian dukaku......
Purwokerto, 31 Desember 2004.
Aku adalah Aku
Seribu tahun boleh berubah
Setiap waktu boleh berganti
Tapi tidak dengan harapanku
Tidak dengan diriku
Yang mencintaimu
Sepanjang jaman
Yang menyayangimu
Sepanjang musim
Yang mengagungkanmu
Sepanjang waktu
Dan.....
Aku masih tetap aku
Karena......
Aku adalah aku
Meski aku sudah bukan aku lagi
Purwokerto, Akhir Desember 2004.
Lelaki Malang
Seorang lelaki....
Tenggelam dalam kelam
Terhanyut airmata dan darahnya sendiri
Terkurung dalam sunyi sepi
Terbuai dalam impian
Demi harapan semu
Yang menjadi cambuk hidupnya
Seorang lelaki
Mencoba bunuh diri.....
Karena tak lagi
Berarti....
Purwokerto, 2004.
Adhe
Mengenangmu adalah luka
Mencintaimu adalah duka
Adhe-ku sayang
Nasibku malang
Purwokerto, Akhir 2004.