Sebelum Kakekku menghembuskan nafasnya yang terakhir, beliau pernah berpesan kepadaku “Jika kamu ingin hidup bahagia, jadilah orang yang setia”. Dan aku tak pernah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh almarhum Kakekku itu, dan sebelum aku mengerti hal itu, Ayahku juga memberiku pesan yang sama sebelum wafatnya. Aku semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan kedua leluhurku itu, namun seiring dengan semakin tingginya sang surya, aku mulai mengerti apa yang mereka maksud dan ternyata itu adalah sebuah hal yang sangat sederhana sekali. Aku tahu bahwa jika kita ingin hidup bahagia, kita harus setia dan konsekuen dengan apa yang kita harapkan dan kita kerjakan. Jika ingin hidup bahagia dari segi materi dan finansial, kita harus setia dengan pekerjaan kita, karena dengan bekerja bersungguh-sungguh, kita akan mendapat apa yang kita inginkan. Begitu juga apabila kita ingin bahagia dan langgeng dengan keluarga, kita harus setia dengan pasangan hidup kita dan kita juga harus konsekuen dengan semua yang telah menjadi komitmen kita. Namun, ketika penderitaan hadir menerpa kehidupanku, haruskah aku juga setia dengan penderitaan?! Dan aku masih belum bisa mengerti dengan satu hal itu dan aku masih terus mencoba untuk mencari jawabannya.
Kesetiaan ternyata menjadi suatu momok yang sangat menakutkan dalam setiap langkah kehidupanku, entah mengapa aku harus merasa seperti itu, mungkin pengalaman masa laluku yang begitu tragis, yang membuat aku jadi seperti ini. Aku pernah mencoba untuk setia dengan cintaku, namun ternyata kenyataan tak pernah bisa sejalan dengan semua impianku tentang cinta. Dia yang selama ini bersamaku tiba-tiba datang dan memohon doa restu dariku, aku tak mampu berbuat banyak selain merelakan dan melepaskannya, meskipun harus kureguk manisnya empedu, aku menyadari bahwa ada saatnya dimana kita harus melepaskan orang yang kita cintai, bukan karena orang tersebut berhenti mencintai kita, tapi karena kita menyadari bahwa orang yang kita cintai akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya. Dan bicara soal cinta, aku pernah bertanya tentang satu hal kepada Ibuku, “Kenapa aku dilahirkan?!” Ibuku menjawab dengan penuh keyakinan “Kamu dilahirkan karena cinta dari Tuhan yang dititipkan melalui air mani ayahmu, dan kamu juga tumbuh dan dibesarkan dengan cinta Tuhan yang mengalir melalui air susu” Aku mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Ibuku, karena saat itu, aku sama sekali belum mengenal cinta, dan aku terus membayangkan, betapa indah dan sangat berharganya cinta. Namun ketika aku mulai mengenal dan memahami arti cinta, semua menjadi gelap, karena semua bayanganku tentang cinta tak pernah sama dengan kenyataan. Aku baru menyadari bahwa ternyata cinta itu penuh dengan tipu muslihat, penuh dengan intrik-intrik busuk, penuh dengan kemunafikan dan cinta hanya melahirkan sebuah penderitaan yang panjang, yang hanya membuat aku terpuruk dalam ketidakberdayaan, hingga akhirnya aku kembali pulang dan bertanya “Kenapa cinta membuatku menderita?!” Ibuku hanya menjawab “Kelak kamu akan mengerti semuanya”, dan sampai saat ini pun aku masih belum bisa mengerti dan memahami apa yang pernah dikatakan oleh ibuku.
Aku masih terus mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaanku sendiri dalam setiap jejak langkah kakiku, meski kadang aku ragu dan selalu ragu untuk melangkah kedepan. Aku masih berdiri dipersimpangan jalan hidupku, mematung mencari jalan mana yang akan aku pilih, aku juga masih belum bisa melihat jauh kedepan, karena kabut dan mendung selalu menutupi pandanganku, namun aku terus mencoba dengan langkah yang terseok, meski kesunyian dan gerimis tertumpah dari langit hatiku. Hingga akhirnya aku hanya bisa membiarkan hidupku mengalir apa adanya, karena bagiku, kehidupan itu seperti air mengalir, menghempas batu-batu lalu meresap ketanah. Dan aku terjebak dalam dunia yang aku ciptakan sendiri, aku tak bisa keluar, tenggelam dalam airmata dan darahku sendiri hanya karena satu kata “kesetiaan” dan sebuah pertanyaan “Haruskah aku setia dengan semua penderitaan ini?!” , aku tak tahu jawabnya dan aku hanya bisa menanti mentari tenggelam dalam pelukan malam tanpa pernah aku mengharapkan rembulan menghiasi malamku, dan pada saat itulah aku akan menyanyikan semua syair tentang keabadian karena bagiku, “Kematian adalah kidung indah”.
Di Jogja, Kutinggalkan Cintaku
Malam ini, aku merasa begitu kesepian, apalagi hujan diluar masih terus turun dengan derasnya, melengkapi kesendirianku malam ini. Kucoba untuk mendengarkan radio, mencoba menghibur diri, namun wajah Putri masih terus saja terbayang, dan aku semakin merasakan kerinduan yang begitu hebatnya pada Putri, padahal baru tiga hari kami berpisah, karena Putri harus pergi ke Jogja untuk melakukan penelitian. Akhirnya aku mencoba menelpon Putri, namun yang mengangkat telponnya Novi, teman kuliah Putri yang kebetulan satu kelompok dalam penelitian itu. “Mas, sebentar ya, Putri lagi di kamar mandi, ada apa sih mas? kangen ya? masa baru ditinggal kemarin aja sudah nggak tahan, he..he…” jawab Novi mencoba meledek, “Iya nih Nov, aku kangen berat, suruh cepetan dong?!”, ”Mas, nih Putri mau ngomong, dia sudah selesai” akhirnya semua kerinduanku sedikit terobati, lama sekali kami ngobrol hingga akhirnya pembicaraan kami terputus karena pulsaku habis “Sialan, padahal aku masih kangen” aku hanya bisa menggerutu dalam hati.
Waktu sudah menunjukan pukul 01.30 dini hari, tapi mataku masih juga tidak mau terpejam, wajah Putri masih saja terus menari-nari di kedua kelopak mataku, aku mulai merasa resah, karena ternyata, hanya mendengar suaranya saja belum cukup bagiku untuk mengobati kerinduanku pada Putri, aku ingin sekali melihat wajahnya. Akhirnya aku ambil keputusan, malam ini, aku harus berangkat ke Jogja untuk bertemu dengan Putri, dan didorong rasa rindu yang begitu hebat, aku nekat untuk pergi ke Jogja. Aku tinggalkan Purwokerto dengan penuh keyakinan, meski gerimis masih menghiasi malam, tapi aku merasa perjalananku tidak akan sia-sia, karena jauh didalam lubuk hatiku, ada semangat yang menyala, menghangatkan malam yang dingin. Kujelajahi pagi ini dengan penuh pengharapan pada mentari yang akan menghangatkan kesunyianku ini.
Sesampainya di Jogja, aku sms Putri, bahwa pagi ini aku berada di Jogja, tapi berkali-kali aku sms Putri, tidak pernah dijawab, mungkin aku dikira bohong, akhirnya setelah beristirahat sejenak dirumah teman, aku telpon HP-nya dari wartel, aku ingin dia percaya bahwa saat ini aku memang berada di Jogja, tapi kembali yang kudengar suara Novi diseberang sana, “Novi, aku sekarang di Jogja, kalian dimana?”, ”Aku dirumah Reni, mas dimana?”, ”Aku dirumah temanku, rumah Reni dimana?”, ”Aku ndak tahu mas, aku ndak hapal Jogja”, akhirnya kututup telpon dengan penuh tanda tanya, mengapa mereka sedikit merahasiakan keberadan mereka, padahal aku tahu pasti bahwa Novi sering keluyuran di Jogja, jadi tidak mungkin kalau dia tidak tahu alamat rumah Reni.
Hari semakin siang, dan perasaanku semakin tak menentu, karena aku mulai merasa bahwa perjalananku kali ini akan sia-sia, tapi aku nggak mau berprasangka buruk, akhirnya kuputuskan untuk bejalan-jalan ke Malioboro, sekedar untuk menghilangkan penatku, sekalian aku mencari buku untuk bahan kuliah. Dan ketika aku keluar dari sebuah book store di Malioboro Mall, secara tidak sengaja, aku bertemu dengan mereka, “Mas, lagi ngapain?”, aku terkejut mendengar sebuah suara yang sangat aku kenal dibelakangku, “Eh, Putri?! aku lagi nyari buku untuk bahan ujian minggu depan” jawabku sekenanya, karena aku masih belum percaya kalau aku bisa bertemu Putri di Jogja, aku bahagia sekali saat itu, karena harapanku untuk bertemu Putri menjadi kenyataan. “Mas, kenalkan ini teman Putri” aku menjabat tangan mereka satu persatu, tapi aku masih penasaran dengan seorang cowok pendiam yang berjalan disamping Putri, apalagi mereka kelihatan begitu mesra, tapi aku masih mencoba untuk sabar dan menahan diri, aku nggak mau terjadi salah paham antara aku dengan Putri, aku nggak mau pertemuanku dengan Putri kali ini menjadi sebuah malapetaka bagiku, walaupun ada berjuta perasaan yang ingin kuungkapkan padanya.
Waktu terus berlalu dan gerimis masih dicurahkan dari langit, seolah-olah ingin mendinginkan pikiranku yang mulai panas, hingga akhirnya aku diajak untuk mampir kerumah Reni, aku hanya bisa mengangguk memenuhi ajakan mereka, karena aku pikir, dirumah Reni nanti aku bisa bercerita tentang banyak hal pada Putri. Namun, apa yang aku harapkan tak pernah terwujud, karena cowok pendiam yang belakangan kuketahui bernama Wahyu terus berada disisi Putri, sehingga tidak memungkinkan aku untuk membicarakan hal-hal pribadi dengan Putri. Aku hanya bisa melihat bahwa dimata Putri ada sesuatu yang terpendam, ada hal yang seolah-olah ingin diceritakan, tapi tak bisa terucap. Aku pun hanya bisa menghabiskan waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul nggak karuan dengan teman-teman Putri. Tapi ada satu hal yang tak pernah bisa aku mengerti, setiap kali aku mencoba bertanya tentang Wahyu, mereka selalu mengelak dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Hingga akhirnya Dian, teman Putri, bercerita bahwa Wahyu adalah tunangan Putri, mereka dijodohkan oleh orang tua mereka sejak mereka masih kecil, aku hanya terdiam mendengar cerita dari Dian, aku merasa seperti tersambar petir disiang bolong. Aku tak mampu bicara sepatah kata pun, dan gerimis sore ini mewakili perasanku, menggantikan airmataku yang tak bisa kutumpahkan.
Aku terus diam, mencoba untuk menenangkan diri, tapi gejolak dalam diri semakin membuatku merasa tersiksa, aku semakin tak kuasa untuk menahan diri, akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan Jogja sore ini juga, meski gerimis masih mengguyur kota ini. Kutinggalkan Jogja dengan penuh kekecewaan, dan aku pun hanya bisa pasrah dan menyadari bahwa pasti akan tiba saatnya dimana kita harus melepaskan orang yang kita cintai, bukan karena orang yang kita cintai berhenti mencintai kita, tetapi karena kita menyadari bahwa orang yang kita cintai akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya. Dan hanya sebaris kata yang kutinggalkan, selamat tinggal Jogja, selamat tinggal cinta, semoga engkau bahagia bersamanya…
Perjalanan
1.
Kujelajahi pagi
penuh keyakinan
demi bidadari
dibumi mataram
2.
Kutinggalkan Jogja
Penuh keresahan
…………………
…………………
Selamat Jalan Cinta…
Hujan masih terus turun dengan derasnya, kilat dan halilintar juga ikut menghias langit malam yang kelam. Bayu masih terdiam dikamarnya sambil memegangi dadanya, sesekali terdengar erangan dari bibirnya yang membiru, sementara diatas meja, disisi tempat tidur, telihat beberapa botol obat berserakan serta bercak-bercak darah yang berceceran di lantai. Dan dari sorot matanya terlihat ada beban berat yang menyiksa, yang tak bisa terungkap. Sudah beberapa hari ini Bayu merasakan sakit di dadanya, tapi hal itu selalu dirahasiakan kepada semua orang, sifatnya yang keras menyebabkan dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain. Ingatannya terus melayang pada masa lalunya, teringat masa-masa indah bersama Putri, seorang gadis lemah lembut yang telah menaklukan hatinya yang keras, gadis yang telah merubah kehidupannya dan sangat dicintainya, yang kini entah berada dimana. Sementara itu, Ardi sahabat Bayu, terus menerus mencoba menghubungi handphone Bayu, tetapi masih tidak bisa dihubungi, Ardi tahu pasti dengan apa yang terjadi pada Bayu, karena hanya kepada Ardi, Bayu berbagi cerita, apalagi mereka sudah bersahabat sejak kecil. Perasaan Ardi terus berkecamuk, dia sangat khawatir dengan keadaan Bayu, apalagi setelah dia tahu bahwa Bayu sakit.
Langit masih begitu gelap, sementara waktu terus berjalan dengan lambat, dan Ardi terus memikirkan keadaan sahabatnya, apalagi kata-kata Bayu terus menerus terngiang ditelinganya, “Ardi, tolong sampaikan pada Putri, bila saatnya tiba, aku ingin Putri ada disini, aku ingin bersamanya pada saat-saat terakhirku”, kata-kata itu terus menerus membayangi Ardi, karena Ardi tahu bahwa Bayu tidak pernah main-main dengan apa yang diucapkan. Kegelisahan Ardi semakin menjadi-jadi, apalagi setelah dia mendengar kabar dari teman Bayu, bahwa Bayu sekarang berada di rumah sakit. Dia tidak bisa membayangkan keadaan Bayu saat ini, apalagi jarak yang jauh memisahkan mereka. Ardi segera mengemasi barang-barangnya, malam ini juga dia akan segera berangkat untuk menjenguk sahabatnya. Gerimis masih terus turun, ketika Ardi sampai dirumah sakit, dia langsung menuju ke tempat dimana Bayu dirawat. Perasaannya sedikit lega ketika melihat Bayu sedang tertidur, dia hanya bisa memandangi wajah pucat sahabatnya yang seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, wajah pucat yang penuh dengan goresan luka kehidupan.
Ardi tertidur disisi ranjang tempat Bayu dirawat, ketika terdengar suara memanggil namanya. Ardi terbangun, dan memandang Bayu yang tersenyum kepadanya, dia tahu bahwa senyum itu adalah senyum yang penuh dengan luka, senyum yang dipaksakan untuk menutupi rasa sakit yang mendera.
“Ardi, maafkan aku, aku selalu merepotkanmu”
“Sssst, jangan katakan itu, yang penting sekarang kamu harus banyak istirahat, kamu harus cepat sembuh, aku akan tetap berada disini menemanimu”
“Tapi….”
“Tolong, jangan bicarakan hal itu sekarang, aku tahu apa yang ingin kamu ucapkan”, Ardi memotong kata-kata Bayu, dia tahu bahwa sahabatnya itu pasti akan membicarakan soal Putri. Ardi sebenarnya bingung, karena dia sendiri tidak tahu saat ini Putri berada dimana, demi sahabatnya itu, dia pernah mencoba mencari Putri, bahkan pernah mencoba menanyakan kepada orang tua Putri, tapi sayang orang tua Putri merahasiakan hal itu pada Ardi, entah apa maksudnya.
Mendung masih menghiasi langit, sementara keadaan Bayu semakin parah, hanya matanya yang terlihat memohon pada Ardi untuk mencari Putri. Ardi tahu bahwa kali ini Bayu tidak main-main, dengan langkah berat dia tinggalkan rumah sakit untuk mencari Putri, meski dia tidak tahu kemana harus mencari Putri, yang seolah-olah hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Ardi terus berjalan menyusuri jalanan becek menuju kerumah Putri, dia yakin bahwa kali ini dia akan menemukan Putri dan demi sahabatnya, dia akan lakukan apa saja untuk menemukan Putri. Sesampainya dirumah Putri, keraguan masih terus menyelimuti dirinya, apalagi dia teringat dengan orang tua Putri yang seolah-olah tidak mau menerima kehadirannya, tapi demi sahabatnya, Ardipun melangkah dan mengetuk pintu rumah Putri, tapi sepertinya sepi, namun beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki dari dalam menuju pintu, dan pintu pun kemudian terbuka perlahan-lahan, dari dalam munculah sesosok perempuan muda berparas ayu, tak salah lagi dialah Putri, ternyata memang nasib baik bagi Ardi, karena dia tidak terlalu susah untuk menemukan Putri. Keduanya terperanjat ketika bertemu muka, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ardi?! tumben kesini? ada apa?”
“Iya Put, aku hanya mampir, apa kabar?”, Ardi mencoba berbasa-basi.
“Aku baik-baik saja, masuk dulu yuk?! nggak baik ngobrol di pintu”, dan Putri pun menarik tangan Ardi, mengajaknya duduk keruang tamu, ternyata Putri masih seperti dulu, ramah dan baik, tidak salah kalau Bayu jatuh cinta pada Putri, meskipun mereka harus berpisah karena orang tua Putri tidak merestui hubungan mereka dan menjodohkan Putri dengan orang lain.
“Kok sepi Put? orang tuamu kemana?”
“Mereka lagi ada kepentingan diluar kota, jadi aku harus menjaga rumah, eh gimana kabar Bayu? kok nggak diajak kesini?”, Ardi hanya terdiam mendengar pertanyaan Putri, dia seperti tidak tega untuk mengatakan hal yang sesungguhnya kepada Putri, apalagi saat itu Putri terlihat bahagia, tapi akhirnya Ardi pun mencoba untuk mengatakan apa yang terjadi dengan Bayu kepada Putri, meski berat untuk mengatakannya.
“Gimana ya, memang aku kesini untuk ngasih kabar ke kamu tentang Bayu, dia sekarang sakit dan dirawat dirumah sakit, dia ingin ketemu kamu Put?!”
“Hah…sakit?! sakit apa? sejak kapan penyakit doyan sama dia? parah nggak?”, Putri sedikit terkejut mendengar kabar itu, tapi masih mencoba untuk menutupi kecemasannya, Ardi pun melanjutkan ceritanya tentang Bayu. Ardi menceritakan semuanya, dan terlihat airmata mulai membasahi pipi Putri.
“Put, sorry ya, aku mesti ngomong begini, aku nggak mau bikin kamu sedih, tapi memang inilah kenyataannya, Bayu ingin ketemu kamu?!”
“Nggak apa-apa kok, aku ngerti perasaannya, aku juga pengin ketemu dia, tapi kan kamu juga tahu dengan apa yang terjadi padaku?!”
“Aku tahu Put, aku ngerti semuanya, tapi aku mohon Put, bahagiakan Bayu kali ini, sejak berpisah denganmu, dia berubah, dia sering menyendiri dan jarang tersenyum, selama ini dia tak pernah merasa bahagia, jadi sekali lagi aku mohon Put, bahagiakan dia pada saat-saat terakhirnya, please….Put?!”, Putri hanya menangis terisak mendengar permintan Ardi, dia tidak mampu mengatakan apa-apa lagi, dan hanya mengangguk perlahan.
“Terima kasih Put, kalau begitu kita berangkat sekarang”
“Baiklah, aku bersiap-siap dulu ya?!”, Ardi menganguk, dan Putri segera beranjak dari tempat duduknya menuju kekamarnya.
Sore itu, mentari masih saja belum mau menunjukkan sinarnya, seolah-olah ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh Bayu. Berlahan-lahan, tangan Bayu menuliskan beberapa baris kata, entah apa yang ditulisnya. Jam menunjukkan pukul 18.30 WIB, ketika Ardi dan Putri sampai dirumah sakit. Sesampainya di kamar tempat Bayu dirawat, Putri langsung memeluk tubuh Bayu yang terbaring tak berdaya sambil menangis terisak, tapi Bayu yang saat itu sedang tertidur karena obat penenang, diam tak bergerak.
“Bayu… maafin Putri….” susasana begitu hening, hanya suara alat pendeteksi jantung yang berbunyi perlahan. Perlahan-lahan, Bayu membuka kelopak matanya, dan butiran-butiran bening mulai membasahi pipi Bayu, ketika dia melihat Putri, perlahan bibirnya mulai tersenyum, Bayu merasa bahagia sekali melihat Putri ada disisinya.
“Put, maafin aku, aku selalu membuatmu terluka”
“Bayu, jangan katakan itu, aku yang salah, aku yang selama ini telah membuatmu menderita, dan kini, aku berada disini untuk membahagiakanmu, aku nggak ingin berpisah lagi denganmu, aku sayang kamu, aku mencintaimu…”
“Terima kasih Put, aku bahagia sekali, aku juga nggak mau berpisah denganmu, tapi maafkan aku, aku harus pergi, aku lelah, aku ingin istirahat, relakan aku Put, aku mencintaimu…”, dan suara tangis Putri semakin menjadi, ketika perlahan-lahan mata Bayu mulai tertutup, hanya seulas senyum yang tertinggal dibibirnya yang mulai membiru, senyum kebahagiaan karena keinginan untuk bertemu dengan orang yang dicintainya terkabul. Namun Putri masih belum bisa menerima kenyataan dan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, dia terus memeluk dan mengguncang-guncang tubuh Bayu yang diam tak bergerak.
“Bayu…jangan pergi, jangan tinggalkan Putri…”
“Sudahlah Put, relakan dia pergi, biarkan dia istirahat dengan tenang, biarkan dia bahagia disisinya…”, dan Putri terus menangis dalam pelukan Ardi, sementara itu, gerimis mulai turun membasahi bumi, seperti airmata yang tumpah dari langit, menghiasi cakrawala yang gelap, mengiringi kepergian Bayu, ketempat tenang dan penuh kedamaian.
Pagi itu, mendung masih bergelayut dilangit, hanya isak tangis yang terdengar dipemakaman, ketika secara berlahan-lahan, tubuh Bayu yang terbungkus kain kafan mulai diturunkn ke liang lahat. Putri masih terus menangis dipusara Bayu. Sementara itu, satu persatu orang-orang mulai meninggalkan areal pemakaman, hanya Ardi dan Putri yang masih tinggal dipemakaman.
“Put, sudahlah…aku ngerti perasaanmu, aku juga sayang sama Bayu, relakan dia, biarkan dia tenang, untuk apa disesali, toh dia juga nggak akan kembali, kita pulang yuk…”, dan Ardi pun menggandeng tangan Putri, berlahan-lahan mereka beranjak meninggalkan gundukan tanah merah yang masih basah. Sesampainya dimobil, Ardi memberikan selembar kertas kepada Putri, dan Putri membacanya dengan penuh haru.
Teruntuk : Putri.
aku tahu…
kenyataan begitu pahit
karena itu…
aku lari darinya
aku juga tahu…
kehidupan penuh dengan penderitaan
karena itu…
aku meninggalkannya
dan…
aku akan tetap menantimu
di taman kamboja
pada batu sunyi
yang terukir
namaku…
dariku yang mencintaimu.
Bayu.
Putri terus menangis terisak-isak, sementara gerimis masih terus turun, membasahi bumi yang berduka, berduka karena cinta sepasang kekasih yang direnggut maut.
Sepucuk Surat Biru
Sore itu langit tampak begitu cerah, memancarkan cahaya jingga dikaki langit belahan barat, dihiasi burung-burung manyar yang berterbangan untuk kembali pulang kesarangnya. Bunga terdiam dikamarnya, sepucuk surat yang digenggamnya mulai lusuh, sepucuk surat yang diberikan oleh Satria, sahabatnya yang kini entah berada dimana. Berkali-kali Bunga membaca surat itu, Ia seolah tak percaya dengan apa yang terjadi, karena ternyata Satria, orang yang selama ini begitu dekat dengannya, orang yang telah dianggapnya sebagai seorang kakak, memendam perasaan cinta kepadanya. Kembali Bunga memandangi surat itu....
Teruntuk: Bunga.
Sobat….aku tahu….aku mencintaimu, tapi aku juga tahu bahwa aku dan kau tidak akan mungkin bersatu, karena aku juga tahu bahwa kau ada yang memiliki….sungguh aku tak pernah berharap bahwa aku akan memiliki perasaan semacam ini, tapi semua itu terjadi begitu saja, dan aku tak pernah menginginkan perasaan ini hadir dalam hidup dan kehidupanku. Aku baru menyadari perasaan ini ketika aku bisa merasa tenang, merasa bahagia dan lepas dari semua masa laluku yang kelam saat kau ada. Aku merasa menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang dari hidupku, sesuatu yang bisa membuat aku kembali tersenyum, kembali merasakan hidup yang indah dan penuh harapan. Sobat……ada banyak hal yang ingin kuungkapkan kepadamu, tapi aku sadar, aku hanyalah seorang pengecut, Ya…seorang pengecut yang hanya bisa lari dari kenyataan, seorang pengecut yang tak berani menghadapi hidup, tepat seperti apa yang dikatakan orang-orang disekitarku, AKU MEMANG PENGECUT!!!!! Dan seorang pengecut tak pantas untuk berada didekatmu.
Sobat….mungkin kau tak pernah tahu apa yang menyebabkan aku menjadi seorang pengecut?!! Ya….aku menjadi seorang pengecut karena masa laluku, masa lalu yang telah menghancurkan sebagian hidupku, menghancurkan harapan yang pernah ada, melenyapkan semua cita-cita yang pernah aku bangun. Ada banyak hal yang telah terjadi, yang tak pernah aku ceritakan pada siapapun, juga pada sahabat-sahabatku. Kadang aku berpikir untuk mengakhiri saja hidup ini, tapi aku tak pernah sanggup melakukannya, ada satu hal yang membuat aku tak bisa melakukannya. Tahukah kamu?!! Ya…Ibuku, orang tuaku satu-satunya yang tersisa, yang membuat aku tak bisa melakukannya. Aku harus bisa mewujudkan pesan terakhir Bapakku untuk bisa membahagiakan Ibuku, aku tak bisa dan tak akan pernah mati, sebelum aku bisa mewujudkan keinginan almarhum Bapakku. Tapi….hal itu terlalu berat untukku, karena hidupku sendiri sudah hancur, aku tak bisa bangkit, semuanya sudah pupus, semuanya sudah hancur sejak aku kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku, orang-orang yang bisa membuat aku tersenyum. Aku sendiri tak pernah bisa mengerti mengapa aku harus mengalami nasib seperti ini.
Sobat….aku bukanlah apa-apa, aku hanyalah sampah yang terbuang dari kehidupan, aku tak pantas untuk bisa hidup bersamamu, sejak Ayu pergi meninggalkan aku, aku menyadari bahwa aku hanya orang yang tak berguna, yang hanya menjadi beban bagi orang lain, dari waktu kewaktu, aku hanya bisa berharap bahwa dia akan datang kembali untukku, tetapi kenyataannya?! Dia memang kembali, tapi bukan untukku, dia datang untuk meminta restu dariku, dia telah melupakan sumpahnya, begitu hancur perasaanku saat itu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa diam, hanya bisa menunduk dan merelakannya hidup bersama orang lain yang menjadi pilihan orang tuanya, aku sadar…bahwa ini yang terbaik baginya, karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membahagiakannya, karena aku tak bisa memberikan apa-apa selain merestuinya. Andai cinta tak memandang harta, mungkin aku sudah bahagia bersamanya. Hari demi hari kulewati dalam sepi, tanpa teman yang sanggup mengerti, aku hanya bisa mengenang 6 tahun yang kulewati bersamanya, 6 tahun yang penuh kebahagiaan, yang telah hilang, direnggut sang waktu. Hidupku begitu hampa, aku benar-benar kehilangan, hingga aku bertemu dengan Adhe, dengan kesabarannya, dengan kelembutan hatinya, dia membimbingku, menuntunku dan mengajakku untuk bangkit kembali dan menemukan kembali hidupku yang hilang. Ya, dialah yang mampu memberiku arti hidup dan kehidupan. Aku merasa begitu bahagia, meski bayang-bayang Ayu masih menghantuiku, tapi setidaknya aku bisa menemukan kembali harapanku yang hilang. Dialah Tuhan Kecilku, sang penyelamat hidupku, tapi ternyata…itu hanya sekejap, ketika setahun kemudian dia juga pergi meninggalkan aku. Aku kembali terpuruk, tergilas angkuhnya dunia. Politik memang kejam, tetapi cinta lebih kejam!!! Sekarang aku benar-benar tak mampu lagi untuk bangkit dan belari mengejar kebahagiaan, AKU MATI DALAM HIDUP.
Sobat…ada banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupku, bahkan aku sudah dianggap gila oleh orang-orang disekitarku, ya…mungkin karena kelakuanku yang semakin tak karuan, ucapan-ucapanku yang semakin tak terkontrol, tetapi aku bangga, bangga dengan semua “kegilaanku”, karena aku sadar, bahwa orang gila justru jauh lebih waras daripada orang yang mengaku dirinya waras. Banyak orang “waras” yang gila harta, gila kedudukan, gila wanita, tetapi sobat…pernahkah kau melihat orang gila yang mengejar-ngejar harta, mengejar-ngejar kedudukan dan mengejar-ngejar wanita?!! Tidak!!! Dan tidak akan pernah ada!!! Tetapi sebaliknya, orang gila justru melewati hari-harinya dengan apa adanya, dengan penuh kebahagian dan itu terbukti dengan banyaknya orang gila yang suka tertawa, bahkan sepanjang jalan yang dilewatinya. Mereka tak pernah merasa kesepian, tak pernah merasa sedih, meskipun mereka harus makan dari tong sampah dan tidur dikolong jembatan. Mereka begitu bahagia…dan aku ingin bahagia seperti mereka….
Sobat….aku sering berpikir, dan bertanya-tanya Benarkah Tuhan Itu Ada?!! Aku sering mendengar kicauan para ahli agama, bahwa tuhan itu maha adil dan tak akan membiarkan umatnya menderita, tetapi mengapa itu tak berlaku untukku?!! Jika tuhan itu memang ada dan maha adil, lalu dimana keadilan untukku?!! Bertahun-tahun aku hidup dalam kebimbangan, dalam sebuah pencarian, tanpa tahu apa yang sebenarnya aku cari. Aku merasa hidupku tak pernah berarti, aku melewati hari demi hari tanpa harapan yang pasti, banyak nama yang muncul dalam hidupku, tapi aku tetap tak mampu untuk melupakan masa lalu, tetap tak mampu untuk membuatku menemukan kembali hidupku. Aku takut pada satu makhluk bernama perempuan, bukan karena apa-apa, tapi karena aku pernah menderita karenanya. Aku tak ingin menderita lagi, aku tak ingin kehilangan lagi. Aku sudah cukup “bahagia” dengan semua penderitaan ini. Dan ketika aku bertemu denganmu sobat…aku hanya tahu, bahwa kau bisa membuatku kembali tersenyum, membuatku kembali menemukan hidup dan melupakan masa laluku….
Sobat…kalau boleh aku jujur padamu….aku hanya ingin mengatakan kepadamu, AKU MENCINTAIMU, TANPA ALASAN, itu saja. Semoga engkau mengerti…..
Dariku: Satria
Bunga terdiam, tak mampu berbuat apa-apa, karena saat ini Satria telah pergi, sahabatnya itu menghilang dua hari setelah wisuda, dan hanya meninggalkan sepucuk surat untuknya. Sementara itu, gerimis mulai turun, seiring airmata yang meleleh dari sudut mata Bunga, yang terpaku, mengenang sejenak perjalanan hidupnya bersama sahabatnya, yang hilang dan tak tentu rimbanya.
Berhari-hari Bunga mencoba mencari tahu keberadaan Satria, tetapi tak pernah ada yang tahu, kemana Satria pergi selama ini, hanya kekhawatiran yang muncul dalam benak Bunga, bahkan ketika dia berhasil menemukan rumah Satria, rumah itu sudah kosong. Bunga hanya mendengar cerita dari orang-orang disekitar situ bahwa sejak Ibunya meninggal, Satria juga ikut menghilang dan tak ada yang tahu kemana dia pergi, bahkan saudara-saudaranya pun tak ada yang tahu dimana Satria kini berada. Bunga semakin bingung, tak tahu harus berbuat apa. Bunga hanya bisa berharap dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan sahabatnya.
******
Pada suatu siang yang panas, tampak seorang lelaki tengah terduduk di sebuah trotoar, sejenak berteduh dari teriknya mentari yang tak kenal kompromi. Sementara itu, dihadapannya tampak orang-orang yang berlalu lalang, sibuk dengan kepentingannya masing-masing dan tak ada yang perduli dengan keberadaannya. Lelaki itu tak lain adalah Satria, sudah hampir 5 tahun Ia berkelana tanpa arah yang pasti, menyusuri jalanan untuk mencari hidupnya yang hilang, hanya keyakinan yang membawanya melangkah mencari kebahagiaan yang hilang, masa lalunya yang kelam telah menjadi cambuk baginya untuk terus melangkah, meninggalkan semua kenangan yang telah mengoyak hati dan jiwanya. Kebimbangan terus menghantui pikirannya, ingatannya kembali melayang pada masa lalunya, wajah orang-orang yang dicintainya terus menghinggapi pikirannya, hingga akhirnya dia tertidur, dibuai semua impian-impian yang membuatnya terlelap dibawah langit kota yang mulai memerah.
Satria terbangun ketika tetes-tetes air mulai berjatuhan dari langit, membasahi tubuhnya yang lusuh. Di emperan sebuah toko ia berteduh, menahan dinginnya malam dengan memeluk kedua lututnya, sementara perutnya mulai protes, meminta untuk segera diisi, tapi hari itu, tak ada sepeserpun uang yang tersisa dalam kantongnya. Hingga akhirnya, dia dikejutkan oleh suara halus yang memangilnya.
“Maaf mas, kalau mau ke Karang Pilang lewat mana ya?”. Belum sempat Satria menjawab pertanyaan, perempuan itu kembali bertanya.
“Maaf mas, apa saya mengenal anda? Betulkah anda Satria?”. Satria terkejut mendengar perempuan itu menyebut namanya, dan membuatnya memberanikan diri untuk menatap wajah perempuan itu, dia sangat mengenal wajah perempuan yang berdiri dihadapannya, tetapi perasaan malu menghinggapinya.
“Maaf saya tidak mengenal anda mbak, tapi kalau mau ke Karang Pilang, anda lurus saja, nanti sampai pertigaan anda belok kanan”.
“Terimakasih ya mas, tapi benarkah anda Satria? Saya Esti, dulu waktu SMP kita sekelas, saya tahu anda malu untuk mengakuinya, tapi luka di wajah anda tak akan membuat saya pangling”.
“Saya bukan Satria mbak, dan dari kecil saya tidak sekolah, mungkin kebetulan teman anda mirip dengan saya dan memiliki luka seperti saya. Tapi saya bukan teman anda, permisi”. Jawab Satria dengan ketus sambil mencoba berlalu dari tempat itu. Tapi Esti memburunya, dan menarik tangan Satria.
“Satria!! Kamu boleh lupa siapa aku, tapi aku yakin kamu tak akan melupakan Ayu bukan?!” Mendengar nama Ayu disebut-sebut, Satria menghentikan langkahnya, ingatannya kembali melayang pada masa lalunya, masa-masa indah yang pernah dilewatinya bersama Ayu. Tanpa terasa air mata mulai membasahi kelopak matanya. Esti terdiam, dia tahu betul apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
“Maafkan aku Es, aku memang Satria, tapi bukan Satria yang dulu pernah kau kenal, sekarang aku bukan apa-apa, aku hanya sampah kehidupan, jadi tolong tinggalkan aku sendiri, biarkan aku menjalani hidupku, biarkan aku melupakan masa laluku”.
“Tidak Satria, aku mengenal betul siapa kamu, kamu bukan orang yang mudah putus asa, sekarang lebih baik kamu ikut denganku, aku sahabatmu, aku tak akan membiarkan kamu hidup seperti ini”
“Terimakasih Es, tapi aku tak pantas untuk ikut denganmu, aku juga tidak mau membuatmu malu karena berteman dengan seorang gembel jalanan. sekali lagi terimakasih, maaf jika aku tidak bisa menerima tawaranmu” Satria mencoba menolak ajakan Esti, tetapi Esti terus memaksa, hingga akhirnya Satria pun menuruti ajakan Esti untuk pulang kerumah saudaranya di Karang Pilang.
Dalam perjalanan, Satria hanya diam, dia masih tak percaya bahwa di kota besar yang penuh kesombongan masih ada orang yang mau peduli padanya, apalagi orang tersebut adalah sahabatnya sendiri, yang sudah hampir 10 tahun berpisah. Esti pun hanya terdiam, dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya, sengaja dia tak mengajak Satria bicara, karena Esti sangat mengenal sifat Satria. Tak terasa mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman sebuah rumah, yang tak lain adalah rumah saudara Esti. Setelah mandi dan makan malam, Satria menceritakan semua yang telah dialaminya pada Esti, mulai dari saat Ayu meninggalkannya sampai ia mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan semua masa lalunya. Esti terharu mendengar cerita sahabatnya itu, bagiamanapun juga, Satria adalah orang yang sangat dia kenal, apalagi dulu, ketika masih duduk di bangku SMP, antara Ayu, Esti dan Satria bersahabat.
“Satria....jika engkau benar-benar mencintai Bunga, mengapa engkau tak mencoba untuk menjelaskannya? mengapa engkau pergi dan hanya meninggalkan sepucuk surat tanpa mencoba mencari tahu jawabannya?”
“Esti....kamu tahu....dulu aku berpisah dengan Ayu karena orang ketiga, dan aku sangat membenci orang itu. Sedangkan waktu itu, Bunga punya kekasih, dan aku tak ingin menjadi orang ketiga, aku tak mau menjadi orang yang aku sendiri sangat membencinya. Aku tak ingin jadi orang ketiga dalam hidup bunga”
“Aku tahu perasaanmu.....ternyata kamu tak pernah berubah.....dari dulu sampai sekarang, prinsip hidupmu tak pernah berubah, aku salut.....tapi sayang....kamu tak pernah mencoba untuk mengejar kebahagianmu, kamu lebih memilih menderita demi kebahagiaan orang lain”
“Hanya itu yang bisa aku lakukan Es....aku tak bisa memberikan apapun untuk mereka, selain mengorbankan diriku demi kebahagiaan mereka.....”
“Kalau benar ceritamu, saat ini Bunga hampir wisuda, kenapa kau tak mencoba lagi? Siapa tahu dia sudah berubah”
“Entahlah Es...aku takut....cukup sudah apa yang aku alami, aku sudah cukup bahagia dengan keadaanku saat ini, aku juga tak ingin merusak kebahagiaan Bunga di hari wisudanya”
“Ayolah sobat....aku yakin kamu bisa....setidaknya Bunga akan lebih berbahagia bila kamu hadir di hari wisudanya, dulu kamu pandai berteater, kenapa tak kau coba lagi? Datanglah sebagi seorang sahabat, bukan sebagai orang yang mencintai Bunga. Jadilah seorang sahabat untuk Bunga, kamu pasti bisa dan harus bisa”
“Jangan paksa aku Es....aku bukan yang dulu lagi....semua telah berubah....”
“Terserah kamu Satria!! Setidaknya untuk sekali ini saja, kamu buktikan bahwa kamu sahabatku yang dulu, yang penuh keyakinan dan tak pernah putus asa!! Dua hari lagi aku pulang dan kamu harus ikut, buktikan bahwa kamu adalah sahabatku!!” jawab Esti ketus sambil meninggalkan Satria yang termangu di terasa sendirian.
Satria terdiam, pikirannya melayang, sementara langit mulai meneteskan kembali gerimis, gerimis yang mengiris hati seorang lelaki yang terpuruk ditengah kerasnya kehidupan.
******
Pagi itu, tampak puluhan mobil berjajar di lapangan bola sebuah perguruan tinggi swasta di Purwokerto, orang-orang sibuk hilir mudik menyelesaikan pekerjaannya masing-masing, sementara itu mulai tampak beberapa orang mengenakan toga, dan diantara mereka, tampaklah seorang gadis dengan senyumnya yang manis sedang bercanda dengan teman-temannya. Hari itu adalah hari wisuda, dan gadis itu tak lain adalah Bunga, dia berhasil menyelesaikan studinya setelah 5 tahun belajar di perguruan tinggi tersebut. Setelah acara wisuda selesai, banyak orang bergerombol untuk berfoto bersama dan saling bersalaman untuk mengucapkan selamat. Sementara itu, di bawah sebuah pohon di pojok lapangan, tampak seorang lelaki kurus duduk dengan gelisah, keresahan terpancar dari wajah dan tatapan matanya yang kosong, lelaki itu tak lain adalah Satria, pikirannya terus melayang pada semua kenangannya di kampus itu, kampus biru yang penuh kenangan. Satria tersentak dari lamunannya ketika tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dan memangil namanya, kontan Ia menoleh, seorang lelaki telah berdiri disampingnya, perlahan tapi pasti Ia berdiri dan menyalami lelaki itu.
“Budi....apa kabar? Sedang apa disini?”
“Kabarku baik, aku sedang menunggu Maya, dia wisuda hari ini. Kamu sendiri sedang apa?”
“Aku sendiri bingung, tadinya aku kesini ingin bertemu dengan Bunga, tapi sekarang aku ragu, kamu lihat kebahagiaannya kan? Aku tak ingin merusak hari bahagianya”
“Mengapa harus ragu? Bunga sendiri sebenarnya juga ingin ketemu kamu, tapi kamu sendiri menghilang seperti ditelan bumi. Kebetulan Maya satu kos sama Bunga, tiap kali aku datang kesana, Dia selalu menanyakanmu”
Akhirnya mereka berdua bercerita tentang perjalanan hidup mereka masing-masing. Dulu, semasa masih kuliah, Satria dan Budi tinggal satu rumah, mereka masih kerabat, tetapi mereka beda fakultas, Satria di Fakultas sastra, sedangkan Budi di fakultas teknik.
“Mas Satria...apa kabar? Tak pernah kelihatan kemana saja?” terdengar suara seorang gadis menyapa.
“Eh Maya...selamat ya, sekarang kamu sudah jadi sarjana, rencana selanjutnya gimana? Sebentar lagi jadi nyonya Budi neh...” jawab Satria setengah bercanda.
“Ah...Mas Satria bisa saja, ternyata lima tahun tak merubah, masih seperti dulu, suka ngerjain orang”
“ Iya neh....aku belum bisa berubah, abis orang yang kuharapkan bisa merubah hidupku belum ada”
“Tuh kan...kumat lagi, sekali-kali cerita yang indah-indah dong....jangan yang sedih-sedih melulu”
“Entahlah May, memang dari dulu aku tak punya cerita yang indah-indah, mungkin kesedihan sudah jadi bagian dari hidupku”
“Sudahlah Mas, tak usah dipikirkan terus, kalau memang kenyataannya seperti itu mau gimana lagi, terima saja dengan ikhlas, toh Tuhan tak akan memberikan ujian yang umatnya tak mampu menerimanya. Eh Mas, kapan nih kita jalan-jalan lagi seperti dulu?” Maya mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi yang ditanya hanya diam saja, matanya terus memandangi seorang gadis yang sedang bercanda dengan teman-temannya, tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Mas...” Maya menepuk bahu Satria, yang dipanggil pun tersentak.
“Eh sorry, kamu ngomong apa tadi” jawab Satria, mencoba menutupi rasa kagetnya.
“Itu Bunga Mas, kenapa tak ditemui? Setidaknya beri dia ucapan selamat, pasti Mas sudah kangen berat sama Dia” Satria terdiam, tatapan matanya kosong, ada keraguan menyelimuti dirinya.
“Tuh kan....melamun lagi, maaf ya kalau tadi menyinggung perasaan Mas”
“Nggak apa-apa kok May, aku cuma ragu untuk ketemu Bunga”
“Loh....kok gitu sih...aku yakin Mas kesini untuk ketemu Bunga, kenapa sekarang nggak jadi? Ayo dong Mas, dimana Satria yang dulu? Yang dikenal orang super cuek?”
“Iya tuh May, sekarang dia jadi seperti itu, padahal dulu Dia nggak seperti ini” Budi ikut menimpali.
“Beginilah aku yang sekarang, memang aku kesini untuk menemui Bunga, tapi ketika aku melihatnya, ada ketakutan yang hadir, sedang aku sendiri tak pernah tahu apa yang aku takutkan, jujur saja aku masih sangat mengharapkannya, tapi aku tahu itu tak mungkin, aku hanya bisa pasrah pada nasib” jawab Satria sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Kalau begitu, kenapa tak dipastikan saja, siapa tahu sekarang Bunga mau menerima kehadiran Mas Satria, kenapa sekarang nggak dicoba? Mumpung ada kesempatan loh Mas”
“Entahlah May, aku masih ragu, tapi aku akan mencobanya”
“Nah gitu dong...itu baru saudaraku” jawab Budi sambil menepuk-nepuk bahu Satria. Perlahan tapi pasti, Satria bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dimana Bunga berada, meninggalkan Budi dan Maya. Sementara itu, Bunga sedikit terkejut ketika melihat seorang laki-laki mendekat kearahnya.
“Satria...” gumannya lirih menyebut nama laki-laki itu.
“Bunga...!!” Baru beberapa langkah Satria beranjak dari tempatnya duduk, terdengar suara seorang laki-laki memanggil dan menghampiri Bunga kemudian memeluk dan mencium pipi Bunga dengan mesra. Satria terpaku ditempatnya berdiri, tubuhnya lemas, tak mampu berbuat apa-apa, hanya diam dan membisu, tak terasa butir-butir air bening mulai mengalir dari kelopak matanya yang sayu. Budi dan Maya pun ikut terkejut melihat apa yang baru saja terjadi, sebenarnya mereka tahu siapa yang datang dan memeluk Bunga, lelaki itu tak lain adalah tunangan Bunga, tetapi mereka tak berani menceritakannya pada Satria, mereka takut melukai perasaan sahabatnya itu. Satria kemudian berbalik arah dan berjalan meninggalkan kampus itu, membawa semua perasaan dan harapannya yang tak pernah terwujud. Budi dan Maya hanya bisa saling pandang tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Satria!!” teriak Budi dan Maya, tetapi yang dipanggil diam saja, dan terus berjalan meninggalkan mereka yang masih terbengong. Mereka tahu apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu, sebuah kisah cinta anak manusia yang tak pernah bersatu, cinta seorang lelaki malang yang terbuang dan dirampas oleh kenyataan.
Sementara itu, suasana dikampus itu mulai sepi, yang terlihat hanyalah beberapa orang pekerja sedang membersihkan sampah yang berserakan disana-sini, dan mungkin diantara sampah-sampah itu, terdapat kepingan-kepingan hati Satria yang hancur dan berceceran.
******
Pada suatu senja, disebuah pedesaan yang sepi, tampak beberapa orang penduduk bergerombol di areal persawahan ditepi rel kereta api, mereka menemukan sesosok mayat laki-laki tak dikenal tergeletak berlumuran darah, mungkin karena tersambar kereta api yang baru saja lewat, hanya selembar kertas yang berisi sebuah puisi cinta, yang ditemukan dalam genggaman mayat laki-laki itu. Dan gerimis pun mulai turun membasahi bumi, membasuh hati nurani manusia yang terbakar panasnya dunia.
(Purwokerto, April 2005)