Monday, November 5, 2007

Kisah - Kisah Kehidupan

Wasiat Leluhur

Sebelum Kakekku menghembuskan nafasnya yang terakhir, beliau pernah berpesan kepadaku “Jika kamu ingin hidup bahagia, jadilah orang yang setia”. Dan aku tak pernah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh almarhum Kakekku itu, dan sebelum aku mengerti hal itu, Ayahku juga memberiku pesan yang sama sebelum wafatnya. Aku semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan kedua leluhurku itu, namun seiring dengan semakin tingginya sang surya, aku mulai mengerti apa yang mereka maksud dan ternyata itu adalah sebuah hal yang sangat sederhana sekali. Aku tahu bahwa jika kita ingin hidup bahagia, kita harus setia dan konsekuen dengan apa yang kita harapkan dan kita kerjakan. Jika ingin hidup bahagia dari segi materi dan finansial, kita harus setia dengan pekerjaan kita, karena dengan bekerja bersungguh-sungguh, kita akan mendapat apa yang kita inginkan. Begitu juga apabila kita ingin bahagia dan langgeng dengan keluarga, kita harus setia dengan pasangan hidup kita dan kita juga harus konsekuen dengan semua yang telah menjadi komitmen kita. Namun, ketika penderitaan hadir menerpa kehidupanku, haruskah aku juga setia dengan penderitaan?! Dan aku masih belum bisa mengerti dengan satu hal itu dan aku masih terus mencoba untuk mencari jawabannya.
Kesetiaan ternyata menjadi suatu momok yang sangat menakutkan dalam setiap langkah kehidupanku, entah mengapa aku harus merasa seperti itu, mungkin pengalaman masa laluku yang begitu tragis, yang membuat aku jadi seperti ini. Aku pernah mencoba untuk setia dengan cintaku, namun ternyata kenyataan tak pernah bisa sejalan dengan semua impianku tentang cinta. Dia yang selama ini bersamaku tiba-tiba datang dan memohon doa restu dariku, aku tak mampu berbuat banyak selain merelakan dan melepaskannya, meskipun harus kureguk manisnya empedu, aku menyadari bahwa ada saatnya dimana kita harus melepaskan orang yang kita cintai, bukan karena orang tersebut berhenti mencintai kita, tapi karena kita menyadari bahwa orang yang kita cintai akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya. Dan bicara soal cinta, aku pernah bertanya tentang satu hal kepada Ibuku, “Kenapa aku dilahirkan?!” Ibuku menjawab dengan penuh keyakinan “Kamu dilahirkan karena cinta dari Tuhan yang dititipkan melalui air mani ayahmu, dan kamu juga tumbuh dan dibesarkan dengan cinta Tuhan yang mengalir melalui air susu” Aku mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Ibuku, karena saat itu, aku sama sekali belum mengenal cinta, dan aku terus membayangkan, betapa indah dan sangat berharganya cinta. Namun ketika aku mulai mengenal dan memahami arti cinta, semua menjadi gelap, karena semua bayanganku tentang cinta tak pernah sama dengan kenyataan. Aku baru menyadari bahwa ternyata cinta itu penuh dengan tipu muslihat, penuh dengan intrik-intrik busuk, penuh dengan kemunafikan dan cinta hanya melahirkan sebuah penderitaan yang panjang, yang hanya membuat aku terpuruk dalam ketidakberdayaan, hingga akhirnya aku kembali pulang dan bertanya “Kenapa cinta membuatku menderita?!” Ibuku hanya menjawab “Kelak kamu akan mengerti semuanya”, dan sampai saat ini pun aku masih belum bisa mengerti dan memahami apa yang pernah dikatakan oleh ibuku.
Aku masih terus mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaanku sendiri dalam setiap jejak langkah kakiku, meski kadang aku ragu dan selalu ragu untuk melangkah kedepan. Aku masih berdiri dipersimpangan jalan hidupku, mematung mencari jalan mana yang akan aku pilih, aku juga masih belum bisa melihat jauh kedepan, karena kabut dan mendung selalu menutupi pandanganku, namun aku terus mencoba dengan langkah yang terseok, meski kesunyian dan gerimis tertumpah dari langit hatiku. Hingga akhirnya aku hanya bisa membiarkan hidupku mengalir apa adanya, karena bagiku, kehidupan itu seperti air mengalir, menghempas batu-batu lalu meresap ketanah. Dan aku terjebak dalam dunia yang aku ciptakan sendiri, aku tak bisa keluar, tenggelam dalam airmata dan darahku sendiri hanya karena satu kata “kesetiaan” dan sebuah pertanyaan “Haruskah aku setia dengan semua penderitaan ini?!” , aku tak tahu jawabnya dan aku hanya bisa menanti mentari tenggelam dalam pelukan malam tanpa pernah aku mengharapkan rembulan menghiasi malamku, dan pada saat itulah aku akan menyanyikan semua syair tentang keabadian karena bagiku, “Kematian adalah kidung indah”.





Di Jogja, Kutinggalkan Cintaku

Malam ini, aku merasa begitu kesepian, apalagi hujan diluar masih terus turun dengan derasnya, melengkapi kesendirianku malam ini. Kucoba untuk mendengarkan radio, mencoba menghibur diri, namun wajah Putri masih terus saja terbayang, dan aku semakin merasakan kerinduan yang begitu hebatnya pada Putri, padahal baru tiga hari kami berpisah, karena Putri harus pergi ke Jogja untuk melakukan penelitian. Akhirnya aku mencoba menelpon Putri, namun yang mengangkat telponnya Novi, teman kuliah Putri yang kebetulan satu kelompok dalam penelitian itu. “Mas, sebentar ya, Putri lagi di kamar mandi, ada apa sih mas? kangen ya? masa baru ditinggal kemarin aja sudah nggak tahan, he..he…” jawab Novi mencoba meledek, “Iya nih Nov, aku kangen berat, suruh cepetan dong?!”, ”Mas, nih Putri mau ngomong, dia sudah selesai” akhirnya semua kerinduanku sedikit terobati, lama sekali kami ngobrol hingga akhirnya pembicaraan kami terputus karena pulsaku habis “Sialan, padahal aku masih kangen” aku hanya bisa menggerutu dalam hati.
Waktu sudah menunjukan pukul 01.30 dini hari, tapi mataku masih juga tidak mau terpejam, wajah Putri masih saja terus menari-nari di kedua kelopak mataku, aku mulai merasa resah, karena ternyata, hanya mendengar suaranya saja belum cukup bagiku untuk mengobati kerinduanku pada Putri, aku ingin sekali melihat wajahnya. Akhirnya aku ambil keputusan, malam ini, aku harus berangkat ke Jogja untuk bertemu dengan Putri, dan didorong rasa rindu yang begitu hebat, aku nekat untuk pergi ke Jogja. Aku tinggalkan Purwokerto dengan penuh keyakinan, meski gerimis masih menghiasi malam, tapi aku merasa perjalananku tidak akan sia-sia, karena jauh didalam lubuk hatiku, ada semangat yang menyala, menghangatkan malam yang dingin. Kujelajahi pagi ini dengan penuh pengharapan pada mentari yang akan menghangatkan kesunyianku ini.
Sesampainya di Jogja, aku sms Putri, bahwa pagi ini aku berada di Jogja, tapi berkali-kali aku sms Putri, tidak pernah dijawab, mungkin aku dikira bohong, akhirnya setelah beristirahat sejenak dirumah teman, aku telpon HP-nya dari wartel, aku ingin dia percaya bahwa saat ini aku memang berada di Jogja, tapi kembali yang kudengar suara Novi diseberang sana, “Novi, aku sekarang di Jogja, kalian dimana?”, ”Aku dirumah Reni, mas dimana?”, ”Aku dirumah temanku, rumah Reni dimana?”, ”Aku ndak tahu mas, aku ndak hapal Jogja”, akhirnya kututup telpon dengan penuh tanda tanya, mengapa mereka sedikit merahasiakan keberadan mereka, padahal aku tahu pasti bahwa Novi sering keluyuran di Jogja, jadi tidak mungkin kalau dia tidak tahu alamat rumah Reni.
Hari semakin siang, dan perasaanku semakin tak menentu, karena aku mulai merasa bahwa perjalananku kali ini akan sia-sia, tapi aku nggak mau berprasangka buruk, akhirnya kuputuskan untuk bejalan-jalan ke Malioboro, sekedar untuk menghilangkan penatku, sekalian aku mencari buku untuk bahan kuliah. Dan ketika aku keluar dari sebuah book store di Malioboro Mall, secara tidak sengaja, aku bertemu dengan mereka, “Mas, lagi ngapain?”, aku terkejut mendengar sebuah suara yang sangat aku kenal dibelakangku, “Eh, Putri?! aku lagi nyari buku untuk bahan ujian minggu depan” jawabku sekenanya, karena aku masih belum percaya kalau aku bisa bertemu Putri di Jogja, aku bahagia sekali saat itu, karena harapanku untuk bertemu Putri menjadi kenyataan. “Mas, kenalkan ini teman Putri” aku menjabat tangan mereka satu persatu, tapi aku masih penasaran dengan seorang cowok pendiam yang berjalan disamping Putri, apalagi mereka kelihatan begitu mesra, tapi aku masih mencoba untuk sabar dan menahan diri, aku nggak mau terjadi salah paham antara aku dengan Putri, aku nggak mau pertemuanku dengan Putri kali ini menjadi sebuah malapetaka bagiku, walaupun ada berjuta perasaan yang ingin kuungkapkan padanya.
Waktu terus berlalu dan gerimis masih dicurahkan dari langit, seolah-olah ingin mendinginkan pikiranku yang mulai panas, hingga akhirnya aku diajak untuk mampir kerumah Reni, aku hanya bisa mengangguk memenuhi ajakan mereka, karena aku pikir, dirumah Reni nanti aku bisa bercerita tentang banyak hal pada Putri. Namun, apa yang aku harapkan tak pernah terwujud, karena cowok pendiam yang belakangan kuketahui bernama Wahyu terus berada disisi Putri, sehingga tidak memungkinkan aku untuk membicarakan hal-hal pribadi dengan Putri. Aku hanya bisa melihat bahwa dimata Putri ada sesuatu yang terpendam, ada hal yang seolah-olah ingin diceritakan, tapi tak bisa terucap. Aku pun hanya bisa menghabiskan waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul nggak karuan dengan teman-teman Putri. Tapi ada satu hal yang tak pernah bisa aku mengerti, setiap kali aku mencoba bertanya tentang Wahyu, mereka selalu mengelak dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Hingga akhirnya Dian, teman Putri, bercerita bahwa Wahyu adalah tunangan Putri, mereka dijodohkan oleh orang tua mereka sejak mereka masih kecil, aku hanya terdiam mendengar cerita dari Dian, aku merasa seperti tersambar petir disiang bolong. Aku tak mampu bicara sepatah kata pun, dan gerimis sore ini mewakili perasanku, menggantikan airmataku yang tak bisa kutumpahkan.
Aku terus diam, mencoba untuk menenangkan diri, tapi gejolak dalam diri semakin membuatku merasa tersiksa, aku semakin tak kuasa untuk menahan diri, akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan Jogja sore ini juga, meski gerimis masih mengguyur kota ini. Kutinggalkan Jogja dengan penuh kekecewaan, dan aku pun hanya bisa pasrah dan menyadari bahwa pasti akan tiba saatnya dimana kita harus melepaskan orang yang kita cintai, bukan karena orang yang kita cintai berhenti mencintai kita, tetapi karena kita menyadari bahwa orang yang kita cintai akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya. Dan hanya sebaris kata yang kutinggalkan, selamat tinggal Jogja, selamat tinggal cinta, semoga engkau bahagia bersamanya…

Perjalanan

1.
Kujelajahi pagi
penuh keyakinan
demi bidadari
dibumi mataram

2.
Kutinggalkan Jogja
Penuh keresahan
…………………
…………………






Selamat Jalan Cinta…

Hujan masih terus turun dengan derasnya, kilat dan halilintar juga ikut menghias langit malam yang kelam. Bayu masih terdiam dikamarnya sambil memegangi dadanya, sesekali terdengar erangan dari bibirnya yang membiru, sementara diatas meja, disisi tempat tidur, telihat beberapa botol obat berserakan serta bercak-bercak darah yang berceceran di lantai. Dan dari sorot matanya terlihat ada beban berat yang menyiksa, yang tak bisa terungkap. Sudah beberapa hari ini Bayu merasakan sakit di dadanya, tapi hal itu selalu dirahasiakan kepada semua orang, sifatnya yang keras menyebabkan dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain. Ingatannya terus melayang pada masa lalunya, teringat masa-masa indah bersama Putri, seorang gadis lemah lembut yang telah menaklukan hatinya yang keras, gadis yang telah merubah kehidupannya dan sangat dicintainya, yang kini entah berada dimana. Sementara itu, Ardi sahabat Bayu, terus menerus mencoba menghubungi handphone Bayu, tetapi masih tidak bisa dihubungi, Ardi tahu pasti dengan apa yang terjadi pada Bayu, karena hanya kepada Ardi, Bayu berbagi cerita, apalagi mereka sudah bersahabat sejak kecil. Perasaan Ardi terus berkecamuk, dia sangat khawatir dengan keadaan Bayu, apalagi setelah dia tahu bahwa Bayu sakit.

Langit masih begitu gelap, sementara waktu terus berjalan dengan lambat, dan Ardi terus memikirkan keadaan sahabatnya, apalagi kata-kata Bayu terus menerus terngiang ditelinganya, “Ardi, tolong sampaikan pada Putri, bila saatnya tiba, aku ingin Putri ada disini, aku ingin bersamanya pada saat-saat terakhirku”, kata-kata itu terus menerus membayangi Ardi, karena Ardi tahu bahwa Bayu tidak pernah main-main dengan apa yang diucapkan. Kegelisahan Ardi semakin menjadi-jadi, apalagi setelah dia mendengar kabar dari teman Bayu, bahwa Bayu sekarang berada di rumah sakit. Dia tidak bisa membayangkan keadaan Bayu saat ini, apalagi jarak yang jauh memisahkan mereka. Ardi segera mengemasi barang-barangnya, malam ini juga dia akan segera berangkat untuk menjenguk sahabatnya. Gerimis masih terus turun, ketika Ardi sampai dirumah sakit, dia langsung menuju ke tempat dimana Bayu dirawat. Perasaannya sedikit lega ketika melihat Bayu sedang tertidur, dia hanya bisa memandangi wajah pucat sahabatnya yang seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, wajah pucat yang penuh dengan goresan luka kehidupan.
Ardi tertidur disisi ranjang tempat Bayu dirawat, ketika terdengar suara memanggil namanya. Ardi terbangun, dan memandang Bayu yang tersenyum kepadanya, dia tahu bahwa senyum itu adalah senyum yang penuh dengan luka, senyum yang dipaksakan untuk menutupi rasa sakit yang mendera.
“Ardi, maafkan aku, aku selalu merepotkanmu”
“Sssst, jangan katakan itu, yang penting sekarang kamu harus banyak istirahat, kamu harus cepat sembuh, aku akan tetap berada disini menemanimu”
“Tapi….”
“Tolong, jangan bicarakan hal itu sekarang, aku tahu apa yang ingin kamu ucapkan”, Ardi memotong kata-kata Bayu, dia tahu bahwa sahabatnya itu pasti akan membicarakan soal Putri. Ardi sebenarnya bingung, karena dia sendiri tidak tahu saat ini Putri berada dimana, demi sahabatnya itu, dia pernah mencoba mencari Putri, bahkan pernah mencoba menanyakan kepada orang tua Putri, tapi sayang orang tua Putri merahasiakan hal itu pada Ardi, entah apa maksudnya.
Mendung masih menghiasi langit, sementara keadaan Bayu semakin parah, hanya matanya yang terlihat memohon pada Ardi untuk mencari Putri. Ardi tahu bahwa kali ini Bayu tidak main-main, dengan langkah berat dia tinggalkan rumah sakit untuk mencari Putri, meski dia tidak tahu kemana harus mencari Putri, yang seolah-olah hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Ardi terus berjalan menyusuri jalanan becek menuju kerumah Putri, dia yakin bahwa kali ini dia akan menemukan Putri dan demi sahabatnya, dia akan lakukan apa saja untuk menemukan Putri. Sesampainya dirumah Putri, keraguan masih terus menyelimuti dirinya, apalagi dia teringat dengan orang tua Putri yang seolah-olah tidak mau menerima kehadirannya, tapi demi sahabatnya, Ardipun melangkah dan mengetuk pintu rumah Putri, tapi sepertinya sepi, namun beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki dari dalam menuju pintu, dan pintu pun kemudian terbuka perlahan-lahan, dari dalam munculah sesosok perempuan muda berparas ayu, tak salah lagi dialah Putri, ternyata memang nasib baik bagi Ardi, karena dia tidak terlalu susah untuk menemukan Putri. Keduanya terperanjat ketika bertemu muka, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ardi?! tumben kesini? ada apa?”
“Iya Put, aku hanya mampir, apa kabar?”, Ardi mencoba berbasa-basi.
“Aku baik-baik saja, masuk dulu yuk?! nggak baik ngobrol di pintu”, dan Putri pun menarik tangan Ardi, mengajaknya duduk keruang tamu, ternyata Putri masih seperti dulu, ramah dan baik, tidak salah kalau Bayu jatuh cinta pada Putri, meskipun mereka harus berpisah karena orang tua Putri tidak merestui hubungan mereka dan menjodohkan Putri dengan orang lain.
“Kok sepi Put? orang tuamu kemana?”
“Mereka lagi ada kepentingan diluar kota, jadi aku harus menjaga rumah, eh gimana kabar Bayu? kok nggak diajak kesini?”, Ardi hanya terdiam mendengar pertanyaan Putri, dia seperti tidak tega untuk mengatakan hal yang sesungguhnya kepada Putri, apalagi saat itu Putri terlihat bahagia, tapi akhirnya Ardi pun mencoba untuk mengatakan apa yang terjadi dengan Bayu kepada Putri, meski berat untuk mengatakannya.
“Gimana ya, memang aku kesini untuk ngasih kabar ke kamu tentang Bayu, dia sekarang sakit dan dirawat dirumah sakit, dia ingin ketemu kamu Put?!”
“Hah…sakit?! sakit apa? sejak kapan penyakit doyan sama dia? parah nggak?”, Putri sedikit terkejut mendengar kabar itu, tapi masih mencoba untuk menutupi kecemasannya, Ardi pun melanjutkan ceritanya tentang Bayu. Ardi menceritakan semuanya, dan terlihat airmata mulai membasahi pipi Putri.
“Put, sorry ya, aku mesti ngomong begini, aku nggak mau bikin kamu sedih, tapi memang inilah kenyataannya, Bayu ingin ketemu kamu?!”
“Nggak apa-apa kok, aku ngerti perasaannya, aku juga pengin ketemu dia, tapi kan kamu juga tahu dengan apa yang terjadi padaku?!”
“Aku tahu Put, aku ngerti semuanya, tapi aku mohon Put, bahagiakan Bayu kali ini, sejak berpisah denganmu, dia berubah, dia sering menyendiri dan jarang tersenyum, selama ini dia tak pernah merasa bahagia, jadi sekali lagi aku mohon Put, bahagiakan dia pada saat-saat terakhirnya, please….Put?!”, Putri hanya menangis terisak mendengar permintan Ardi, dia tidak mampu mengatakan apa-apa lagi, dan hanya mengangguk perlahan.
“Terima kasih Put, kalau begitu kita berangkat sekarang”
“Baiklah, aku bersiap-siap dulu ya?!”, Ardi menganguk, dan Putri segera beranjak dari tempat duduknya menuju kekamarnya.
Sore itu, mentari masih saja belum mau menunjukkan sinarnya, seolah-olah ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh Bayu. Berlahan-lahan, tangan Bayu menuliskan beberapa baris kata, entah apa yang ditulisnya. Jam menunjukkan pukul 18.30 WIB, ketika Ardi dan Putri sampai dirumah sakit. Sesampainya di kamar tempat Bayu dirawat, Putri langsung memeluk tubuh Bayu yang terbaring tak berdaya sambil menangis terisak, tapi Bayu yang saat itu sedang tertidur karena obat penenang, diam tak bergerak.
“Bayu… maafin Putri….” susasana begitu hening, hanya suara alat pendeteksi jantung yang berbunyi perlahan. Perlahan-lahan, Bayu membuka kelopak matanya, dan butiran-butiran bening mulai membasahi pipi Bayu, ketika dia melihat Putri, perlahan bibirnya mulai tersenyum, Bayu merasa bahagia sekali melihat Putri ada disisinya.
“Put, maafin aku, aku selalu membuatmu terluka”
“Bayu, jangan katakan itu, aku yang salah, aku yang selama ini telah membuatmu menderita, dan kini, aku berada disini untuk membahagiakanmu, aku nggak ingin berpisah lagi denganmu, aku sayang kamu, aku mencintaimu…”
“Terima kasih Put, aku bahagia sekali, aku juga nggak mau berpisah denganmu, tapi maafkan aku, aku harus pergi, aku lelah, aku ingin istirahat, relakan aku Put, aku mencintaimu…”, dan suara tangis Putri semakin menjadi, ketika perlahan-lahan mata Bayu mulai tertutup, hanya seulas senyum yang tertinggal dibibirnya yang mulai membiru, senyum kebahagiaan karena keinginan untuk bertemu dengan orang yang dicintainya terkabul. Namun Putri masih belum bisa menerima kenyataan dan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, dia terus memeluk dan mengguncang-guncang tubuh Bayu yang diam tak bergerak.
“Bayu…jangan pergi, jangan tinggalkan Putri…”
“Sudahlah Put, relakan dia pergi, biarkan dia istirahat dengan tenang, biarkan dia bahagia disisinya…”, dan Putri terus menangis dalam pelukan Ardi, sementara itu, gerimis mulai turun membasahi bumi, seperti airmata yang tumpah dari langit, menghiasi cakrawala yang gelap, mengiringi kepergian Bayu, ketempat tenang dan penuh kedamaian.
Pagi itu, mendung masih bergelayut dilangit, hanya isak tangis yang terdengar dipemakaman, ketika secara berlahan-lahan, tubuh Bayu yang terbungkus kain kafan mulai diturunkn ke liang lahat. Putri masih terus menangis dipusara Bayu. Sementara itu, satu persatu orang-orang mulai meninggalkan areal pemakaman, hanya Ardi dan Putri yang masih tinggal dipemakaman.
“Put, sudahlah…aku ngerti perasaanmu, aku juga sayang sama Bayu, relakan dia, biarkan dia tenang, untuk apa disesali, toh dia juga nggak akan kembali, kita pulang yuk…”, dan Ardi pun menggandeng tangan Putri, berlahan-lahan mereka beranjak meninggalkan gundukan tanah merah yang masih basah. Sesampainya dimobil, Ardi memberikan selembar kertas kepada Putri, dan Putri membacanya dengan penuh haru.
Teruntuk : Putri.
aku tahu…
kenyataan begitu pahit
karena itu…
aku lari darinya
aku juga tahu…
kehidupan penuh dengan penderitaan
karena itu…
aku meninggalkannya
dan…
aku akan tetap menantimu
di taman kamboja
pada batu sunyi
yang terukir
namaku…

dariku yang mencintaimu.
Bayu.

Putri terus menangis terisak-isak, sementara gerimis masih terus turun, membasahi bumi yang berduka, berduka karena cinta sepasang kekasih yang direnggut maut.






Sepucuk Surat Biru

Sore itu langit tampak begitu cerah, memancarkan cahaya jingga dikaki langit belahan barat, dihiasi burung-burung manyar yang berterbangan untuk kembali pulang kesarangnya. Bunga terdiam dikamarnya, sepucuk surat yang digenggamnya mulai lusuh, sepucuk surat yang diberikan oleh Satria, sahabatnya yang kini entah berada dimana. Berkali-kali Bunga membaca surat itu, Ia seolah tak percaya dengan apa yang terjadi, karena ternyata Satria, orang yang selama ini begitu dekat dengannya, orang yang telah dianggapnya sebagai seorang kakak, memendam perasaan cinta kepadanya. Kembali Bunga memandangi surat itu....

Teruntuk: Bunga.

Sobat….aku tahu….aku mencintaimu, tapi aku juga tahu bahwa aku dan kau tidak akan mungkin bersatu, karena aku juga tahu bahwa kau ada yang memiliki….sungguh aku tak pernah berharap bahwa aku akan memiliki perasaan semacam ini, tapi semua itu terjadi begitu saja, dan aku tak pernah menginginkan perasaan ini hadir dalam hidup dan kehidupanku. Aku baru menyadari perasaan ini ketika aku bisa merasa tenang, merasa bahagia dan lepas dari semua masa laluku yang kelam saat kau ada. Aku merasa menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang dari hidupku, sesuatu yang bisa membuat aku kembali tersenyum, kembali merasakan hidup yang indah dan penuh harapan. Sobat……ada banyak hal yang ingin kuungkapkan kepadamu, tapi aku sadar, aku hanyalah seorang pengecut, Ya…seorang pengecut yang hanya bisa lari dari kenyataan, seorang pengecut yang tak berani menghadapi hidup, tepat seperti apa yang dikatakan orang-orang disekitarku, AKU MEMANG PENGECUT!!!!! Dan seorang pengecut tak pantas untuk berada didekatmu.

Sobat….mungkin kau tak pernah tahu apa yang menyebabkan aku menjadi seorang pengecut?!! Ya….aku menjadi seorang pengecut karena masa laluku, masa lalu yang telah menghancurkan sebagian hidupku, menghancurkan harapan yang pernah ada, melenyapkan semua cita-cita yang pernah aku bangun. Ada banyak hal yang telah terjadi, yang tak pernah aku ceritakan pada siapapun, juga pada sahabat-sahabatku. Kadang aku berpikir untuk mengakhiri saja hidup ini, tapi aku tak pernah sanggup melakukannya, ada satu hal yang membuat aku tak bisa melakukannya. Tahukah kamu?!! Ya…Ibuku, orang tuaku satu-satunya yang tersisa, yang membuat aku tak bisa melakukannya. Aku harus bisa mewujudkan pesan terakhir Bapakku untuk bisa membahagiakan Ibuku, aku tak bisa dan tak akan pernah mati, sebelum aku bisa mewujudkan keinginan almarhum Bapakku. Tapi….hal itu terlalu berat untukku, karena hidupku sendiri sudah hancur, aku tak bisa bangkit, semuanya sudah pupus, semuanya sudah hancur sejak aku kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku, orang-orang yang bisa membuat aku tersenyum. Aku sendiri tak pernah bisa mengerti mengapa aku harus mengalami nasib seperti ini.

Sobat….aku bukanlah apa-apa, aku hanyalah sampah yang terbuang dari kehidupan, aku tak pantas untuk bisa hidup bersamamu, sejak Ayu pergi meninggalkan aku, aku menyadari bahwa aku hanya orang yang tak berguna, yang hanya menjadi beban bagi orang lain, dari waktu kewaktu, aku hanya bisa berharap bahwa dia akan datang kembali untukku, tetapi kenyataannya?! Dia memang kembali, tapi bukan untukku, dia datang untuk meminta restu dariku, dia telah melupakan sumpahnya, begitu hancur perasaanku saat itu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa diam, hanya bisa menunduk dan merelakannya hidup bersama orang lain yang menjadi pilihan orang tuanya, aku sadar…bahwa ini yang terbaik baginya, karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membahagiakannya, karena aku tak bisa memberikan apa-apa selain merestuinya. Andai cinta tak memandang harta, mungkin aku sudah bahagia bersamanya. Hari demi hari kulewati dalam sepi, tanpa teman yang sanggup mengerti, aku hanya bisa mengenang 6 tahun yang kulewati bersamanya, 6 tahun yang penuh kebahagiaan, yang telah hilang, direnggut sang waktu. Hidupku begitu hampa, aku benar-benar kehilangan, hingga aku bertemu dengan Adhe, dengan kesabarannya, dengan kelembutan hatinya, dia membimbingku, menuntunku dan mengajakku untuk bangkit kembali dan menemukan kembali hidupku yang hilang. Ya, dialah yang mampu memberiku arti hidup dan kehidupan. Aku merasa begitu bahagia, meski bayang-bayang Ayu masih menghantuiku, tapi setidaknya aku bisa menemukan kembali harapanku yang hilang. Dialah Tuhan Kecilku, sang penyelamat hidupku, tapi ternyata…itu hanya sekejap, ketika setahun kemudian dia juga pergi meninggalkan aku. Aku kembali terpuruk, tergilas angkuhnya dunia. Politik memang kejam, tetapi cinta lebih kejam!!! Sekarang aku benar-benar tak mampu lagi untuk bangkit dan belari mengejar kebahagiaan, AKU MATI DALAM HIDUP.

Sobat…ada banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupku, bahkan aku sudah dianggap gila oleh orang-orang disekitarku, ya…mungkin karena kelakuanku yang semakin tak karuan, ucapan-ucapanku yang semakin tak terkontrol, tetapi aku bangga, bangga dengan semua “kegilaanku”, karena aku sadar, bahwa orang gila justru jauh lebih waras daripada orang yang mengaku dirinya waras. Banyak orang “waras” yang gila harta, gila kedudukan, gila wanita, tetapi sobat…pernahkah kau melihat orang gila yang mengejar-ngejar harta, mengejar-ngejar kedudukan dan mengejar-ngejar wanita?!! Tidak!!! Dan tidak akan pernah ada!!! Tetapi sebaliknya, orang gila justru melewati hari-harinya dengan apa adanya, dengan penuh kebahagian dan itu terbukti dengan banyaknya orang gila yang suka tertawa, bahkan sepanjang jalan yang dilewatinya. Mereka tak pernah merasa kesepian, tak pernah merasa sedih, meskipun mereka harus makan dari tong sampah dan tidur dikolong jembatan. Mereka begitu bahagia…dan aku ingin bahagia seperti mereka….

Sobat….aku sering berpikir, dan bertanya-tanya Benarkah Tuhan Itu Ada?!! Aku sering mendengar kicauan para ahli agama, bahwa tuhan itu maha adil dan tak akan membiarkan umatnya menderita, tetapi mengapa itu tak berlaku untukku?!! Jika tuhan itu memang ada dan maha adil, lalu dimana keadilan untukku?!! Bertahun-tahun aku hidup dalam kebimbangan, dalam sebuah pencarian, tanpa tahu apa yang sebenarnya aku cari. Aku merasa hidupku tak pernah berarti, aku melewati hari demi hari tanpa harapan yang pasti, banyak nama yang muncul dalam hidupku, tapi aku tetap tak mampu untuk melupakan masa lalu, tetap tak mampu untuk membuatku menemukan kembali hidupku. Aku takut pada satu makhluk bernama perempuan, bukan karena apa-apa, tapi karena aku pernah menderita karenanya. Aku tak ingin menderita lagi, aku tak ingin kehilangan lagi. Aku sudah cukup “bahagia” dengan semua penderitaan ini. Dan ketika aku bertemu denganmu sobat…aku hanya tahu, bahwa kau bisa membuatku kembali tersenyum, membuatku kembali menemukan hidup dan melupakan masa laluku….

Sobat…kalau boleh aku jujur padamu….aku hanya ingin mengatakan kepadamu, AKU MENCINTAIMU, TANPA ALASAN, itu saja. Semoga engkau mengerti…..

Dariku: Satria

Bunga terdiam, tak mampu berbuat apa-apa, karena saat ini Satria telah pergi, sahabatnya itu menghilang dua hari setelah wisuda, dan hanya meninggalkan sepucuk surat untuknya. Sementara itu, gerimis mulai turun, seiring airmata yang meleleh dari sudut mata Bunga, yang terpaku, mengenang sejenak perjalanan hidupnya bersama sahabatnya, yang hilang dan tak tentu rimbanya.

Berhari-hari Bunga mencoba mencari tahu keberadaan Satria, tetapi tak pernah ada yang tahu, kemana Satria pergi selama ini, hanya kekhawatiran yang muncul dalam benak Bunga, bahkan ketika dia berhasil menemukan rumah Satria, rumah itu sudah kosong. Bunga hanya mendengar cerita dari orang-orang disekitar situ bahwa sejak Ibunya meninggal, Satria juga ikut menghilang dan tak ada yang tahu kemana dia pergi, bahkan saudara-saudaranya pun tak ada yang tahu dimana Satria kini berada. Bunga semakin bingung, tak tahu harus berbuat apa. Bunga hanya bisa berharap dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan sahabatnya.

******

Pada suatu siang yang panas, tampak seorang lelaki tengah terduduk di sebuah trotoar, sejenak berteduh dari teriknya mentari yang tak kenal kompromi. Sementara itu, dihadapannya tampak orang-orang yang berlalu lalang, sibuk dengan kepentingannya masing-masing dan tak ada yang perduli dengan keberadaannya. Lelaki itu tak lain adalah Satria, sudah hampir 5 tahun Ia berkelana tanpa arah yang pasti, menyusuri jalanan untuk mencari hidupnya yang hilang, hanya keyakinan yang membawanya melangkah mencari kebahagiaan yang hilang, masa lalunya yang kelam telah menjadi cambuk baginya untuk terus melangkah, meninggalkan semua kenangan yang telah mengoyak hati dan jiwanya. Kebimbangan terus menghantui pikirannya, ingatannya kembali melayang pada masa lalunya, wajah orang-orang yang dicintainya terus menghinggapi pikirannya, hingga akhirnya dia tertidur, dibuai semua impian-impian yang membuatnya terlelap dibawah langit kota yang mulai memerah.

Satria terbangun ketika tetes-tetes air mulai berjatuhan dari langit, membasahi tubuhnya yang lusuh. Di emperan sebuah toko ia berteduh, menahan dinginnya malam dengan memeluk kedua lututnya, sementara perutnya mulai protes, meminta untuk segera diisi, tapi hari itu, tak ada sepeserpun uang yang tersisa dalam kantongnya. Hingga akhirnya, dia dikejutkan oleh suara halus yang memangilnya.
“Maaf mas, kalau mau ke Karang Pilang lewat mana ya?”. Belum sempat Satria menjawab pertanyaan, perempuan itu kembali bertanya.
“Maaf mas, apa saya mengenal anda? Betulkah anda Satria?”. Satria terkejut mendengar perempuan itu menyebut namanya, dan membuatnya memberanikan diri untuk menatap wajah perempuan itu, dia sangat mengenal wajah perempuan yang berdiri dihadapannya, tetapi perasaan malu menghinggapinya.
“Maaf saya tidak mengenal anda mbak, tapi kalau mau ke Karang Pilang, anda lurus saja, nanti sampai pertigaan anda belok kanan”.
“Terimakasih ya mas, tapi benarkah anda Satria? Saya Esti, dulu waktu SMP kita sekelas, saya tahu anda malu untuk mengakuinya, tapi luka di wajah anda tak akan membuat saya pangling”.
“Saya bukan Satria mbak, dan dari kecil saya tidak sekolah, mungkin kebetulan teman anda mirip dengan saya dan memiliki luka seperti saya. Tapi saya bukan teman anda, permisi”. Jawab Satria dengan ketus sambil mencoba berlalu dari tempat itu. Tapi Esti memburunya, dan menarik tangan Satria.
“Satria!! Kamu boleh lupa siapa aku, tapi aku yakin kamu tak akan melupakan Ayu bukan?!” Mendengar nama Ayu disebut-sebut, Satria menghentikan langkahnya, ingatannya kembali melayang pada masa lalunya, masa-masa indah yang pernah dilewatinya bersama Ayu. Tanpa terasa air mata mulai membasahi kelopak matanya. Esti terdiam, dia tahu betul apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
“Maafkan aku Es, aku memang Satria, tapi bukan Satria yang dulu pernah kau kenal, sekarang aku bukan apa-apa, aku hanya sampah kehidupan, jadi tolong tinggalkan aku sendiri, biarkan aku menjalani hidupku, biarkan aku melupakan masa laluku”.
“Tidak Satria, aku mengenal betul siapa kamu, kamu bukan orang yang mudah putus asa, sekarang lebih baik kamu ikut denganku, aku sahabatmu, aku tak akan membiarkan kamu hidup seperti ini”
“Terimakasih Es, tapi aku tak pantas untuk ikut denganmu, aku juga tidak mau membuatmu malu karena berteman dengan seorang gembel jalanan. sekali lagi terimakasih, maaf jika aku tidak bisa menerima tawaranmu” Satria mencoba menolak ajakan Esti, tetapi Esti terus memaksa, hingga akhirnya Satria pun menuruti ajakan Esti untuk pulang kerumah saudaranya di Karang Pilang.

Dalam perjalanan, Satria hanya diam, dia masih tak percaya bahwa di kota besar yang penuh kesombongan masih ada orang yang mau peduli padanya, apalagi orang tersebut adalah sahabatnya sendiri, yang sudah hampir 10 tahun berpisah. Esti pun hanya terdiam, dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya, sengaja dia tak mengajak Satria bicara, karena Esti sangat mengenal sifat Satria. Tak terasa mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman sebuah rumah, yang tak lain adalah rumah saudara Esti. Setelah mandi dan makan malam, Satria menceritakan semua yang telah dialaminya pada Esti, mulai dari saat Ayu meninggalkannya sampai ia mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan semua masa lalunya. Esti terharu mendengar cerita sahabatnya itu, bagiamanapun juga, Satria adalah orang yang sangat dia kenal, apalagi dulu, ketika masih duduk di bangku SMP, antara Ayu, Esti dan Satria bersahabat.
“Satria....jika engkau benar-benar mencintai Bunga, mengapa engkau tak mencoba untuk menjelaskannya? mengapa engkau pergi dan hanya meninggalkan sepucuk surat tanpa mencoba mencari tahu jawabannya?”
“Esti....kamu tahu....dulu aku berpisah dengan Ayu karena orang ketiga, dan aku sangat membenci orang itu. Sedangkan waktu itu, Bunga punya kekasih, dan aku tak ingin menjadi orang ketiga, aku tak mau menjadi orang yang aku sendiri sangat membencinya. Aku tak ingin jadi orang ketiga dalam hidup bunga”
“Aku tahu perasaanmu.....ternyata kamu tak pernah berubah.....dari dulu sampai sekarang, prinsip hidupmu tak pernah berubah, aku salut.....tapi sayang....kamu tak pernah mencoba untuk mengejar kebahagianmu, kamu lebih memilih menderita demi kebahagiaan orang lain”
“Hanya itu yang bisa aku lakukan Es....aku tak bisa memberikan apapun untuk mereka, selain mengorbankan diriku demi kebahagiaan mereka.....”
“Kalau benar ceritamu, saat ini Bunga hampir wisuda, kenapa kau tak mencoba lagi? Siapa tahu dia sudah berubah”
“Entahlah Es...aku takut....cukup sudah apa yang aku alami, aku sudah cukup bahagia dengan keadaanku saat ini, aku juga tak ingin merusak kebahagiaan Bunga di hari wisudanya”
“Ayolah sobat....aku yakin kamu bisa....setidaknya Bunga akan lebih berbahagia bila kamu hadir di hari wisudanya, dulu kamu pandai berteater, kenapa tak kau coba lagi? Datanglah sebagi seorang sahabat, bukan sebagai orang yang mencintai Bunga. Jadilah seorang sahabat untuk Bunga, kamu pasti bisa dan harus bisa”
“Jangan paksa aku Es....aku bukan yang dulu lagi....semua telah berubah....”
“Terserah kamu Satria!! Setidaknya untuk sekali ini saja, kamu buktikan bahwa kamu sahabatku yang dulu, yang penuh keyakinan dan tak pernah putus asa!! Dua hari lagi aku pulang dan kamu harus ikut, buktikan bahwa kamu adalah sahabatku!!” jawab Esti ketus sambil meninggalkan Satria yang termangu di terasa sendirian.
Satria terdiam, pikirannya melayang, sementara langit mulai meneteskan kembali gerimis, gerimis yang mengiris hati seorang lelaki yang terpuruk ditengah kerasnya kehidupan.

******

Pagi itu, tampak puluhan mobil berjajar di lapangan bola sebuah perguruan tinggi swasta di Purwokerto, orang-orang sibuk hilir mudik menyelesaikan pekerjaannya masing-masing, sementara itu mulai tampak beberapa orang mengenakan toga, dan diantara mereka, tampaklah seorang gadis dengan senyumnya yang manis sedang bercanda dengan teman-temannya. Hari itu adalah hari wisuda, dan gadis itu tak lain adalah Bunga, dia berhasil menyelesaikan studinya setelah 5 tahun belajar di perguruan tinggi tersebut. Setelah acara wisuda selesai, banyak orang bergerombol untuk berfoto bersama dan saling bersalaman untuk mengucapkan selamat. Sementara itu, di bawah sebuah pohon di pojok lapangan, tampak seorang lelaki kurus duduk dengan gelisah, keresahan terpancar dari wajah dan tatapan matanya yang kosong, lelaki itu tak lain adalah Satria, pikirannya terus melayang pada semua kenangannya di kampus itu, kampus biru yang penuh kenangan. Satria tersentak dari lamunannya ketika tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dan memangil namanya, kontan Ia menoleh, seorang lelaki telah berdiri disampingnya, perlahan tapi pasti Ia berdiri dan menyalami lelaki itu.
“Budi....apa kabar? Sedang apa disini?”
“Kabarku baik, aku sedang menunggu Maya, dia wisuda hari ini. Kamu sendiri sedang apa?”
“Aku sendiri bingung, tadinya aku kesini ingin bertemu dengan Bunga, tapi sekarang aku ragu, kamu lihat kebahagiaannya kan? Aku tak ingin merusak hari bahagianya”
“Mengapa harus ragu? Bunga sendiri sebenarnya juga ingin ketemu kamu, tapi kamu sendiri menghilang seperti ditelan bumi. Kebetulan Maya satu kos sama Bunga, tiap kali aku datang kesana, Dia selalu menanyakanmu”
Akhirnya mereka berdua bercerita tentang perjalanan hidup mereka masing-masing. Dulu, semasa masih kuliah, Satria dan Budi tinggal satu rumah, mereka masih kerabat, tetapi mereka beda fakultas, Satria di Fakultas sastra, sedangkan Budi di fakultas teknik.
“Mas Satria...apa kabar? Tak pernah kelihatan kemana saja?” terdengar suara seorang gadis menyapa.
“Eh Maya...selamat ya, sekarang kamu sudah jadi sarjana, rencana selanjutnya gimana? Sebentar lagi jadi nyonya Budi neh...” jawab Satria setengah bercanda.
“Ah...Mas Satria bisa saja, ternyata lima tahun tak merubah, masih seperti dulu, suka ngerjain orang”
“ Iya neh....aku belum bisa berubah, abis orang yang kuharapkan bisa merubah hidupku belum ada”
“Tuh kan...kumat lagi, sekali-kali cerita yang indah-indah dong....jangan yang sedih-sedih melulu”
“Entahlah May, memang dari dulu aku tak punya cerita yang indah-indah, mungkin kesedihan sudah jadi bagian dari hidupku”
“Sudahlah Mas, tak usah dipikirkan terus, kalau memang kenyataannya seperti itu mau gimana lagi, terima saja dengan ikhlas, toh Tuhan tak akan memberikan ujian yang umatnya tak mampu menerimanya. Eh Mas, kapan nih kita jalan-jalan lagi seperti dulu?” Maya mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi yang ditanya hanya diam saja, matanya terus memandangi seorang gadis yang sedang bercanda dengan teman-temannya, tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Mas...” Maya menepuk bahu Satria, yang dipanggil pun tersentak.
“Eh sorry, kamu ngomong apa tadi” jawab Satria, mencoba menutupi rasa kagetnya.
“Itu Bunga Mas, kenapa tak ditemui? Setidaknya beri dia ucapan selamat, pasti Mas sudah kangen berat sama Dia” Satria terdiam, tatapan matanya kosong, ada keraguan menyelimuti dirinya.
“Tuh kan....melamun lagi, maaf ya kalau tadi menyinggung perasaan Mas”
“Nggak apa-apa kok May, aku cuma ragu untuk ketemu Bunga”
“Loh....kok gitu sih...aku yakin Mas kesini untuk ketemu Bunga, kenapa sekarang nggak jadi? Ayo dong Mas, dimana Satria yang dulu? Yang dikenal orang super cuek?”
“Iya tuh May, sekarang dia jadi seperti itu, padahal dulu Dia nggak seperti ini” Budi ikut menimpali.
“Beginilah aku yang sekarang, memang aku kesini untuk menemui Bunga, tapi ketika aku melihatnya, ada ketakutan yang hadir, sedang aku sendiri tak pernah tahu apa yang aku takutkan, jujur saja aku masih sangat mengharapkannya, tapi aku tahu itu tak mungkin, aku hanya bisa pasrah pada nasib” jawab Satria sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Kalau begitu, kenapa tak dipastikan saja, siapa tahu sekarang Bunga mau menerima kehadiran Mas Satria, kenapa sekarang nggak dicoba? Mumpung ada kesempatan loh Mas”
“Entahlah May, aku masih ragu, tapi aku akan mencobanya”
“Nah gitu dong...itu baru saudaraku” jawab Budi sambil menepuk-nepuk bahu Satria. Perlahan tapi pasti, Satria bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dimana Bunga berada, meninggalkan Budi dan Maya. Sementara itu, Bunga sedikit terkejut ketika melihat seorang laki-laki mendekat kearahnya.
“Satria...” gumannya lirih menyebut nama laki-laki itu.
“Bunga...!!” Baru beberapa langkah Satria beranjak dari tempatnya duduk, terdengar suara seorang laki-laki memanggil dan menghampiri Bunga kemudian memeluk dan mencium pipi Bunga dengan mesra. Satria terpaku ditempatnya berdiri, tubuhnya lemas, tak mampu berbuat apa-apa, hanya diam dan membisu, tak terasa butir-butir air bening mulai mengalir dari kelopak matanya yang sayu. Budi dan Maya pun ikut terkejut melihat apa yang baru saja terjadi, sebenarnya mereka tahu siapa yang datang dan memeluk Bunga, lelaki itu tak lain adalah tunangan Bunga, tetapi mereka tak berani menceritakannya pada Satria, mereka takut melukai perasaan sahabatnya itu. Satria kemudian berbalik arah dan berjalan meninggalkan kampus itu, membawa semua perasaan dan harapannya yang tak pernah terwujud. Budi dan Maya hanya bisa saling pandang tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Satria!!” teriak Budi dan Maya, tetapi yang dipanggil diam saja, dan terus berjalan meninggalkan mereka yang masih terbengong. Mereka tahu apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu, sebuah kisah cinta anak manusia yang tak pernah bersatu, cinta seorang lelaki malang yang terbuang dan dirampas oleh kenyataan.

Sementara itu, suasana dikampus itu mulai sepi, yang terlihat hanyalah beberapa orang pekerja sedang membersihkan sampah yang berserakan disana-sini, dan mungkin diantara sampah-sampah itu, terdapat kepingan-kepingan hati Satria yang hancur dan berceceran.

******

Pada suatu senja, disebuah pedesaan yang sepi, tampak beberapa orang penduduk bergerombol di areal persawahan ditepi rel kereta api, mereka menemukan sesosok mayat laki-laki tak dikenal tergeletak berlumuran darah, mungkin karena tersambar kereta api yang baru saja lewat, hanya selembar kertas yang berisi sebuah puisi cinta, yang ditemukan dalam genggaman mayat laki-laki itu. Dan gerimis pun mulai turun membasahi bumi, membasuh hati nurani manusia yang terbakar panasnya dunia.

(Purwokerto, April 2005)

Kumpulan Puisi dan Sajak 2007

Rindu

Aku merindukan semua yang pernah hadir dalam hidupku, dan kutuliskan apa yang ada dalam pikiranku, ku kirim penuh ragu, pada setiap nomor yang ada di HaPe-ku. (Jember, Awal 2007).


Mabuk
(Pulang Pagi #1)

Hari sudah pagi,
Mentari tampak mulai bercahaya,
Aku baru pulang,
Tapi aku bahagia,
Karena dalam setiap kemabukkanku,
Aku masih selalu dapat mengingatmu Mey...

Jember, Januari 2007.


Pulang Pagi

aku baru pulang
keluyuran
mencoba membuang sunyi
meski sepi masih menyelimuti
mey...
andai kau ada disini
setidaknya aku tahu
seperti apa rasanya
bahagia....

Jember, Pebruari 2007.


Bintang Di Gelap Malam

Ada kalanya sang bintang
Nan jauh di angkasa malam
Gemerlapkan sebentuk jiwa
Getarkan rasa yang terlelap
Enyahkan sunyi yang sepi
Rindukan kembali sebuah asa

Sebuah asa...
Asa yang hilang dari jiwa
Bersama butir – butir bening kekecewaan
Asa yang terampas dari hidup
Retakkan bathin yang terkikis

Mungkinkah...
Engkau adalah bintang itu?!
Nyanyian cahaya di kelam malamku
Adakah kau ingin
Nikmati bahagia bersamaku
Tarikan bahagia sepanjang waktu
Indahkan hari – hari dengancinta dan kasih sayang

- dan aku masih akan tetap :
“Sabar Menanti” hadirmu,
Untukku -

Jember, 01 – 02 Pebruari 2007.


Pergi!!!

Mey...
Bisakah Kau pergi dari pikiranku?!
Dapatkah Kau keluar dari hati dan jiwaku?!
Mampukah Kau bawa kembali bayang – bayang diri-Mu dari hidupku?!

Tahukah Kau Mey...
Betapa bathinku tersiksa karena semua ini,
Betapa sulitnya menghadapi kenyataan hidup ini,
Pergilah Kau Mey!!
Pergi!!
Pergi!!
Biarkan aku sendiri.

Jember, 06 Pebruari 2007.


Sendiri

di saat sendiri,
kurasakan betapa berarti kehadiranmu untukku,
andaikan kau datang saat ini,
mungkin bisa terkurangi,
beban dalam pikiranku,
aku yang sedang sedih,
takut,
dan gelisah memikirkan hidupku selanjutnya.

Jember, 09 Pebruari 2007.


Gelisah

hatiku gelisah memikirkanmu...
secara sadar dan tak disadari,
aku telah memasuki ruang,
dimana aku pernah tersesat,
disana...
namun aku tak kuasa ‘tuk mengelak dari kenyataan...

KP129, 13 Pebruari 2007.


Happy Valentine

meski sepi merajam
sunyi menusuki
lara membekas
duka mengendap
masih kucoba ‘tuk katakan :
“Happy Valentine”
untukmu
yang entah berada
dimana

Jember, 14 Pebruari 2007.


Magic

Mey...
Apakah Kau tahu?!
Getar rasa dalam jiwaku
Inginkan Kau hadir disini
Cintailah aku Mey...

Jember, 14 Pebruari 2007.


Diam

dan tak ada lagi kata
yang mampu kuucapkan
‘tuk mewakili asa dan rasa yang tersimpan untukmu
hanya sepi tersisa
dalam relung jiwa
dalam hembusan nafas
pada setiap detik penantianku
menari bersama mimpi
tertawa bersama ilusi
bercumbu dalam imaji
yang kerap hadirkan senyummu
candamu
tatapmu
menusuk dan mencabik nurani yang kujaga

dan tak ada lagi kata yang bisa terucap untukmu Mey...
entah sampai kapan
atau kan tersimpan
selamanya....

Kaca Piring 129, 15 Pebruari 2007.


Jendela Hati
(Pulang Pagi #3 )

Untuk kesekian kalinya,
Aku pulang pagi,
Setelah letih menerpa diri,
Tapi tak ada pintu terbuka,
Hanya jendela yang tersisa,
Itu pun terlalu sempit,
Kulompati saja,
Daripada kedinginan di luar,
Tapi tiba – tiba,
Aku terhenyak,
Lalu termangu,
Ketika muncul bayangmu :

“Masihkah jendela hatimu terbuka untukku Mey?!
Setelah berkali – kali,
Kucoba ketuk pintu-Mu,
Yang tak jua terbuka”.

Jember, 1902070343.


Diam

aku
diam
dan
terdiam
karena
aku
tak
punya
jawaban
atas
pertanyaan
darimu
pagi
ini

(Jember, 26 Pebruari 2007)


Akhir Sebuah Perjalanan

Disini….
Di negeri pengasinganku,
Aku terhenti dan berhenti,
Dari perjalanan panjang hidupku,
Tak ada lagi kata,
Terucap penuh asa,
Tak ada lagi airmata,
Basahi dahagaku,
Tak ada lagi tangis,
Memecah sunyiku.

Di negeri pengasinganku ini,
Aku menyerah pada kematian,
Biar jiwaku tenang,
Biar tubuhku istirahat,
Takkan ada lagi luka,
Takkan ada lagi perih,
Takkan ada lagiderita,
Seperti saat nafas masih terhembus,
Dalam dada yang sesak.

Disini…
Saat ini…
Di negeri pengasinganku,
Saat gerimis mulai turun,
Satu – satu,
Kuucapkan selamat tinggal,
Untuk selamanya,
Pada ibunda tercinta,
Yang telah mengasihiku,
Ayoe sang malaikat,
Adhe si tuhan kecilku,
Dan bunga layuku, Melanie,
Juga pada semua yang pernah hadir dalam hidupku,
Maafkan semua salah dan dosaku,
Terima kasih semuanya….
…………………………...
…………………………...

- Selamat tinggal sobat,
Sampai jumpa di akhirat –

Dalam Gerimis, 06 Maret 2007.


Secawan Anggur,
Tenangkan Jiwaku Yang Gundah


Seiring luka yang ku derita
Seiring perih yang merintih
Kuteguk air kedamaian
Agar jiwaku tenang
Setenang air danau surgawi
Yang tak lagi mampu kuraih

Jember, 06 Maret 2007.


Perjalanan

Kawan…
Hari ini kutinggalkan tanah kelahiranku,
Kubawa semua kenangan indah bersama kalian,
Kutinggalkan semua duka,
Kan kucari bahagia,
Disana....

Randegan, 26032007.

Pernikahan
: De Setya

Pernikahanmu adalah penyatuan

Antara :
Kebencian yang membara
Dan
Cinta yang mengendap

Antara :
Rindu yang membiru
Dan
Dendam yang membakar

Antara :
Impian yang mimpi
Dan
Kenyataan yang nyata

Antara :
Imaji yang semakin meninggi
Dan
Fakta yang erat membelenggu

Tapi
Pernikahanmu adalah :
Garis batas yang memisahkan
Kau Aku
Aku Kau
Untuk selamanya

Jember, 4 – 8 April 2007.


Di Bawah Cahaya Purnama

Masih di bawah cahaya purnama yang kemarin,
Aku terpaku,
Menatap,
Sunyi,
Sendiri,
Melayangkan asa dan rasa,
Pada sekelebat bayang,
Yang sesekali melintas,
Di depan mata,
Sepi dan kosong,
Ketika dewi malam,
Menyapa,
Dalam bisu.

Gajah Mada, 03 Mei 2007 : 2135.


Bintang

Semoga aku bisa menemukan semua kebahagiaan bersamamu di dunia dan akherat, karena engkau adalah bintang yang bersinar terang, ketika purnama tak lagi bersinar di langit malamku.

JBR, 13072007:1055.


Rindu

Nduk...
Tahukah kamu?!
Betapa aku merindukanmu di setiap waktuku,
Betapa aku selalu ingin bersamamu setiap saat,
Betapa aku ingin kau berada di sisiku pada setiap sepiku,
Apakah kau juga merasakannya Sayang...

JBR, 13072007:1059.


R E V O L U S I

Biar tubuhku terpenjara,
Aku tak akan pernah perduli,
Sebab,
Jiwa dan pikiranku akan tetap bebas dan merdeka selamanya,
Karena,
Penjara tak akan pernah mampu mengurung jiwa dan pikiranku sampai kapanpun,

Berjuanglah Kawan!!!
Jangan pernah mundur setapak pun,
Satukan gumammu, menjadi :
R E V O L U S I

Jember, 16072007:1221.


A t h i è

Athiè-ku…
Sayangku...
Cintaku...

Engkau adalah setetes air bening,
di tengah padang gersangku,
Engkau adalah bintang terang,
berpijar di malam kelamku,
Engkau adalah madu,
di tengah kepahitan hidupku,

Aku ingin damai,
dalam pelukanmu,
Aku ingin tenang,
dalam dekapanmu,
Aku ingin menangis,
di atas pangkuanmu,

Agar hilang semua dukaku,
Agar lenyap segala deritaku,
Agar musnah seluruh lukaku,

Lepaskan semua beban hidupku,
Biarkan tawa mnenghiasi,
Sampai akhir...

JBR,07082007:0312.


Wajah Terasing

Inikah wajahku yang dulu?!
Wajah yang pernah aku kenal,
Entahlah…
Biarkan orang bicara…

BMS, 23082007:2240.


Sajak Rembulan

I.

lihatlah rembulan di langit, disana ada jawabannya...

II.

cobalah berpikir tentang bulan, tentang malam, lalu renungkan dan pikirkan baik – baik tentang arti hidup, makna hidup, maka akan kau temukan jawaban atas pertanyaanmu.

Jember, 23112007.

Kumpulan Puisi dan Sajak 2006

Namamu

Kadang......
Terlintas dalam benakku
Untuk pergi dari tubuhku
Mengejar sebentuk bayang dirimu
Yang terus hadir dalam hidupku
Tapi.......
Ada yang tak pernah bisa aku tinggalkan
Meski sesaat
Meski sejenak
Meski sekejap
Ya......
Hatiku yang terpendam dalam tubuhku
Tak pernah bisa aku tinggalkan
Walau sesaat
Walau sejenak
Walau sekejap
Karena......
Ia telah dipenuhi oleh
Namamu........

Saat Terkenang Perempuan Bunga.
Purwokerto, 03 April 2006.


Gerimis

Dan gerimis masih saja menerpa
Kemana pun kulangkahkan kaki
Membuatku semakin menggigil
Dalam kedinginan
Tanpa kuasa untukku melawan
Sementara....
Satu – persatu wajah – wajah perempuan itu
Melayang – layang dalam angan
Membawaku kembali dalam kerinduan
Menghanyutkanku dalam asa yang masai
Tapi...
Kerinduan tinggalah kerinduan
Asa tinggalah sisa – sisa
Hanya gerimis menemani
Perjalananku malam ini

- semoga kutemukan bahagia
di akhir perjalananku -

Akas Asri, 06 April 2006.


Kan Kusimpan Rinduku

Di sini…
Di kota ini
Kupendam dalam-dalam
Semua asa dan rasaku
Kusimpan rapi di sudut hati
Hingga arti tak lagi berarti

Jember, 15 April 2006.


Kesunyian Hidup

di sini…
di sudut kota ini
aku kembali terhempas dalam kesunyian jiwaku
tak ada lagi kawan
tuk menemaniku
tak ada lagi sahabat
tuk berbagi cerita
tak ada lagi kekasih
tempatku mengadu

di sini…
di rumah tua ini
tak ada seorangpun yang bisa kuajak bicara
semuanya sibuk dengan dirinya sendiri
dan…
aku sendiri
tanpamu kawan
aku sendiri
tanpamu sobat
dan aku masih sendiri
tanpa seorang kekasih

tapi…
aku bahagia…
karena masih selalu ada
kelebat bayangmu
menemani sunyiku
sayup lembut suaramu
menghibur sepiku
harapan tentangmu
membakar semangatku
untuk tetap melangkah dalam hening
mencari seberkas asa dan rasaku
yang pernah hilang di telan resah
yang pernah terkubur di balik gelisah
dan di sini…
kucoba tuk membangun kembali serpih-serpih jiwaku
yang tercecer diantara kepingan-kepingan hatiku
mengumpulkan kembali jejak-jejak langkahku
yang tenggelam di bawah tetes-tetes darahku

semoga…

Kaca Piring 129,
24-25 Mei 2006.


Gadis 127
Adinda:

Sebelum bayangmu hilang
Kubenamkan kau dalam – dalam
Pada mimpiku
Agar kau tetap bersemayam
Dalam jiwaku
Yang sunyi

Jember, 03 Juli 2006.


Tentang Cinta Dan Kerinduan

I.

Tahukah Kamu Mey.....
Tentang airmata yang terjatuh untukmu?!
Tentang jiwa yang merintih karenamu?!
Tentang hidup yang sepi tanpamu?!
Semoga Kau Tahu Sayang.....

II.

Mey.....
Aku rindu......
Tapi kini aku tak lagi bisa
Berdiri di sudut kampus
`tuk sekedar menatap wajah dan senyummu
Seperti dulu.....
Aku rindu Mey.....
Tahukah kamu Mey.....

Jember, Juli – Agustus 2006.


Rindu

I.

Aku terbangun dari tidurku
Dadaku semakin sesak
Tangisku semakin pilu
Dan rinduku pun semakin membatu
Dimanakah engkau Mey..?!!
Aku rindu....
Aku ingin bertemu.....

II.

Aku ingin engkau hadir kembali dalam mimpiku malam ini Mey....
Agar aku tenang dan merasakan kedamaian yang kuinginkan
Biarkan aku bahagia
Meski hanya mimpi...

III.

Aku ingin pulang dan sangat ingin pulang
Tapi mengapa setiap kali kuingat
Bungaku tak lagi di taman bunga
Seketika itu pula keinginanku untuk pulang
Hilang....

IV.

Dan semoga dalam perjalananku malam ini
Ia hadir dan menemani
Membawaku melintasi ruang dan waktu
Yang tak sempat kusinggahi
Maafkan jika aku mencintaimu Mey...

Jember, Agustus 2006.


Doa

tuhan....
mengapa tak kau kabulkan jua doaku
meski sudah berpuluh,
bahkan beratus kali,
kutenggelamkan diriku dalam sajadah sunyi ini
pada tiap 1/3 malam terakhirku
padahal pintaku sangat sederhana:

“yakinkan aku tuhan
dia bukan milikku
sadarkan aku tuhan
dia bukan milikku” *

Jember, 07 Agustus 2006.
* By. Nidji


Jalan Sunyi

I.

Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi
Mendendangkan lagu bisu
Sendiri di lubuk hati
Puisi yang kusembunyikan dari kata – kata
Cinta yang takkan kutemukan bentuknya

II.

Penjelasan cinta yang berkobar – kobar
Dengan sejuta kalimat tentang cinta
Takkan dapat menembus
Masa lalu yang kelam
Aku tak pernah tahu agungnya cinta
Dan aku pun tak pernah tahu
Mengapa aku harus lahir, bernafas dan dewasa
Selangit kutukku
Untuk kelahiranku,
Yang tak pernah kuharap.

Jember, 13 September 2006.


Ramadhan 2006

I.

Setiap langkah yang kulewati
Telah menggoreskan sajak – sajak luka
Pada lembaran kehidupanku,
Dan kalimat – kalimat luka itu pun
Harus ku akhiri
Dan Titik!!!

II.

Kadang.....
Penyesalan pun kerap hadir mewarnai hari – hariku
Berhiaskan ketakutan yang sangat hebat
Tapi apalah dayaku......
Semua telah terjadi,
Aku hanya tahu
Aku mencintainya sepenuh hatiku.

III.

Mengapa engkau harus resah?!
Sedang bulan dan bintang masih setia tuk bersinar
Pijarkan harapan
Terangi semesta raya, dari kegelapan sang malam

Jember, September – Oktober 2006.


Satu Titik

Ada sekelebat bayang menghilang
Kalaku sendiri disini
Mungkinkah asa itu kan kembali terlahir
Setelah lama berakhir?!

Hampa yang kutepis
Sepiku kini menipis

“Biarkan aku bahagia”, kataku
Tapi kau hanya tersenyum
Sedang angin tak lagi bertiup
Hanya gerimis terjatuh
Satu – satu
Menorehkan balada di atas pasir
Menggoreskan cerita di atas debu
Dan perlahan tapi pasti
Balada tentangmu
Cerita tentangku
Dihanyutkan oleh ribuan tetes gerimis
Yang menyatukan
Balada tentangmu
Cerita tentangku
Di lautan cinta yang luas

“Dan biarkan aku tetap bahagia”, teriakku
Saat biduk tertambat erat
Pada Satu Titik
Yang terakhir

Jember, 05 Oktober 206.


Sajak Hampir Pagi

Hari hampir pagi,
Tak terasa sudah pukul dua,
Aku terbangun dari tidur,
Teringat Melanie,
Seribu tanya mengendap,
Diantara reruntuhan jiwaku,
Mungkinkah.....?!

Jember, 13 Nopember 2006.


Pending

Aku SMS,
Seorang Kawan
Tanya sesuatu
Tak di balas
Jahat…

Jember, Nopember 2006.


Matahari Malam
Dari : Titik.

Kau-lah matahari malam yang betah menemaniku,
Menemani kata,
Hingga aku tetap bias menyala,
Di reman redup kata.

Akhir 2006.


Jangan Bawa Pergi Cintaku
Dari : Dewi.

Mungkin kau tak pernah tahu...
Pergimu...
Menoreh luka dihatiku,
Walau semua lara,
T’lah ku titip pada tetes hujan dan lembayung senja,
Tapi pedih masih terasa.

Bila boleh aku meminta...
Jangan bawa pergi cintaku,
Kar’na suatu hari nanti,
‘Kan ku titip ke lain hati.

Akhir 2006.

Kumpulan Puisi dan Sajak 2005

Malam Tahun Baru

Di antara hitam dan putih
Yang kulihat
Di antara besar dan kecil
Yang menghimpit
Dan dalam setiap perjalananku malam ini
Tergambar bayangmu
Di antara gelap dan terang
Yang merubah dunia

Purwokerto, 01 Januari 2005.


Kado Kematian

kematianku adalah......
bukan sekedar kematian
bukan hanya terbangnya jiwa
bukan pula tertidurnya raga

tapi kematianku adalah......
hilangnya nafas
yang kau tiup penuh cinta
terhentinya jantung
yang kau tusuk harapan semu
hancurnya hati
yang kau remuk dengan rindu
juga musnahnya asa
yang kau beri tanpa rasa

dan kematianku adalah.....
sebuah kado istimewa
dariku
untukmu
di hari bahagiamu

Purwokerto, 10 Januari 2005


Bahagiamu
Di hari pernikahan seorang perempuan Ayu.

Di hari bahagia ini
Kupersembahkan untukmu
Sepotong hati yang rapuh
Setetes darah yang beku
Dan sebaris kata terakhir
“Semoga kau bahagia disisinya”

- maafkan sayang.....
bilaku tak hadir, di hari bahagiamu
karena bukan aku yang bersanding
disisimu.... -

Purwokerto, 22 Januari 2005.


Kembali

dalam gerimis
kujelajahi jalan berkelok
tanpa arah
tanpa rasa
hanya angin menemani dingin
tusuk hati yang beku
hingga aku sadar
aku harus kembali
ke tempat asalku

Purwokerto – Sampang, 28 Januari 2005.


Aku Sudah Gila

aku terperangkap
dalam kehidupan gila
yang penuh keindahan
yang penuh gelak tawa
meski hatiku luka
meski jiwaku kecewa
tapi aku…
tak lagi merasakannya
tak lagi meratapinya
karena aku sadar
aku sudah gila
tanpa rasa
tanpa cinta
tanpa jiwa

Purwokerto, 05 Pebruari 2005.


Dunia Gila

kita hidup di dunia gila
dunia yang panas
liar
kejam
tak bermoral
benar-benar gila
gila
gila
dan gila
tanpa cinta
tanpa kasih sayang
tanpa belas kasihan
namun ada keindahan
tersembunyi
di balik tirai kegilaan
yang gelap

Purwokerto, 07 Pebruari 2005.


Cahaya Keraguan
Teruntuk : Mey – Mey.

Kau pancarkan cahaya keraguan
Dari bola matamu yang bening
Merajam jiwaku sepi
Pada hening taman bunga
Saat melati kau taburkan
Di makam tak bernisan

Satu-persatu bungaku berguguran
Tersentuh kumbang tanpa tembang
Jatuh
Berserakan
Di antara puing-puing hati
Pada senja kehidupan
Berhias gerimis
Dari kelopak mata
Yang sempit

Kau pancarkan cahaya keraguan
Dari bola matamu yang bening
Beri aku keyakinan
Tuk melangkah dalam hening

Purwokerto, 09 Pebruari 2005.


Gerimis

dalam dinginnya malam-malamku
yang panjang
dan menakutkan
aku kehilangan mimpi
dalam setiap pengembaraanku
diantara kerasnya pagar kehidupan
pisahkan kau aku
pisahkan aku kau
hingga tak ada seberkas cahaya
tuk bisikan cinta
pada telinga batin
lepas rindu membatu
sebelum jiwaku membeku

dan gerimis sore ini
tak lagi hadirkan pelangi
untukku daki sampai ke puncak
sidratil muntaha

Purwokerto, 13 Pebruari 2005.


Saat Valentine Tiba

Hari ini.....
Ingin kuucap beribu kata cinta untukmu
Ingin kuungkap berjuta rasa sayang padamu
Tapi......
Aku bisu
Karena tak bisa berkata padamu
Aku buta
Karena tak lagi kulihat dirimu
Aku tuli
Karena tak lagi kudengar lembut suaramu
Dan aku pun mati
Tanpa pernah bersamamu

Purwokerto, 14 Pebruari 2005.


Ketika Jiwaku Merintih

dalam sakit aku berharap
sang malaikat maut datang
mencumbuku dalam dingin
membawaku terbang
menuju sidratil muntaha
dan mengajakku berkeliling
dalam taman firdaus
agar aku tak lagi menderita

(semoga dapat kutemukan
kedamaian abadi
meski kau tak lagi
bersamaku)

Purwokerto, 14 Pebruari 2005.


Saat Cinta Terlahir

Bangunkan aku sayang
Dari mimpi kehidupan
Sadarkan aku sayang
Dari khayalan tentangmu
Hancurkan aku sayang
Dari kebekuan jiwa tanpamu

Biarkan aku mengalir
Membasahi kelopak hatimu yang mekar
Menyejukkan jiwamu yang terbakar
Menghangatkan dirimu yang dingin
Dengan cinta yang terakhir
Yang tercipta hanya untukmu

Purwokerto, 17 Pebruari 2005


Temani Aku

Aku mulai merasakan
Dadaku semakin bergetar
Aliran darahku semakin membara
Dan jiwaku semakin gemetar
Ketika engkau hadir
Menghias setiap mimpi
Melahirkan sejuta khayal
Hingga aku harus berharap
Pada bintang yang bertebaran
Pada burung yang berterbangan
Pada bunga yang bermekaran
Agar engkau hadir
Disini
Disiku
Dengan cinta
Dengan kasih sayang
Tenangkan dadaku yang bergetar
Sejukkan darahku yang membara
Damaikan jiwaku yang gemetar

Aku mulai merasakan
Bahagia kan datang
Bila kau sudi menemani
Setiap langkah perjalananku
Sampai akhir kehidupan

Purwokerto, 17 Pebruari 2005.


Puisi Cinta
: Melanie

Kuselipkan sepotong cinta
Dalam puisi yang kucipta
Terlahir dari jiwa
Mengalir ke lubuk hati
Kikis bimbang yang merajam
Dalam temaram cahya keraguan
Terpancar dari mata yang sayu

Sebaris kata kuungkap
Segenggam rasa coba kurangkap
Bukan sekedar pelipur lara
Bukan pula kepalsuan
Tapi sebuah ketulusan
Dari nurani terdalam

Bungaku......
Jadikan aku tangkaimu
Biarkan aku menyejukkanmu
Dengan embun yang menetes
Dari daun yang bergoyang
Seirama angin yang menari
Ketika mentari menyinari
Penuh kehangatan
Penuh cinta
Penuh kasih

Kuselipkan sepotong cinta
Dalam puisi yang kucipta
Agar kau aku
Bersatu......

Purwokerto, 18 Pebruari 2005.


Kembali Untukmu

Memecah gerimis
Menembus kesunyian
Mengejar sang gadis
Menuai harapan

Jogja-Purwokerto, 20 Pebruari 2005.


Semburat Merah Jambu

Semburat merah jambu
Terpancar dari wajah rembulan
Tatkala sang surya tertunduk
Dalam relung masa silam

Aku mencoba meniti
Setapak perjalanan panjang
Sebelum tiba saat menanti
Di padang perhitungan

Semburat merah jambu
Terpancar dari wajah rembulan
Sejenak menerangi
Kelam yang mencekam

Kutasari, 20 Pebruari 2005.


Kala Gerimis Tiba

Kembali gerimis menghentikan langkahku
Memaksaku kembali pada masa lalu kelabu
Hingga aku tak lagi mampu
Berharap pada matahari
Yang tertutup mendung

Kurangkum sepiku
Pada serpih-serpih jiwa
Yang membelenggu
Dengan perih dan luka

Adakah sang mentari kan bersinar
Diantara keharuman bunga-bunga
Yang mulai mekar
Pada taman duka
Menghias sekelumit jiwa
Dalam luka

Purwokerto, 24 Pebruari 2005.


Selamat Ulang Tahun
Buat : De Setya

Tengah malam ini
Ingin kuucap sepatah kata untukmu
“Met Ulang Tahun”
Semoga kau bahagia
Selamanya

Purwokerto, 24 Pebruari 2005.


Hujan Sore Hari

Hujan yang terjatuh dari langit
Sore ini....
Menemani langkahku
Dalam bimbang
Tanpa teman
Hanya sebatang rokok terakhir
Yang kubakar nyala hati
Tapi....
Jiwaku hanya bara
Hampir padam
Diterpa gerimis yang menari
Pada setiap sepiku

Hujan yang terjatuh dari langit
Sore ini....
Memaksaku kembali
Pada rumah yang kutinggalkan

Sampang, 27 Pebruari 2005.


Rindu

Aku rindu......
Tapi aku tak mampu
Menyebut namamu
Meski hanya satu

Purwokerto, 02 Maret 2005.


Aku Tak Mengerti

Aku tak mengerti
Dan tak pernah mengerti
Mengapa.....
Kau selalu hadir
Dalam setiap mimpiku
Kau selalu membayangi
Setiap langkah perjalananku
Sedang kau tercipta
Bukan untukku.....

Buntu – Semarang – Magelang,
5-6 Maret 2005.


Saat Gerimis Menangis

Tak ada lagi yang bisa terucap
Saat gerimis menangis
Pilu.........
.............

Purwokerto, 07 Maret 2005.


Pada Sepertiga Malam

saat sunyi mengiris hatiku
saat sepi mengikis jiwaku
aku berharap
pada mendung yang meneteskan hujan
pada malam yang menjemput senja
agar kau hadir
menemani 1/3 malam terakhirku
dan aku akan bahagia
selamanya

Purwokerto, 15 Maret 2005.


Tersesat

Di jalan ini
Aku melangkah mengikuti angin
Tanpa arah
Melayang hingga ke ufuk
Menari bersama mega
Berwarna jingga
Hingga tersesat
Pada sepenggal kisah
Tentang cinta
Yang membeku

Purwokerto, 20 Maret 2005.


Suara Hati

I.

Dalam setiap kelam malam yang mencekam
Ingin kuteriakan namamu “tuhan kecilku”
Meski hanya angin yang mendengar
Meski hanya bintang yang jadi saksi
Aku tak perduli...

II.

Aku ingin terbang...
Menggapai bintang dilangit
Tinggalkan bumi sunyi sepi sendiri
Dan tak akan kembali
Meski cintamu
Memanggil...

III.

Cinta itu....
Seperti jalan kehidupan
Dia tak pernah perduli akan pengorbanan
Bahkan kematian
Jika aku tidak percaya keabadian cinta
Untuk apa kunyatakan cinta?!!

Purwokerto, 2005.


Dian Dalam Gelap

api yang dulu pernah
kau padamkan
kini bangkit
membakar
sumbu hati nurani
menjadi
dian
setia
terangi gelapku
karena baranya
tetap panas
bersemayam
dalam jiwa

Purwokerto, 15 April 2005.


Airmata, Sawah dan Ladang

seorang kawan
membawa kita berkeliling
lewati pematang dan tepian sungai
yang tak lagi jernih
dikotori dosa dan kemunafikkan
sedang kita
sama termangu
terdiam
bertarung
melawan hati nurani
yang dulu pernah
tergores
kenangan bisu
antara kau aku
pecahkan harapan biru
mengharu
kalbu

seorang kawan
membawa kita berkeliling
tapi, tiba-tiba
airmata mengaliri
sawah dan ladang
yang tak jua tumbuhkan
harapan

Kebumen, 16 April 2005.


Pencarian Jiwa

kucoba lagi tuk melangkah
menyusuri senja pantai ini
mencari pelabuhan
tuk tambatkan seutas tali
titian jiwa
meski angin kaburkan langkah
meski badai terbangkan harapan
tapi aku kan terus mencari
coba nyalakan api yang pernah padam
pada sepenggal hati yang terberai
harapan biru di kampus biru
hingga dian tak lagi mampu
terangi gelapku
sunyi
sepi
sendiri
dan perjalananku kali ini
adalah sebuah pencarian
tak berakhir

Bocor, Kebumen, 16 April 2005.


Di Pantai Sunyi

di pantai sunyi ini
coba kurenungkan kembali hidup
yang terbelenggu
harapan biru
yang luruh diterpa angan
dan aku hanya terdiam
terus terdiam
tapi, semakin aku diam
semakin keras gelombang itu menerjang dinding bathin
seperti badai yang menghantam
dan terus menghantam
karang hati nurani
yang dingin
mengelam
membeku
meski kucoba nyalakan kembali
pijar bara yang membiru
pada sepertiga malam terakhir
tapi
tak jua hangatkan jiwaku
yang mulai kaku
dan membatu

Petanahan, 17 April 2005.


Wahai Cinta

Kucoba padamkan apimu
Wahai cinta
Karena kau hanya membakar jiwaku
Meluluhkan perasaanku
Dan yang kuingin adalah air
Dari bumi yang sejuk
Meski aku harus tenggelam
Menyatu dalam bumi

Purwokerto, 03 Mei 2005.


Balada Tekek
(bagian pertama)

I.
seekor tekek
terkapar ditengah malam
terbakar nyala senthir
yang jadi rebutan
para binatang
di rumah arjuna

II.
sang tekek terjatuh
dalam gelap tanpa senthir
karena terpeleset
tembok usang penuh lumut
bernama cinta angkara murka

III.
ada juga seekor tekek
jatuh ke dalam kolam arwana
tapi dia malah tertawa
saat tekek yang lain
menangis tersedu-sedu

IV.
para tekek berkumpul
adakan rapat dengar pendapat
soal tekek
yang makan tekek
jadi kanibal pada sesama
tapi rapat pun bubar
saat senthir mati
kehabisan airmata


V.
adalagi kisah tekek
yang jadi impian seorang putri
penguasa candi maya
dan sang tekek terlupa
bahwa dia tetap tekek
penghuni rumah
sang arjuna
bukan pemilik
kebun pepaya

VI.
pada satu malam
seekor tekek bercerita
tentang perjalanan cintanya
yang kandas terbentur beton
dinding purba bernama weton
dan sang tekek pun
patah hati

VII.
satu tekek berlari sampai ke slawi
di subuh hari
mencari senthir pembawa wahyu
meski tubuhnya lemah
berbelang-belang bekas kerokan
tapi, demi rindu
ia tak perduli

VIII.
dan nyala senthir ditembok
rumah arjuna mulai redup
tersiram airmata dan darah
seekor tekek yang tak berdaya
ditusuk kawannya dari belakang
dengan belati bernama cinta
sebuah pengkhianatan?!
ataukah pengorbanan?!
dengan mengorbankan sesamanya?!
atas nama cinta?!!
para tekek pun bersedih
seekor kawannya mati
ditusuk kawannya dari belakang
tapi, ada seekor yang tertawa
dialah sang PENGKHIANAT!!!

Purwokerto, 04 Mei 2005.


Balada Tekek
(bagian kedua)

I.
ada satu kisah
tentang kehidupan para tekek
di rumah arjuna
penuh canda
penuh tawa
semua tersenyum
ada suka
ada duka
hanya cinta
hanya rindu
tanpa dendam
tanpa benci
tapi, kisah itu kini ternoda
oleh satu kata
bernama pengkhianatan

II.
kini sang tekek sendirian
berjalan merangkaki dinding gelap kehidupan
karena nyala senthir yang jadi panutan
telah padam
tersiram airmatanya
hingga ia pun terjatuh
pada lubang gelap kehidupan
tanpa seberkas cahya
`tuk menuntun langkahnya

III.
hujan kembali menyiram bumi
tapi yang jatuh....
bukan sekedar tetes air dari langit
tapi airmata yang mengalir
bercampur darah dari serpihan hati
yang dikoyak belati bernama cinta
hingga alam menjadi merah
membara
penuh api
bernama dendam

IV.
tiada angin yang dapat
menyampaikan jeritan hati
seekor tekek yang terluka
ditusuk kawannya sendiri
kala senthir kembali menyala
terangi jiwanya yang gelap
pada sepertiga langkah kaki
yang belum mencapai
kebahagiaan

V.
seekor tekek muncul dari balik pintu
memohon maaf
atas pengkhianatannya
pada kawannya
tapi terlambat
airmata terlanjur mengalir
darah terlanjur menetes
dan dendam terlanjur terbakar
sedang kawannya
kini terkapar
menanti ajal


VI.
dalam kematian
seekor tekek bertanya pada tuhannya
“tuhan, mengapa aku kau cipta demikian sendiri dan menyedihkan?!”
“mengapa aku harus menjalani seribu siksaan cinta seperti chi pat kay?!”
“mengapa kawanku tega mengkhianatiku demi sebuah senthir?!”
“mengapa kau juga tega membiarkan umatmu menderita?!”
dan sang tuhan pun terdiam
karena dia salah menggoreskan tinta
pada kisah perjalanan hidup
seekor tekek yang telah mati
bunuh diri

Purwokerto, 05 Mei 2005.


Cinta Adalah

cinta adalah
bintang gemerlap
berwarna-warni penuh gejolak
menghias keindahan malam
terangi kegelapan semesta raya
tapi,
betapa jauhnya
hingga aku tak pernah mampu
menggapainya

Purwokerto, 10 Mei 2005.


Rumah Sang Arjuna
(balada tekek extended)

rumah yang dulu penuh cerita dan gelak tawa
kini sepi dan gelap tanpa senthir
karena api yang pernah menyalakannya
padam
diterpa badai pengkhianatan
seekor tekek penghuninya
menerjang atas nama cinta
menghancurkan mimpi dan harapan
hingga tak ada lagi cerita
yang bisa dikisahkan
oleh para tekek penghuninya
semua beku
terdiam
dalam kebisuan malam
bergelut dengan kesunyian masing-masing
tanpa jemu
tanpa ragu
mencoba memungut serpih-serpih jiwa
yang hancur
lebur
jadikan hidup yang tak berarti
semakin tak berarti
karena tak ada lagi nyala senthir
tuk menuntun langkah yang terseok
menapaki jalanan hidup yang gelap
sisakan api dendam yang tersisa
membakar rumah sang arjuna
merubahnya menjadi neraka
persahabatan

Purwokerto, 15 Mei 2005.


Sebatang Rokok

sebatang rokok yang kuhisap
adalah ketenangan dalam damai
bersama secangkir kopi pahit
bersanding koran pagi
dan berita televisi
tapi,
kini
sebatang rokok yang kuhisap
adalah keresahan
adalah kegelisahan
dengan apinya yang semakin redup
di hempas badai kehidupan
hingga djarum-nya yang super
tak lagi menjahit serpih-serpih luka jiwaku
tapi menusuk-nusuk sukma
menggores kenangan pilu
tentang seorang perempuan
berkerudung biru
di kampus biru

Purwokerto, 17 Mei 2005.


Tak Sepadan

ingin....
kuberikan maafku untukmu
sobat....
tapi bumi manusiaku
terlanjur luka dan berdarah....
di hempas kontradiksi dan diferensiasi realitas jaman
yang semakin kalut dan kalang kabut
yang tak pernah memberiku kesempatan
untuk memilih dan menolak
menolak dan memilih
tapi,
kini aku sadar
telah tiba saatnya
untuk memilih dan menentukan
siapa kawan
siapa lawan
sebab,
kata maaf
tak akan pernah sepadan
dengan airmata dan darah
yang pernah tercurah
membasahi bumi manusiaku
yang kering....

Purwokerto, 18 Mei 2005.


Malam Ini
: Adhe

keluar dan tatap langit malam ini
lihat rembulan tersenyum
di sana akan kau temukan sketsa wajahmu
bersinar penuh harapan
terangi gelap jiwa
yang gelisah
pada sepertiga malam terakhir
menanti kau hadir
temani sunyiku

keluar dan tatap langit malam ini
lihat bintang gemerlap
di sana akan kau temukan goresan namamu
terhampar penuhi cakrawala
ku ukir penuh rasa
dengan tetes tinta terakhir
dalam sepiku

keluar dan tatap langit malam ini
semoga kau rasa
yang kurasa
malam ini

Purwokerto, 21 Mei 2005.


Seorang Kawan dan Cinta Sejatinya

seorang kawan
menelponku malam ini
dia bertanya dalam ragu
“mengapa cinta sejati selalu bertepuk sebelah tangan?!”
aku terdiam
tak mengerti arti ucapannya
belum sempat kujawab
dia menterorku
“benarkah cinta sejati itu ada?!”
aku semakin terdiam
dalam kalut ditengah kabut
yang mulai memeluk
aku bisu

kucoba renungkan
arti sepenggal kisah tentang cinta
yang pernah kulalui
kutekan sederet angka
terdengar suara seorang kawan
“sudahkah kau temukan jawabnya?!”
kujawab singkat
“belum, tapi aku mulai mengerti,
cinta sejati adalah pengorbanan,
tak berharap tuk bersatu,
hanya kematian yang bisa menyatukan,
dan mengabadikannya”
kawanku terdiam
perlahan kudengar isaknya
dia teringat kekasihnya yang telah pergi
`tuk selamanya

seorang kawan
menelponku malam ini
dia berkata penuh asa
“aku akan menyusul kekasihku,
semoga kutemukan cinta sejati,
disana......”
aku termangu
menenggelamkan diri dalam kenangan
tentang seorang kawan
yang menelponku
malam ini

Purwokerto, 26 Mei 2005.


Lepas

ada yang lepas
sebelum sempat kukupas
sepotong sajak terampas
sembilu cinta datang menghempas

kucoba berdiri
tertatih
melawan perih
meski kasih
tak lagi memilih

Rumahku, 31 Mei 2005.


Bayangmu
: Melanie

bayangmu kembali melebur
dalam hujan yang tercurah
malam ini
membuatku semakin kedinginan
pada sepi tanpamu
wahai kekasih

kureguk sekali lagi
secangkir vodka yang tersisa
agar kurasakan hangatnya
melawan bayangmu
tapi,
wajahmu lebih memabukkanku
wahai kekasih
seperti asap cimeng yang kuhisap
mengepulkan cinta dari jiwa
menyepikan jiwa dari cinta

dan bayangmu kembali melebur
dalam setiap kemabukkanku
tentangmu

Kalipagu, 25 – 26 Juni 2005


Tanyaku
: Perempuanku

dalam ragu
bimbang lahirkan tanya
“apakah aku mencintaimu?”
“benarkah aku menyayangimu?”
sedang aku tak pernah tahu
dimana dirimu
saat ini

Purwokerto, 10 Juli 2005.


Melanie

aku melihat
seberkas cahaya
menyilaukan jiwaku
dalam binar matamu

aku mencium
keharuman terpancar
memabukkan kalbuku
dalam desah nafasmu

aku terpukau
pada setiap baris kata
yang kau ucap
penuh ragu

aku tersesat
dalam rimba kata
tentangmu
pijarkan bara
yang padam
saat kau ayun langkah
tinggalkan
kenangan bisu
tentang cinta
yang tak pernah
terucap untukmu

Purwokerto, 20 Juli 2005.


Di Makammu Kami Menangis
: Sumarsih.

Baru tiga hari yang lalu
Kujenguk kau di rumah sakit
Dan senyummu masih mekar
Membakar semangatmu untuk bangkit
Melawan sakit yang mendera
Kau ceritakan dukamu
Kau tebarkan harapanmu
Tentang esok
Sembari diselingi kisah
Masa lalu yang indah
Tak terlupa

Tapi pagi ini
Mendung memayungi bumi
Saat terdengar kabar
Kau telah tiada
Tinggalkan kami yang termangu
Memaksa kami `tuk mengenang kembali
Berjuta kisah
Di kampus biru
Tentangmu
Bersamamu
Dalam suka
Dalam duka
Goreskan tinta emas
Pada selembar kisah
Hidup kami
Yang menyayangimu
Yang mencintaimu

Dan malam ini
Kuharap kau masih tersenyum
Saat purnama bersinar
Menerangi taman kamboja
Tempat kau tertidur
Menggapai mimpi
Di bawah nisan
Yang bertuliskan
Namamu

Baru tiga hari yang lalu
Kujenguk kau di rumah sakit
Dan sore ini
Dimakammu kami menangis

(Selamat Jalan Kawan......
Semoga Kau Temukan Bahagiamu
Disana..........)

Cilacap, 21 Juli 2005.


Selamat Pagi Kawan

selamat pagi kawan...
sudah hampir dua setengah tahun
kita tak pernah bertemu
ada banyak kisah yang terjadi
yang ingin kuceritakan padamu
tapi sayang,
bukan sebuah kebahagiaan
hanya duka kawan...
dan aku mohon
maafkan jikaku telah melukai
perasaanmu

Purwokerto, 29 Juli 2005.


Semakin

semakin lama kita tak bertemu
semakin jauh kau meninggalkanku
maka,
semakin aku sadar, aku membutuhkanmu
semakin dalam kerinduanku padamu
tapi,
apakah kau juga merasakannya?!
aku yakin tidak!!
karena jilbabmu telah menutupi
mata dan telinga
bathinmu

Purwokerto, 29 Juli 2005.


Tak Akan Kutulis Puisi Untukmu
(Melanie bagian ke-2)

dan tak akan kutuliskan lagi
puisi untukmu
meski ingin kuterbangkan asa dan rasa
lewat kepak sayap sajak yang senyap
berharap kau kan menangkapnya
untuk kau piara dalam sangkar bening nuranimu

sementara disini
aku masih menggapai-gapai
meneriakkan namamu
meneriakkan namamu
meneriakkan namamu
kekasih
di pantai cintamu yang putih
dan aku masih tetap
tak mampu
menyentuh sedikit asa dan rasamu
sedang yang lain
telah jauh memasuki pedalaman hatimu
mendaki bukit-bukit cintamu
menuruni lembah-lembah jiwamu
dan sang angin
masih setia membelai-belai
ilalang lembut yang menjadi hiasannya
bersama kehangatan mentari
yang mulai meninggi

dan tak akan kutuliskan lagi
puisi untukmu
karena bungaku
telah gugur dirampas waktu

Purwokerto, 25 Agustus 2005.


Mencari Jejak Cinta Yang Hilang

Pada suatu ketika
Saat kelam mencekam malam
Dan giris gerimis menangis pilu
Setetes airmata terjatuh
Membasahi seraut wajah penuh luka
Goresan panah asmara yang pernah membara
Mengikis selembar kulit cinta terakhir
Terlahir dari endapan duka masa lalu
Seiring perjalanan abadi sang waktu
Yang tak akan kembali
Hentikan sebuah harapan biru
Pada perempuan bermata ragu
Memaksa sandarkan asa dan rasa
Di jalanan nasib berarah takdir
Tuk mencari jejak cinta yang hilang
Seiring lantunan sajak-sajak gundah
Yang tak lagi berkumandang
Terampas keserakahan, nafsu dan kemunafikkan
Terhempas gelombang badai kehidupan
Terhapus racun yang tercipta
Tinggalkan sebait kenangan pilu
Tentang perempuan bermata ragu

Dan setapak demi setapak
Kulangkahkan kaki penuh ragu
Memulai sebuah perjalanan baru
Mencari jejak cinta yang hilang
Tapi,
Darimana aku harus memulai
Kemana arah harus kutuju
Sedang asa dan rasaku
Mulai membeku dan membatu
Tak tersentuh panas api asmaramu
Yang kuharap sepenuh jiwa
Tuk hangatkan asa dan rasaku
Yang membeku dan membatu
Dan perjalanan panjangku ini
Tak pasti berakhir
Karena tak kutemukan
Senandung kasih asmaramu
Yang hilang,
Dan aku akan tetap
Mencari jejak cinta yang hilang

Purwokerto, 13 – 19 September 2005.


Cinta

Dan…
Tak ada lagi kata yang terucap
Untukmu…
Tak ada lagi asa yang kuharap
Darimu…
Tak ada lagi rasa yang kuberi
Padamu…
Selain satu yang pasti
Cinta…

Purwokerto, 25 Oktober 2005.


Selamat Pagi Kawan 2

Selamat pagi,
Kawan.....
Semalam aku begitu dekat
Dengan-Mu
Tapi pagi ini aku
Kecewa....
Karena kau hadir hanya
Mimpi....
Namun, setidaknya
Engkau masih ada
Di jiwaku......

Purwokerto, 11 Desember 2005.


Hujan

Hujan....
Masih saja terus menetes dari langit-langit jiwaku yang gersang dan gelap
Segelap masa yang pernah kulewati tanpamu
Dalam kelam
Dalam remuk redam
Tolong aku,
Kawan...

Purwokerto, 19 Desember 2005.


Pengorbanan
(SMS untuk Adhe)

Kawan...
Setelah aku melewati sebuah perenungan yang panjang dan sangat melelahkan
Akhirnya kutemukan jawaban atas pertanyaan hidupku
Sebuah jawaban yang ingin kukabarkan padamu
Tapi sayang....
160 huruf tak pernah mampu mengatakannya

Dan hari ini Kawan....
Aku merasa bahagia sekali
Sebuah kata yang bisa menjawab ribuan pertanyaan hidupku telah kutemukan
Sebuah kata yang bersembunyi di balik tirai hidupku
Dan bersemayam di bawah setiap jejak langkah kakiku
Yang kulewatkan tanpamu, Kawan...

Dan semoga,
Kebahagian ini tak pernah berakhir
Meski sang surya
Tak lagi bersinar

Banyumas, 20 – 22 Desember 2005.

Kumpulan Puisi dan Sajak 2004

Wajah Kekasih

Aku tergetar
terkapar
ketika kulihat wajahmu
kekasih….
pada wajah perempuanku

Dan…
aku tertunduk
bersujud
ketika kulihat kembali
wajahmu kekasih
pada wajah perempuanku
seraya mengucap
“Laa Illa Ha Ilallah…..”

Banyumas, 2004.


Hadirmu

Engkau hadir saat kutermangu
Menatap getir kehidupan
Dengan senyuman
Kau bawa aku kembali
Pada harapan
Akan keindahan
Meski aku tlah lama
“berhenti berharap”

Randegan, 01 Januari 2004.


Sendiri

Aku terkapar
pada malam tanpa arah
ketika kau tampar
hatiku dengan resah
yang terpancar
dari wajah tanpa dosa
hadirkan gelisah
saat aku kembali
Sendiri…

Purwokerto, 04 Januari 2004.


Harapan Biru
Teruntuk Yyn`k.

rindu yang kusimpan
akankah menjadi kenyataan
terwujud dalam keabadian
indahkan hari-hariku
hapuskan airmata yang tersimpan

lembut hatimu
ingin kupeluk dalam keraguan
agar aku kembali tersenyum

putihnya cinta
untukmu kuserahkan
sepenuh hati
percikan air kedamaian
agar kau aku bersatu
nyanyikan kisah lama
impian yang terpendam
nikmati bahagia
gugurkan segala luka
resapkan duka
untuk satu harapan
menuju keabadian

Purwokerto, 06 Januari 2004.


Sebait Kisah Duka

ada sebait kisah
nyanyian asmara
antara dua hati
nantikan keabadian
dalam kesunyian
agar tak lagi terpisah

kepingan cinta itu
obati segala resah
setiap hati
tanpa senyum terpancar

Purwokerto, 06 Januari 2004.


Kugantung Harapanku

dari balik jemuran yang tergantung
aku menatap sesosok keindahan
terpancar dari senyuman
abadikan sebuah kisah
yang lama terpendam

adakah keindahan itu
akan terwujud
dalam satu ikatan
yang tak mungkin terwujud

kembali kugantungkan harapan
pada mendung
curahkan airmata
membuat aku tenggelam
dalam gelap malam
tanpa bintang

Purwokerto, 06 Januari 2004.


Kerinduan

saat kulepaskan jiwaku
kutinggalkan tubuh penuh luka
meski kau tak pernah mengerti
arti sebuah kesucian
dari hati yang beku

aku sendiri
bersama derita abadi
karna kau tak lagi
disini

aku masih sendiri
mecoba keringkan luka
yang semakin melebar
penuh nanah
bernama cinta

kasih……
aku impikan selalu
kedamaian bersamamu
pada saat
terakhirku…..

Purwokerto, 06 Januari 2004.


Harapanku

yakinkanlah aku
untuk menggapai kebahagiaan
lepaskan semua kepedihan
ikrarkan janji setia

kucoba lagi
untuk selalu
rindukan engkau
namun…
aku tak lagi mampu
enyahkan bayangan masa lalu
nikmati kesendirian
impikan kedamaian

Purwokerto, 15 Januari 2004.


Pencarian

Hujan….
Masihkah kau curahkan
Harapan untukku
Setelah aku tenggelam
Dalam gurun kesendirian
Yang tak mampu aku taklukan
Hingga angin mengaburkan
Awan harapan
Yang aku semai

Angin…
Kemanakah aku harus melangkah
Dengan kaki yang luka
Alirkan airmata tinta
Tuk tuliskan harapan
Pada hamparan langit jingga
Yang berlari
Menjemput malam

Kutuliskan sekali lagi
Hingga aku pergi
Dan tak kembali
Tinggalkan tubuh
Yang rubuh
Kehilangan ruh

Purwokerto, 15 Januari 2004.


Darimu Untukmu
Bersama Ela Normayanti

entah mengapa
langkahku kini terhenti
antara dua pilihan

namun…
orang-orang tak lagi mengerti
rintihan hati yang perih
mungkinkah aku…
akan temukan kembali harapan
yang terkubur waktu
antara hidup dan mati
nyanyikan luka
tepiskan duka
impikan adinda

Al Kurma, 16 Januari 2004.


Impian

Ada segenggam harapan
yang tak pernah terwujud
dalam setiap pengembaraanku
menyusuri jalan kehidupan
hingga aku tak lagi mampu
bercerita tentang engkau
kepada bulan
kepada bintang
yang setia menerangi
jalan gelap kehidupan
hingga ujung waktu

Mungkinkah impian
akan terwujud dalam nyata
bila engkau
tak lagi ada disini
bersamaku….
karena waktu tlah pisahkan
kau aku `tuk selamanya
hingga mentari tak lagi
menerangi alam raya

Purwokerto, 16 Januari 2004.


Kusambut Mentari

nuansa pagi ini
indah berseri
tebarkan wangi
akan keindahan

hidup begitu indah
akankah kita kotori
rapuhkan harapan
impikan bahagia
yang pasti
akan membawa kita
nikmati kebahagiaan
tuk menuju masa depan
impian yang terpendam

Purwokerto, 29 Januari 2004.


Martabak Hati

dalam sepotong martabak
kuselipkan seiris hati
yang terkoyak masa lalu
hingga aku tak mampu
untuk berlalu

adakah seorang putri
akan hadir
mengisi kesunyianku
hingga aku kembali
tertawa bahagia
tanpa sesal masa lalu
yang telah patahkan
langkah perjalanan hidup

Purwokerto, 29 Januari 2004.


Sepotong Roti Bakar

kubawakan untukmu
sepotong roti
yang dibakar nyala hati
agar engkau mengerti
ketulusan jiwa
yang merintih

aku masih mencoba
`tuk langkahkan kaki
yang dibakar masa lalu
hingga aku terkapar
pada malam tanpa bintang

kubawakan untukmu
sepotong roti bakar
agar aku tak lagi
sendiri….

Purwokerto, 29 Januari 2004.


Cerita Untuk L

aku berpijak pada jejak tanpa sajak
kaburkan langkah pada bayang
untuk sebentuk harapan

cukup sudah aku terpuruk
indahkan luka tanpa duka
nyanyikan kesunyian
tanpa airmata
agar kembali tersenyum

kasih.......
adakah setetes harapan
untukku terus melangkah?

enyahkan sebait tangis
lepaskan keresahan
abadikan ketulusan

Purwokerto, 30 Januari 2004.


Perjalanan
Bersama Silo Hambudi Sukmono

I.
kujelajahi pagi
penuh keyakinan
demi bidadari
di bumi mataram

II.
kutinggalkan Jogja
penuh keresahan
…………………
…………………

Purwokerto-Jogja, 16 Pebruari 2004.


Yang Tak Pernah Terucap

ada sebaris kata yang tak pernah terucap
untukmu kekasih
meski beratus malamku lewati dalam sepi
meski beribu liter airmataku curahkan
meski berjuta sel darahku tumpahkan
aku tetap tak mampu
aku tetap tak bisa
aku tetap diam
membisu
diam
membisu
dalam kesunyian malam-malamku
dalam kesendirian langkahku
dalam kehampaan hidupku
yang berputar
melayang
berputar
melayang
berputar terus
dan melayang
hingga aku
kehilangan arah
kehilangan pegangan
kehilangan harapan
yang ku rajut dengan nadi
yang ku sulam dengan hati
yang ku jahit dengan pasti
hingga aku hanya bisa
diam
membisu
diam
membisu
tanpa kata
tanpa cinta
tanpa nyawa
ada sebaris kata yang tak pernah terucap
untukmu kekasih
semoga engkau sudi menerima
airmata dan darah
persembahan terakhir
dariku
untukmu

Purwokerto, 04 Juni 2004.


Kisah Bunga
Teruntuk : Lala

perempuan datang
ungkapkan sebaris kisah
tentang hidup
rapuhkan jiwa
indahkan nyanyian cinta

begitu indahkah…
angin yang menari bersama
nyanyian kidung asmara
indahkan hari
nyatakan impian
gugurkan duka yang tercipta

dan mungkinkah…
impian yang terpendam
akan terwujud
nyata dalam hidup?!

lelah…
aku melangkah
endapkan luka dalam duka
lepas resah dalam gelisah
agar tawa kembali tercipta

masa slalu berlalu
anginpun terus menggerus
yakinkan `tuk terus melangkah
antar aku ke gerbang bahagia

perempuan datang
ungkapkan sebaris kisah
senandungkan luka dalam duka
pupuskan derita dalam nyata
imajikan sebait kenangan
tepiskan rindu yang membatu
antara kau aku
satukan hasrat terpendam
angankan hidup tanpa luka
redakan duka dalam tawa
indahkan hari bersama

Purwokerto, 19 Oktober 2004.


Insomnia

Aku tak bisa tidur…
Selalu tak bisa tidur
Udara penuh dendam terpendam

Berpeluk resah mencumbu gelisah
Aku tanpamu…
Nikmati hari
Gelisah….
Sendiri….
Asa
Terputus...

Begitu perih…
Asa yang kau pupus
Jauhkan jiwa pada tawa
Impian suci yang tersisih
Naluri hati terputih
Getarkan nurani dalam sepi
Antara hidup dan mati
Nantikan kau entah sampai kapan

Aku tak bisa tidur
Sebelum kau kembali
Untukku…

Purwokerto, 20 Oktober 2004.


Sepi

I
andai sepi ini
berlalu......
takkan ada lagi airmata
disini......

II
s`lalu kupanggil
namaMu......
pada setiap
resahku......

III
dalam tanya......
aku berbisik
“inikah karma,
dari dosaku?!”

IV
kucoba pahami
dalam sunyi.......

Purwokerto, 02 – 03 November 2004.


Pesanku

kala tubuhku terbujur kaku
terperangkap dalam beku
sampaikan pesanku
pada perempuan ayu
yang tinggalkan aku
pada tuhan kecil
yang melukaiku
pada alam
yang merawatku
pada mentari
yang menghangatkanku
pada malam
yang menemaniku
pada sunyi
yang memelukku
bahwa aku….
“telah hidup, mencintainya, lalu mati…”

Purwokerto, 04 November 2004.


Rumah Bunga

pada rumah bunga
mekar tiga kuntum melati
berhias embun pagi
yang menetes dari hati

pada rumah bunga
beribu kisah tercipta
tentang hidup
tentang cinta
antara kau aku
antara aku kau

pada keheningan rumah bunga
tercipta tawa renyah bidadari
meski duka mengendap
meski luka menganga
meski sepi merajam
dalam hembusan angin malam
memelukku dengan tangan – tangan lembutnya
membelaiku dengan cakar – cakar halusnya
merayuku dengan bisikan – bisikan dinginnya

dan di sini……
di penantian terakhirku
aku rindu…...
pada keharuman bunga – bunga
yang menghias taman Al Kurma
dan semoga sang dewi
menjaga keharumannya
untukku……

sehabis sahur, 09 Nopember 2004.


Belati Cinta

Kau tusukkan berkali-kali padaku
Sebilah belati bernama cinta
Luluhkan hati yang membatu
Pada jiwa yang hampir sirna
Dan aku masih tak mampu
Bangkit dan berlari
Mengejar dirimu
Yang tenggelam di ufuk waktu
Lelahkan hati yang terus menanti

Adhe……
Mengapa bayangmu terus memburuku?!
Bukankah kau sudah tahu
Bahwa aku sudah tak mampu lagi berdiri
Bahwa aku sudah tak mampu lagi berlari
Aku hanya bisa pasrah
Sebelum tiba saatnya
Menyerah……

Kau tusukkan kembali padaku
Belati cinta yang karat
Dalam gengaman airmata
Yang tak jua mengering

Sekali lagi……
Berkali-kali……
Kau terus menusuk
Pada tulang rusuk
Tembus mengoyak hati
Dan aku mati
Dalam hidup……

Banyumas, 20 November 2004.


Pasrah

Di saat hati semakin lelah
Di saat diri semakin lemah
Mengapa mereka tak lagi ramah?!
Haruskah aku menyerah?!
Sampai tahu bahwa aku t`lah kalah?!
Oh Tuhan….
Tolonglah…..
Aku pasrah…..

Banyumas, Akhir 2004.


Entah
Mengenang : Irna Narulina

Aku terbangun dari tidurku
Hatiku resah.....
Jiwaku gelisah.....
Aku rindu......
Mengapa?
Kenapa?
Harus kau yang kurindu
Mungkinkah?!
Entah........

Purwokerto, Desember 2004.


Kala Gerimis Menangis

Kala gerimis menangis
Seiring nada menjerit lirih
Dari gitar tua tak berdawai
Memainkan syair melankolis
Dari jiwa yang perih

Adakah mimpi itu kan jadi nyata
Bila kau tak lagi ada
Tinggalkan sebait kenangan
Pilu......
Dalam sukma yang melayang

Kasih.....
Semoga kau dengar
Nyanyian dukaku......

Purwokerto, 31 Desember 2004.


Aku adalah Aku

Seribu tahun boleh berubah
Setiap waktu boleh berganti
Tapi tidak dengan harapanku
Tidak dengan diriku
Yang mencintaimu
Sepanjang jaman
Yang menyayangimu
Sepanjang musim
Yang mengagungkanmu
Sepanjang waktu

Dan.....
Aku masih tetap aku
Karena......
Aku adalah aku
Meski aku sudah bukan aku lagi

Purwokerto, Akhir Desember 2004.


Lelaki Malang

Seorang lelaki....
Tenggelam dalam kelam
Terhanyut airmata dan darahnya sendiri
Terkurung dalam sunyi sepi
Terbuai dalam impian
Demi harapan semu
Yang menjadi cambuk hidupnya

Seorang lelaki
Mencoba bunuh diri.....
Karena tak lagi
Berarti....

Purwokerto, 2004.


Adhe

Mengenangmu adalah luka
Mencintaimu adalah duka
Adhe-ku sayang
Nasibku malang

Purwokerto, Akhir 2004.